BERAU TERKINI – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Berau memicu krisis air bersih bagi sekitar 1.000 jiwa warga di Kelurahan Gunung Tabur. 

Mengeringnya aliran sungai dan parit memaksa warga lima wilayah, yakni RT 7, 9, 12, 14, dan 17 bertahan di tengah keterbatasan pasokan air harian.

Lurah Gunung Tabur, Achmad Rizali, membeberkan, sumber air warga kini tak lagi dapat digunakan.

“Kondisi ini dialami warga selama musim kemarau. Sungai-sungai di sekitar pemukiman mengering. Kalaupun masih ada airnya, kondisinya keruh dan tidak bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkap Rizali.

Untuk merespons kondisi tersebut, pihak kelurahan bersama Muspika, Polres Berau, dan TNI menggalakkan pengerahan bantuan air bersih secara berkala.

WhatsApp Image 2026 08 20 at 14.28.06 2 e1787215991906

“Untuk musim kemarau sekarang, kami sudah tiga kali melakukan penyaluran. Sekali bantuan dari Polres, sekali dari Danramil, dan kali ini kami dari pihak kelurahan bersama Muspika,” jelasnya.

Meski demikian, penyaluran bantuan terganjal keterbatasan kapasitas armada tangki Damkar yang hanya mampu memuat 5.000 liter air.

“Karena kapasitas unit armada kita terbatas 5.000 liter, sekali pengantaran itu paling bisa memenuhi kebutuhan sekitar 10-12 rumah saja,” ujar Rizali.

Dampak kekeringan ini dirasakan langsung oleh Sultan, warga RT 9 Kelurahan Gunung Tabur, yang mengaku sumber air parit yang biasa diandalkan keluarganya kini telah mengering total.

“Sudah lama susah air, mulai dari kemarau. Sehari-hari biasanya pakai air parit, tapi sekarang air paritnya juga sudah kering dan tinggal sedikit,” tutur Sultan.

Ia pun mengaku lega dan bersyukur saat petugas gabungan datang menyuplai bantuan air bersih sebanyak setengah tandon atau sekitar 600 liter ke rumahnya.

“Hari ini dapat bantuan air, ada sekitar setengah tandon (600 liter). Sangat membantu untuk kebutuhan harian di rumah,” ungkapnya.

Warga berharap aksi tanggap darurat pasokan air bersih dari pemerintah daerah dan aparat gabungan terus bergulir konsisten hingga musim penghujan tiba. (*)