BERAU TERKINI – Peringatan Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan Hari Ulang Tahun ke-216 Kota Tanjung Redeb menjadi momentum refleksi bagi Pemerintah Kabupaten Berau. 

Di tengah perayaan hari jadi tahun ini, Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menyoroti tantangan yang tengah dihadapi Berau akibat musim kemarau panjang yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal tersebut disampaikan Sri Juniarsih dalam Rapat Paripurna DPRD Berau Tahun 2026 dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan ke-216 Kota Tanjung Redeb.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Berau, saya mengucapkan Selamat Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan Selamat Hari Ulang Tahun ke-216 Kota Tanjung Redeb. Saya berharap momentum bertambahnya usia daerah kita tercinta ini menjadikan kita semakin tumbuh menjadi daerah yang maju, unggul, berkelanjutan, makmur dan sejahtera,” ujarnya, Senin (14/9/2026).

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, memberikan sambutan pada Sidang Paripurna Hari Jadi Ke-73 Kabupaten Berau dan ke-216 Tanjung Redeb di Gedung DPRD Berau, Senin (14/9/2026). (Diva/BT)
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, memberikan sambutan pada Sidang Paripurna Hari Jadi Ke-73 Kabupaten Berau dan ke-216 Tanjung Redeb di Gedung DPRD Berau, Senin (14/9/2026). (Diva/BT)

Namun di balik peringatan hari jadi tersebut, Sri Juniarsih mengingatkan, Berau saat ini masih menghadapi kondisi yang tidak mudah.

Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang meningkatkan risiko karhutla dan memunculkan kabut asap di sejumlah wilayah.

Menurutnya, kondisi sempat berada pada tahap yang cukup mengkhawatirkan. 

Berdasarkan data per 29 Agustus 2026, jumlah titik panas (hotspot) di Berau mencapai 779 titik atau yang tertinggi di Kalimantan Timur saat itu.

Meski demikian, perkembangan positif mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir. 

Berdasarkan data BMKG Kalimantan Timur per 9 September 2026, jumlah hotspot di Berau turun drastis menjadi 50 titik. 

Angka tersebut menempatkan Berau di posisi kedua terbanyak setelah Kutai Kartanegara yang mencatatkan 64 titik panas.

“Ini menunjukkan adanya penurunan yang cukup signifikan dibandingkan kondisi beberapa hari sebelumnya ketika kebakaran hutan dan lahan sedang meluas,” katanya.

Dari total 50 titik panas yang terdeteksi, empat titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 45 titik tingkat kepercayaan menengah, dan satu titik tingkat kepercayaan tinggi.

Sri Juniarsih juga menyebut hujan mulai turun di sejumlah wilayah Berau, meski intensitasnya masih ringan dan belum merata.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kabar baik karena membantu menurunkan suhu dan meningkatkan kelembapan tanah.

“Hujan sekecil apa pun adalah rahmat dan keberkahan. Hujan membantu menurunkan panas, memberikan kelembapan bagi tanah, dan sedikit demi sedikit membantu kita keluar dari kondisi yang sulit ini,” ungkapnya.

Meski terjadi penurunan jumlah hotspot, ia menegaskan seluruh pihak tidak boleh lengah. Kondisi tanah yang masih kering dan kelembapan yang dinamis berpotensi memunculkan kembali titik-titik api.

Karena itu, Pemkab Berau terus mengerahkan berbagai upaya penanganan bersama BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan swasta, serta unsur terkait lainnya.

“Tim gabungan tetap kita siagakan dan upaya penanganan terus dilakukan. Pemadaman dilakukan, titik-titik api dipantau, termasuk melalui dukungan water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca,” tegasnya.

Dirinya juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.

Sehingga, peringatan Hari Jadi Berau tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga penguat semangat gotong royong menghadapi berbagai tantangan daerah. (*/Adv)