BERAU TERKINI – Berawal dari kegiatan PKK pada 2017, Yuli Eka kini dikenal sebagai salah satu penggerak UMKM batik di Kabupaten Berau. 

Melalui Batik Ulin Gaya Mada yang dirintisnya, ia tidak hanya menghasilkan karya batik khas daerah, tetapi juga aktif membagikan ilmu membatik dan ecoprint kepada masyarakat hingga ke pelosok Berau.

Perjalanan Yuli di dunia batik bermula ketika tim PKK mendatangkan maestro batik dari Surabaya untuk melatih ibu-ibu PKK di Berau. 

Dari pelatihan tersebut, Yuli mulai mengenal seni membatik dan perlahan jatuh cinta pada proses kreatif yang ada di balik setiap lembar kain.

Meski demikian, ia mengaku pada awalnya tidak terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam di depan kain.

WhatsApp Image 2026 09 28 at 13.08.49

Membatik membutuhkan ketelatenan, kesabaran, dan konsentrasi tinggi. 

Namun, berkat banyak dorongan, ia terus belajar hingga akhirnya mampu mengembangkan usaha sendiri.

Nama Batik Ulin Gaya Mada dipilih sebagai identitas yang mencerminkan karakter Kalimantan. 

Ulin merupakan kayu khas Kalimantan yang terkenal kuat dan tahan lama. 

Selain menjadi simbol kekuatan, kayu ulin juga dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami yang menjadi salah satu ciri khas produk batiknya.

“Nama Gaya Mada diambil dari filosofi dahan yang tampak tenang namun menyimpan kekuatan,” tuturnya.

Filosofi tersebut menggambarkan perjalanan usaha yang dijalani dengan ketekunan dan semangat untuk terus berkembang.

Untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan, Yuli aktif mengikuti berbagai pelatihan di sejumlah sentra batik nasional, mulai dari Pekalongan, Yogyakarta, Surabaya hingga Bandung. 

Berbagai pengalaman tersebut memperkaya pengetahuan dan teknik yang kemudian diterapkannya dalam menciptakan motif-motif khas Berau.

“Di awal merintis usaha, tantangan terbesar yang dihadapi adalah persepsi masyarakat terhadap harga batik tulis yang dicap mahal,” ucapnya.

Namun, Yuli tetap optimistis karena yakin setiap karya memiliki nilai seni, proses, dan kualitas yang sepadan.

Selain batik, Yuli juga mengembangkan produk ecoprint, yakni seni mencetak motif pada kain menggunakan daun dan pewarna alami.

Ia mengaku harus melewati berbagai kegagalan sebelum berhasil menguasai teknik tersebut. 

Namun, kegigihannya membuahkan hasil hingga kini ecoprint menjadi salah satu produk unggulan yang turut dikembangkannya.

“Bahan baku batik masih banyak didatangkan dari luar daerah, kalau ecoprint justru memanfaatkan kekayaan alam yang tersedia di sekitar kita,” tegasnya. 

Berbagai jenis daun dan tanaman lokal dapat diolah menjadi motif unik yang bernilai ekonomi.

Tak hanya mengembangkan usaha, Yuli juga aktif berbagi ilmu kepada masyarakat. 

Hingga kini, ia telah memberikan pelatihan membatik dan ecoprint di 11 dari 13 kecamatan di Kabupaten Berau.

Menariknya, hampir 50 persen peserta pelatihan berasal dari masyarakat Dayak yang memiliki ketertarikan besar terhadap pengembangan kerajinan berbasis budaya dan alam.

Kegemarannya melakukan perjalanan ke berbagai wilayah pedalaman juga menjadi bagian dari proses kreatifnya. 

Dari perjalanan tersebut, Yuli kerap menemukan inspirasi baru yang kemudian dituangkan dalam motif-motif batik khas Berau. (*/Adv)