Penulis: Robithoh Johan Palupi (Pemimpin Redaksi Berau Terkini)
BERAU TERKINI – Entah kutukan apa yang membuat Indonesia begitu lama terpaksa selalu menahan tangis tanpa tetes air mata. Terkhusus saat berbincang soal sepak bola. Level negeri ini selalu hanya sampai batas; hampir juara.
Banyak yang sepakat, 1991 adalah waktu terakhir kejayaan Indonesia diakui bangsa di kawasan Asia Tenggara, untuk menahbiskan diri sebagai raja sepak bola.
Momen itu adalah raihan emas ajang SEA Games di Filipina. Tanggal 4 Desember 1991 terpatri, untuk terakhir mampu membahagiakan bangsa ini. Rizal Memorial Stadium, Manila, jadi saksi bisu kepantasan pasukan Anatoli Polosin merengkuh medali emas.
Kemenangan lewat drama adu penalti menghadapi Thailand adalah musababnya. Skor 4-3, menyusul hasil 0-0 selama waktu reguler dan tambahan sepanjang 120 menit, mampu dituntaskan pasukan yang dipimpin Ferril Raymond Hattu. Prestasi itu mengulang kesuksesan Indonesia jadi yang terbaik menyusul keberhasilan pada ajang yang sama di tahun 1987.
SEA Games, pesta olahraga terbesar kawasan ASEAN memang jadi ajang yang paling prestisius kala itu. Dan sepak bola adalah cabang yang selalu menyita perhatian paling besar. Sejak pertama diselenggarakan pada 1959 di Bangkok, Thailand, ajang yang dinamai Southeast Asia Peninsula Games (SEAP Games) itu, sepak bola selalu dipertandingkan.
Pada tiap gelaran, sepak bola seolah jadi yang teristimewa. Ada istilah; negara juara umum akan merasa hampa tanpa emas sepak bola. Jadilah, semua negara selalu menurunkan kekuatan terbaik pada ajang dua tahunan ini.
Alasan itu pula yang menebalkan keyakinan bahwa status raja sepak bola kawasan ASEAN terakhir diukir bangsa ini pada edisi Manila 1991.

Sebenarnya tim nasional Indonesia juga merebut emas SEA Games pada 2023 di Myanmar. Hanya saja pamor kompetisi sepak bola tidak lagi se-prestisius sebelumnya. Sejak 1996, bangsa-bangsa Asia Tenggara sepakat memutar kompetisi bertajuk ASEAN Football Federation (AFF) Cup.
Ajang ini kerap berganti title menyusul siapa sponsor utama kejuaraan. Meski belum jadi agenda federasi sepak bola dunia, kompetisi ini dianggap sebagai ajang pembuktian baru untuk bangsa-bangsa pojok tenggara Asia.
Ajang SEA Games sendiri akhirnya memodifikasi aturan. Pemain yang ikut dalam kompetisi tidak boleh berumur lebih dari 23 tahun. Kemudian aturan ini diperbaharui menjadi U-22.
Nah, pada ajang AFF ini pula, Indonesia tak pernah sekalipun mengemas prestasi. Spesialis runner-up selalu dikantongi. Enam kali melaju ke final, enam kali itu pula gagal.
Ejekan dan sindiran pun selalu terlontar. Indonesia adalah badut sepak bola Asia Tenggara. Dia hadir hanya untuk menjadi bahan tertawaan.
Paling menyakitkan tentu saja kekalahan pada final AFF Cup 2010. Indonesia dipermalukan tetangga menjengkelkan bernama Malaysia. Negeri Upin-Ipin itu menang agregat 4-2. Setelah menang 3-0 di kandang, Harimau Malaya hanya kalah 1-2 kala berlaga di Jakarta.
Momen ini pula selalu jadi bahan ejekan anak bola Negeri Jiran.
Lengkaplah sudah penderitaan Indonesia pada AFF Cup. Hingga gelaran ke-15 pada Juli-Agustus 2026, tak sekalipun negeri ini merasakan trophy. Thailand? Mereka bertakhta 7 kali. Disusul Singapura empat, Vietnam tiga kali. Dan Malaysia merasakannya sekali.
Banyak kalangan yang mengaitkan kutukan Indonesia ini bermula dari noda sejarah yang populer disebut Sepak Bola Gajah. Kala itu Indonesia dan Thailand yang berada dalam satu grup, sama-sama enggan menang.
Pasalnya, status juara grup akan mempertemukan mereka dengan tuan rumah Vietnam. Kompetisi saat itu masih dengan format home tournament. Kedua negara seolah sepakat untuk memilih Singapura di semifinal.
Kocaknya, pemain Indonesia jelang menit akhir justru dengan sengaja membobol gawang sendiri. Skor 2-2 jika masih bertahan, akan membuat Indonesia jadi juara grup. Entah ide dari mana, pemain Indonesia asal Surabaya, Mursyid Effendi, dengan sengaja mencetak gol bunuh diri.
Hasil akhir 2-3 memang menghindarkan Indonesia dari Vietnam di semifinal. Tapi keruntuhan mental akibat aksi yang mencederai semangat fair play itu seolah memulai fase kutukan bagi sepak bola negeri ini.
Singapura yang dianggap lebih lemah dari tuan rumah turnamen langsung memberikan hukuman. Kemenangan 2-1 membuat mereka melaju ke final. Dan di partai puncak, negara yang memisahkan diri dari Malaysia itu justru sanggup memecundangi Vietnam dengan kemenangan 1-0.
Indonesia sendiri keluar sebagai juara ketiga menyusul kemenangan atas Thailand setelah laga yang melewati drama adu penalti. Hanya saja, gelar itu dianggap pencapaian level sampah, mengingat sakitnya pengkhianatan yang baru saja dilakukan.
