BERAU TERKINI – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Berau menunjukkan peningkatan signifikan di tengah kondisi kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengungkapkan, kenaikan kasus ISPA tersebut ditemukan saat melakukan pemantauan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Dari dua puskesmas yang didatangi, yaitu Puskesmas Kampung Bugis dan Puskesmas Tanjung Redeb, kasus ISPA disebut mengalami peningkatan hingga hampir tiga kali lipat dibandingkan kondisi biasanya.

“Dua puskesmas yang kita datangi itu hampir rata terjadi kenaikan tiga kali lipat dari kasus ISPA biasanya,” ujar Gamalis.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat meninjau Puskemas Kampung Bugis. (Diva/BT)
Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat meninjau Puskemas Kampung Bugis. (Diva/BT)

Menurutnya, peningkatan tersebut juga terlihat dari posisi ISPA dalam daftar penyakit yang paling banyak ditangani.

Sebelumnya, ISPA berada di peringkat kesembilan dari sepuluh besar penyakit, kini posisinya naik menjadi peringkat kedua setelah hipertensi.

Gamalis menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan kasus ISPA yang berkaitan dengan kabut asap yang terjadi di Berau.

Indikasi memburuknya kualitas udara juga terlihat dari hasil pengukuran partikulat PM2.5 dan PM10. 

Gamalis menyebut kadar PM2.5 yang biasanya berada pada angka sekitar 25, kini telah mencapai sekitar 85 per hari.

“Artinya ini terjadi kecenderungan ISPA sebagai penyakit penduduk dengan adanya kabut asap. Itu kenapa saya sampaikan adanya kabut asap,” katanya.

Dari pemantauan di lapangan, sejumlah pasien ISPA juga mulai ditemukan, terutama masyarakat yang memiliki penyakit bawaan seperti asma yang dinilai lebih rentan terhadap paparan asap.

Gamalis menyebut kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius. 

Meski demikian, dari sisi pelayanan kesehatan, pemerintah daerah memastikan ketersediaan obat-obatan dan oksigen masih mencukupi.

“Kalau ketersediaan obat alhamdulillah, khususnya dari segi oksigen dan sebagainya masih dapat mencukupi,” jelasnya.

Pemerintah daerah juga terus memantau ketersediaan tabung oksigen di puskesmas maupun rumah sakit. 

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan oksigen dapat segera dipenuhi apabila terjadi peningkatan pasien yang membutuhkan penanganan medis.

Selain obat-obatan dan oksigen, Gamalis memastikan puskesmas telah disiagakan untuk menghadapi kondisi kesehatan masyarakat akibat kabut asap.

Namun, ia menegaskan penanganan dampak kabut asap tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. 

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan dengan mengurangi paparan asap.

“Saya juga mengimbau warga masyarakat kita pakai masker. Jangan lupakan masker dan aktivitas di luar pun sedikit kita kurangi,” pungkasnya. (*)