BERAU TERKINI — Musim kemarau tak sepenuhnya menghentikan aktivitas pertanian di Kampung Tanjung Perangat, Kecamatan Sambaliung. 

Di tengah keterbatasan air, petani setempat masih mampu memanen padi dari lahan yang mendapat suplai air melalui sistem pasang surut sungai.

Dari sekitar 150 hektare lahan yang berpotensi dikembangkan menjadi areal pertanian, sekitar 20 hektare masih sempat ditanami pada musim gadu tahun ini.

Sebagian di antaranya bahkan berhasil dipanen dengan produksi sekitar 3,5 ton gabah kering per hektare.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, mengatakan keberhasilan panen tersebut menjadi hal positif di tengah kondisi kemarau yang membuat sebagian besar petani kesulitan memperoleh air.

Panen padi di Kampung Tanjung Perangat, Kecamatan Sambaliung.
Panen padi di Kampung Tanjung Perangat, Kecamatan Sambaliung.

“Sayangnya itu karena kemarau ini susah mendapatkan air,” kata Lita.

Meski demikian, kondisi pasang surut sungai menjadi salah satu faktor yang memungkinkan petani tetap mengelola sebagian lahan.

DTPHP Berau pun turut hadir dalam kegiatan syukuran panen yang digelar gabungan kelompok tani (gapoktan) setempat.

Secara simbolis, Lita ikut melakukan panen padi di lahan seluas sekitar dua hektare.

“Secara simbolis kemarin kami ikut memanen padi di lahan seluas dua hektare milik petani,” ujarnya.

Menariknya, padi yang dipanen kali ini merupakan varietas Cibatu yang didatangkan dari Bandung dan baru pertama kali dicoba ditanam di Berau.

Dengan masa tanam sekitar 110 hari, petani mulai menanam pada Juni dan baru memasuki masa panen pada September. 

Walaupun hasilnya belum menyamai produktivitas di Pulau Jawa, Lita menilai capaian 3,5 ton per hektare masih cukup baik untuk kondisi lahan di Berau.

“Produktivitasnya memang tidak sebanyak di Jawa, tetapi untuk kondisi lahan di Berau hasil 3,5 ton per hektare masih cukup baik,” katanya.

Sebagai gambaran, rata-rata produktivitas padi di Kalimantan Timur berada di kisaran lima ton per hektare. 

Sementara produksi padi di Berau umumnya berada pada kisaran tiga hingga empat ton per hektare.

Menurut Lita, perbedaan karakter lahan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produktivitas. 

Kondisi lahan pertanian di Berau tidak sepenuhnya sama dengan daerah-daerah yang menjadi sentra produksi padi di Pulau Jawa.

Setelah panen musim gadu, petani kini mulai bersiap menghadapi musim tanam berikutnya. 

Musim rendengan umumnya berlangsung mulai Oktober hingga Desember, namun jadwal tanam akan sangat bergantung pada kondisi hujan dan ketersediaan air.

“Kita melihat musim hujan. Mungkin bergeser Oktober atau November baru tanam,” jelasnya.

Untuk mendukung petani, DTPHP Berau juga menyerahkan bantuan berupa lima kilogram benih padi serta obat pengendali hama.

Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan sekaligus apresiasi kepada petani yang tetap berupaya berproduksi meski menghadapi keterbatasan air.

Lita berharap keberhasilan panen di tengah kemarau dapat menjadi penyemangat bagi petani Tanjung Perangat untuk kembali mengolah lahannya pada musim tanam berikutnya.

Potensi lahan sekitar 150 hektare yang dimiliki Tanjung Perangat juga diharapkan secara bertahap dapat dimanfaatkan untuk memperkuat produksi pangan sekaligus mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Berau. (*)