Usai turnamen, FIFA sebagai federasi tertinggi sepak bola dunia melakukan investigasi. Kedua negara sama-sama mendapat hukuman denda USD40 ribu. Dan, Mursyid Effendi juga jadi pesakitan. Larangan bermain sepak bola resmi seumur hidup jadi ganjaran setimpal. Karir profesionalnya bersama Persebaya Surabaya pun seketika berhenti.
Lengkaplah derita bagi anak-anak sepak bola negeri ini.
Dinamika sepak bola Indonesia selama hampir tiga dekade sejak momen memalukan 1998 itu seolah hanya berkutat pada masalah-masalah dan masalah. Prestasi? Jauh panggang dari api.
Kondisi ini diperburuk dengan kualitas pengelolaan kompetisi dalam negeri yang justru lebih akrab dengan berbagai tragedi. Entah itu dugaan pengaturan skor. Atau keributan antar suporter klub lokal.
Harapan merengkuh trofi perlahan muncul sejak dimulainya perburuan pemain-pemain keturunan warga Indonesia yang bermain di berbagai negeri. Para diaspora itu didekati sejak masih level kelompok umur.
Awalnya ada berbagai penolakan. Hingga akhirnya mulai banyak yang tertarik. Aksi ini secara perlahan menaikkan level permainan tim nasional.
Puncaknya, Indonesia menjadi negara kawasan ASEAN pertama yang mampu melaju hingga putaran keempat kualifikasi Piala Dunia. Itu terjadi sebelum gelaran World Cup 2026. Pencapaian itu seakan menjadi penegas bahwa negeri ini punya level kualitas melebihi para tetangga.
Meski masih dengan status; hampir sampai (juara). Setidaknya prestasi itu belum bisa digapai Thailand, Vietnam, Singapura, apalagi Malaysia. Perdebatan di media sosial pun selalu ramai dengan saling klaim jadi yang terbaik. Jagad maya seakan penuh dengan jutaan bahan untuk saling cibir.
Timnas Indonesia dituding sebagai Belanda Cabang Jakarta, mengingat banyaknya diaspora yang lahir dan besar di Negeri Kincir Angin. Netizen Vietnam dan Malaysia yang lebih sering menjadikannya bahan sindiran.
Tak mau kalah, suara dari Indonesia pun selalu menyebut jika prestasi di AFF Cup tak terlalu pantas dibanggakan. Mengingat kompetisi ini tak secara resmi diakui FIFA.
Harapan pembuktian itu akhirnya tersedia. Otoritas sepak bola dunia itu juga menyiapkan panggung kompetisi resmi. Sejak diumumkan bakal digelar pada Oktober 2026, semua seolah tak sabar membuktikan diri jadi yang terbaik.
FIFA sendiri merancang ajang ini sebagai langkah cerdas untuk mengatasi sulitnya negara-negara di ASEAN mencari lawan uji coba internasional yang sepadan. Salah satu faktornya, negara di kawasan ini secara peringkat FIFA, sebagian besar berada di luar ranking 100 besar. Hanya Thailand yang secara konsisten berada di kisaran posisi 80-90 dunia.
Status turnamen yang diakui oleh FIFA ini pula yang menjadikan klub professional wajib melepaskan pemainnya saat dipanggil membela tim nasional.
Harapannya, persaingan menjadi lebih kompetitif. Hasil pertandingan juga akan membuat nilai koefisien pemenang bertambah. Itu akan berpengaruh pada pemeringkatan posisi tiap negara.
Indonesia pun menatap ajang ini dengan kepercayaan diri tinggi. Bermodal pemain yang berkompetisi di Eropa, pasukan John Herdman diperkirakan bakal dengan mudah merengkuh juara.
Beban di pundak pelatih asal Inggris itu pun meningkat. Tekahan bertambah menyusul kegagalan pada AFF Cup 2026 kala tak mampu lolos dari fase grup.
Tujuan akhir itu akhirnya mampu diwujudkan. Meski tidak dengan prosesnya.
Indonesia pada partai puncak, Senin 5 Oktober 2026, mampu memenangi laga dramatis kontra Thailand. Laga di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, sungguh jadi laga penuh drama yang menguras emosi dan memacu sport jantung.
Hal serupa juga sudah terjadi sejak fase grup menghadapi Malaysia. Skor akhir 0-0 seolah tidak jadi gambaran jalannya pertandingan yang penuh dengan ketegangan.
Imbas skor imbang itu, muncul keharusan Tim Garuda menang besar saat laga terakhir kontra Bangladesh. Malaysia yang di waktu bersamaan mengunci kemenangan hadiah dari Singapura 6-0, memaksa Indonesia menang minimal dengan margin 7 gol.
Ternyata Bangladesh yang hadir ke kompetisi dengan status undangan, tetap memberikan perlawanan. Meski tak ada harapan untuk melaju ke final, tapi mereka tetap ngotot.
Hingga 90 menit, skor masih 7-2 bagi Indonesia. Namun di rentang waktu tambahan, Indonesia merealisasikan kemenangan yang seolah mustahil itu hanya dalam tempo dua menit.
Kemenangan itu seolah jadi titik balik dan keyakinan yang makin membuncah, jika negeri ini akan juara. Ternyata, doa dan harapan itu akhirnya dikabulkan. Indonesia untuk kali pertama merengkuh trofi dari turnamen yang secara resmi diakui FIFA.
Setelah imbang 2-2 kontra Thailand di waktu normal dan extra time, Indonesia mengunci gelar lewat adu penalti dengan kemenangan 4-2.
Semoga ini jadi awal bagi kehidupan sepak bola Indonesia yang lebih adil dan makmur. (*)
