BERAU TERKINI – Pasokan daging ayam potong di Kabupaten Berau dinilai mencukupi kebutuhan masyarakat.

Hal ini didukung meningkatnya jumlah peternak ayam yang bermitra dengan perusahaan besar, sehingga ketersediaan stok relatif terjaga dan harga cenderung stabil.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, mengatakan kondisi pasokan ayam potong saat ini bahkan memungkinkan Berau memasok kebutuhan ke sejumlah daerah lain.

“Kalau daging ayam, sebenarnya kita sudah surplus, karena sudah banyak peternak ayam yang bermitra dengan mitra besar, sehingga stok sebenarnya sudah cukup,” ujarnya.

Menurut Lita, harga daging ayam di Berau saat ini berkisar Rp35.000-40.000 per kilogram.

Kisaran harga tersebut dinilai masih relatif stabil, terlebih jika dibandingkan dengan harga di Pulau Jawa yang disebutnya berada di angka sekitar Rp35.000 per kilogram.

Pedagang telur ayam di Tanjung Redeb, Berau (Andrikni Sholikhati/BT)
Pedagang telur ayam di Tanjung Redeb, Berau. (Andrikni Sholikhati/BT)

Meski demikian, kendala pasokan terkadang terjadi akibat waktu pemeliharaan ayam yang tidak serentak.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan ayam yang tersedia belum mencapai usia panen ketika permintaan pasar meningkat.

“Kadang-kadang karena waktu pemeliharaan yang tidak serentak atau ada yang belakangan, sehingga stok ayam itu umurnya belum cukup,” jelasnya.

Lita menyebut, pasokan ayam potong di Berau sebagian besar berasal dari peternak lokal yang bermitra dengan perusahaan besar.

Bahkan, produksi tersebut mampu menjangkau pasar di luar daerah, seperti Bulungan dan Wahau.

Berbeda dengan daging ayam, ketersediaan telur ayam masih menjadi pekerjaan rumah. 

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Berau masih mendatangkan pasokan telur dari luar daerah, termasuk Sulawesi.

“Yang masih kurang itu telur. Telur kita masih kedatangan dari luar daerah,” ungkapnya.

Ketergantungan terhadap pasokan telur dari luar daerah tersebut menunjukkan pemenuhan kebutuhan pangan hewani di Berau masih menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga ketersediaan telur secara mandiri.

Karena itu, penguatan produksi telur lokal menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dengan pasokan yang lebih berkelanjutan. (*)