BERAU TERKINI – Momentum Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dimanfaatkan Bupati Sri Juniarsih Mas untuk mengajak seluruh masyarakat memperkuat solidaritas dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah.
Dalam sambutannya pada Rapat Paripurna DPRD Berau, Senin (14/9/2026), Sri Juniarsih menegaskan, persoalan karhutla bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, saat kabut asap menyelimuti wilayah Berau, yang terdampak bukan hanya lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga proses belajar anak-anak.
“Pemerintah daerah tidak pernah diam. Kami memahami bahwa di balik kabut asap ada keresahan masyarakat. Ada orang tua yang khawatir terhadap kesehatan anak-anaknya, ada aktivitas masyarakat yang terganggu, dan ada pula pelaku usaha yang harus menyesuaikan kegiatan mereka,” ujarnya.

Karena itu, Pemkab Berau mengambil berbagai langkah mitigasi, mulai dari penerapan Belajar Dari Rumah (BDR) saat kualitas udara memburuk, hingga koordinasi dengan pemerintah pusat untuk memperkuat penanganan karhutla.
Sri Juniarsih mengungkapkan, dirinya juga telah berkoordinasi langsung dengan Menteri Kehutanan guna menyampaikan kondisi yang dihadapi Berau serta mendorong dukungan yang lebih maksimal dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Meski demikian, ia menilai upaya pemerintah tidak akan optimal tanpa dukungan masyarakat.
Ia mengajak warga untuk tidak melakukan pembakaran lahan, segera melaporkan titik api yang ditemukan, serta menjaga suasana tetap kondusif.
Dalam kesempatan tersebut, Sri Juniarsih menekankan, peringatan hari jadi daerah harus dimaknai lebih dari sekadar perayaan.
Menurutnya, kecintaan terhadap Berau dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan semangat gotong royong saat daerah menghadapi tantangan.
“Di usia Kabupaten Berau yang ke-73 ini, kita diingatkan untuk mencintai Berau dengan cara yang berbeda. Bukan hanya bangga terhadap kekayaan alam yang kita miliki, tetapi juga hadir dan saling bergandeng tangan ketika menghadapi persoalan, bukan saling menyalahkan,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan, yang dipertaruhkan dalam penanganan karhutla bukan hanya kelestarian hutan, melainkan juga kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan masa depan generasi muda Berau. (*)
