BERAU TERKINI – Memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta musim kemarau di Kabupaten Berau memaksa Dinas Pendidikan mengambil langkah tegas.
Seluruh satuan pendidikan diimbau untuk menerapkan sistem Belajar Dari Rumah (BDR) selama lima hari guna melindungi kesehatan para siswa.
Kepala Dinas Pendidikan Berau, Mardiatul Idalisah, mengungkapkan, keputusan BDR diambil berdasarkan hasil analisis dan pemeriksaan sampel kualitas udara oleh Dinas Kesehatan serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Hasil pengujian menunjukkan, paparan udara, khususnya di dalam ruang kelas, telah melebihi batas kewajaran.
“Kondisi udara di dalam ruang kelas sudah di atas ambang batas. Beda dengan kita yang hanya mengetik, guru dan siswa di kelas harus bersuara dan banyak beraktivitas, sehingga risiko terpapar udara buruk jauh lebih tinggi,” ujar Mardiatul, Senin (24/8/2026).

Ia menjelaskan, BDR diterapkan secara darurat layaknya masa pandemi.
Proses pembelajaran difasilitasi melalui pemberian tugas daring hingga pembagian buku pelajaran sekolah untuk dibawa pulang ke rumah.
Meskipun edaran BDR berlaku secara menyeluruh, Mardiatul menegaskan, penerapannya di lapangan tetap memperhatikan kondisi wilayah masing-masing.
Untuk daerah yang tidak terdampak parah oleh kabut asap, seperti Kepulauan Derawan atau Maratua, pihak sekolah diberi kewenangan untuk menyesuaikan kebijakan operasional.
“BDR ini sebenarnya sekolah bisa menentukan secara fleksibel sesuai kondisi kawasan. Jika kualitas udara di wilayahnya aman, sekolah bisa beroperasi normal atau menerapkan kewajiban penggunaan masker bagi para siswa,” jelasnya.
Langkah pencegahan ini dinilai krusial mengingat tingginya laporan kasus gangguan kesehatan pada anak-anak.
Sejumlah sekolah dan masyarakat telah melaporkan munculnya gejala penyakit akibat asap, mulai dari batuk-batuk, ISPA, hingga infeksi mulut dan sesak napas pada anak-anak.
Kebijakan BDR ini dijadwalkan berlangsung selama lima hari sejak diterbitkannya edaran.
Pihak Dinas Pendidikan akan terus mengevaluasi perkembangan kualitas udara bersama tim Satgas Karhutla sebelum memutuskan pengembalian aktivitas belajar tatap muka secara penuh di sekolah. (*)
