BERAU TERKINI — Program bus perpustakaan keliling selalu mendapat sambutan hangat dari masyarakat, terutama anak-anak di kawasan pelosok.

Namun, keterbatasan anggaran bahan bakar minyak (BBM) menjadi kendala utama dalam memaksimalkan layanan perpustakaan keliling hingga ke wilayah kampung pedalaman.

“Antusias anak-anak dari sana sangat besar. Mereka menyambut baik ketika kami datang ke kampung-kampung,” ujarnya Kepala Bidang Pengelolaan, Layanan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau, Arliana, kepada Berauterkini, Selasa (27/10/2026).

Minimnya alokasi biaya operasional BBM membuat Dispusip terpaksa menyesuaikan rute dan menahan jangkauan ke kampung-kampung terpencil. 

Kepala Bidang Pengelolaan, Layanan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dispusip Berau, Arliana. (Adrikni/BT)
Kepala Bidang Pengelolaan, Layanan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dispusip Berau, Arliana. (Adrikni/BT)

Untuk sementara, layanan mobile ini lebih banyak difokuskan pada wilayah kecamatan yang jaraknya berdekatan.

“Kalau ada BBM, ayo ke mana saja kita. Satu liter saja sudah mahal. Asal ada uang BBM, pasti kita gas,” ungkapnya.

Selain mengandalkan bus keliling, Dispusip Berau juga mendorong penguatan program perpustakaan di 100 kampung agar masyarakat pedalaman dapat mengakses bahan bacaan tanpa harus datang ke kota.

Kendati telah didukung bantuan dan pengalokasian honor melalui Alokasi Dana Kampung (ADK), keaktifan pengelolaan perpustakaan kampung di lapangan diakui belum merata sepenuhnya.

“Sudah kita bantu, padahal ada honornya dari ADK. Tapi ya tidak semua kampung bergerak,” pungkasnya. (*)