BERAU TERKINI – Pagi di kebun menjadi bagian dari keseharian Nursalim. Dia adalah satu dari sekian banyak petani kakao di Kampung Maluang, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau.

Di antara barisan tanaman kakao yang tumbuh subur, pria berusia 40 tahun itu tampak memangkas ranting dan merawat tanaman yang perlahan mulai menunjukkan hasil.

Kebun itu bukan sekadar lahan tempat menanam. Bagi Nursalim, kebun menjadi tempat menggantungkan kehidupan keluarganya bersama istri dan tiga anak perempuannya.

Di sisi kebun, sebuah rumah panggung sederhana berdiri. Di sanalah keluarga kecil itu menjalani kehidupan. Sementara sebagian besar waktu Nursalim dihabiskan dengan mengolah lahan.

Lebih dari dua dekade, Nursalim telah menggantungkan hidup dari bertani. Berbagai tanaman hortikultura pernah ia budidayakan. 

Kakao pun sebenarnya bukan komoditas baru baginya. Namun, keterbatasan modal membuat keinginannya mengembangkan tanaman kakao sempat terhenti.

“Selama saya bertani sering menanam hortikultura. Pernah juga kakao, tetapi karena keterbatasan modal dan tidak bisa membeli bibit, saya lebih banyak bertani sayur-sayuran,” tuturnya.

Nursalim bersama manajemen PT Berau Coal saat berada di kebun kakao miliknya.
Nursalim bersama manajemen PT Berau Coal saat berada di kebun kakao miliknya.

Harapan itu kembali tumbuh pada medio 2025. Nursalim menjadi salah satu petani yang mengikuti Program Pengembangan Kakao, bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Berau Coal, pada pilar ekonomi.

Program tersebut diarahkan untuk mendukung transformasi ekonomi pasca tambang, sekaligus mendorong pengembangan kakao sebagai salah satu komoditas unggulan Kabupaten Berau.

Melalui program itu, Nursalim mendapatkan 800 bibit kakao, pupuk, dolomit, obat pengendali hama hingga kompos. 

Ia juga memperoleh bibit alpukat, kelapa, dan petai yang ditanam sebagai tanaman penaung.

Tak hanya sarana produksi. Nursalim juga mendapatkan kesempatan mengikuti sekolah lapang kakao untuk mempelajari teknik budidaya dan perawatan tanaman.

Bagi Nursalim, dukungan tersebut menjadi kesempatan yang sebelumnya sulit ia dapatkan.

“Saya sangat terbantu dengan adanya bantuan dari Berau Coal. Kami yang termasuk petani golongan bawah belum mampu untuk membeli bibit kakao, pupuk, dan lain-lain,” katanya.

Sepuluh bulan berlalu, barisan tanaman kakao di kebun Nursalim kini tumbuh subur. Beberapa tanaman bahkan mulai mengeluarkan buah.

Namun, buah yang muncul pada tanaman muda itu harus dipangkas. Bukan karena gagal tumbuh, melainkan karena batang kakao masih belum cukup kuat untuk menopang buah.

Bagi Nursalim, kondisi tersebut justru menjadi tanda tanaman yang dirawatnya berkembang dengan baik.

Sambil menunggu kakao memasuki masa produktif, ia tidak membiarkan lahan setengah hektare miliknya menganggur.

Benih jagung yang diberikan melalui program pendampingan kembali dimanfaatkan. 

Jagung ditanam di sela pengembangan kebun kakao. Selain membantu menjadi bagian dari tanaman penaung, jagung juga menjadi sumber pendapatan sementara bagi keluarga.

Hasilnya cukup membantu. Dalam kurun 10 bulan, Nursalim sudah empat kali memanen jagung. Setiap panen menghasilkan sekitar 40 karung.

“Dari menanam jagung saja, dalam 10 bulan ini saya sudah empat kali panen, menghasilkan sekitar 40 karung jagung dalam satu kali panen. Ini sangat membantu ekonomi keluarga saya,” ungkapnya.

Bagi Nursalim, bertani bukan sekadar menanam lalu memanen. Ia mencoba membangun pola pertanian yang setiap bagiannya dapat saling mendukung.

Di kebunnya, ia menerapkan konsep pertanian terpadu atau integrated farming dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Ia memelihara kambing milik tetangganya. Kotoran kambing dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman kakao, sementara daun dari tanaman penaung dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

“Jadi saling berkesinambungan, sehingga kami tidak bergantung pada pupuk kimia,” jelasnya.

Tak berhenti di tanaman dan ternak, Nursalim juga mengembangkan budidaya lele jumbo.

Dari bantuan awal 1.000 benih lele yang diberikan PT Berau Coal, ia mengembangkan ikan tersebut hingga kemudian dijual. Sebagian hasil penjualan digunakan untuk membeli pakan sekaligus menambah jumlah benih.

Dari 1.000 benih awal, kini ia telah menambah sekitar 3.500 bibit ikan.

Bagi Nursalim, di situlah arti penting sebuah bantuan. Menurutnya, bantuan akan lebih berarti jika bisa dikembangkan hingga penerima mampu berjalan sendiri.

“Kalau kita konsisten, sebenarnya bantuan itu cukup sekali diberikan dan kita bisa kembangkan sendiri, tidak harus dibantu terus-menerus,” ujarnya.

Di balik kebun kakao yang mulai menghijau, Nursalim sebenarnya sedang menanam sesuatu yang lebih besar, yakni kemandirian.

Ia mengaku bersyukur mendapat pendampingan selama proses pengembangan kakao. Pendampingan tidak hanya diberikan saat bibit diserahkan, tetapi berlanjut melalui pemantauan pertumbuhan tanaman dan kebutuhan petani di lapangan.

“Alhamdulillah, terima kasih PT Berau Coal untuk pendampingannya luar biasa. Tim lapangan yang memantau pertumbuhan kakao, memantau kebutuhan kami para petani selama masa pengembangan kakao ini,” ujarnya.

Ia berharap pendampingan tersebut dapat terus berjalan hingga petani mampu menghasilkan dan berdiri secara mandiri.

Nursalim percaya, Berau memiliki modal alam yang cukup untuk mengembangkan kakao. 

Ia merasakan sendiri bagaimana tanaman kakao yang baru berusia 10 bulan sudah menunjukkan pertumbuhan yang menurutnya cukup baik.

Pengalaman bertani di luar Berau membuatnya bisa membandingkan pertumbuhan tersebut.

“Sepengalaman saya di luar Berau, 10 bulan masa tanam kakao itu tidak seperti ini pertumbuhannya. Namun, di Berau 10 bulan kakao bisa tumbuh lebih cepat. Selain faktor konsisten, faktor kondisi tanah di Berau sangat mendukung untuk budidaya kakao,” terangnya.

Kini, ia hanya perlu menunggu waktu hingga tanaman-tanaman kakao tersebut memasuki masa produktif.

Sembari menunggu, jagung tetap dipanen, ikan terus dikembangkan, dan siklus pertanian terpadu terus berjalan.

Dari sebuah kebun sederhana di Kampung Maluang, Nursalim tidak hanya menanam kakao. Ia sedang membangun cara untuk membuat lahan tetap hidup, keluarga tetap memiliki penghasilan, dan bantuan yang diterimanya perlahan berubah menjadi kemampuan untuk berdiri sendiri.

Ia pun mengajak masyarakat Berau lainnya untuk tidak ragu memulai budidaya kakao.

“Peluang itu terbuka selama dijalankan dengan tekun, konsisten, dan mau terus belajar,” pungkasnya. (*/Adv)