BERAU TERKINI – Dinas Pendidikan Berau tidak ingin pembelajaran Bahasa Banua hanya berhenti sebagai mata pelajaran di ruang kelas.

Lebih dari itu, Bahasa Banua diharapkan menjadi bagian dari budaya yang hidup di lingkungan sekolah melalui kebiasaan berkomunikasi sehari-hari.

Kepala Dinas Pendidikan Berau, Mardiatul Idalisah, mengatakan penerapan Bahasa Banua saat ini baru dimulai di jenjang SMP.

Namun, pemerintah daerah telah menyiapkan perluasan program ke tingkat SD mulai tahun depan agar pelestarian bahasa daerah dapat dilakukan sejak usia dini.

“Kami baru memulai dari SMP. Insya Allah tahun depan akan diterapkan juga di SD,” ujarnya.

Agar pembelajaran berjalan seragam, seluruh guru yang ditunjuk diwajibkan menggunakan modul resmi yang telah diluncurkan sebagai pedoman mengajar.

Langkah tersebut sekaligus memastikan materi yang diterima siswa memiliki standar yang sama di setiap sekolah.

Disdik Berau juga telah menunjuk koordinator serta tenaga pendidik yang akan mengampu mata pelajaran Bahasa Banua.

Saat ini, proses penyelarasan penugasan guru masih berlangsung agar sesuai dengan aturan yang berlaku.

Menurut Mardiatul, guru Bahasa Indonesia yang memiliki kemampuan atau pemahaman tentang Bahasa Banua maupun guru yang memiliki minat mengajarkan bahasa daerah dapat diberikan amanah mengajar mata pelajaran tersebut.

“Kami sedang menyesuaikan penugasan guru. Guru Bahasa Indonesia yang memahami Bahasa Banua atau memiliki minat mengajarkannya bisa ditugaskan mengampu mata pelajaran ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, tujuan utama program ini bukan hanya mengenalkan Bahasa Banua kepada peserta didik.

Tetapi juga membangun ekosistem penggunaan bahasa daerah di lingkungan sekolah.

Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga terbiasa menggunakan Bahasa Banua dalam interaksi sehari-hari.

Melalui pendekatan tersebut, Disdik Berau berharap Bahasa Banua tetap lestari dan mampu diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya Bumi Batiwakkal. (*)