BERAU TERKINI – Kekeringan yang terjadi di Kabupaten Berau mulai berdampak terhadap kondisi habitat dan ketersediaan pakan alami Orangutan.
Minimnya buah, bunga, dan dedaunan di hutan dikhawatirkan mendorong Orangutan keluar dari habitatnya untuk mencari sumber makanan.
Manajer Komunikasi Centre for Orangutan Protection (COP), Wahyuni, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian, terlebih saat musim kering juga disertai dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Pakan alami menjadi sangat minim, buah-buahan hutan tidak ada, bunga bahkan dedaunan juga mengering,” kata Wahyuni.

Menurutnya, Orangutan liar memiliki kemampuan beradaptasi dan insting yang cukup baik.
Namun, apabila kekeringan berlangsung dalam waktu panjang, satwa tersebut berpotensi keluar dari kawasan hutan untuk mencari makanan.
Kondisi itu dinilai meningkatkan risiko Orangutan masuk ke area yang sedang dibuka untuk ladang, termasuk kawasan yang menggunakan metode pembakaran lahan.
“Jika kekeringan ini terus berlanjut, akan semakin mendesak Orangutan keluar hutan dan mendekati lahan yang akan dibuka sebagai ladang yang saat ini sedang masa bakar lahan. Mungkin saja Orangutan akan terjebak,” ujarnya.
Ancaman karhutla juga terjadi di sekitar kawasan pusat rehabilitasi Orangutan BORA yang berada di KHDTK Labanan.
Pada 8-16 Agustus 2026, tim COP bersama Manggala Agni dan BP2SDM melakukan pemadaman kebakaran di kawasan Hutan Labanan.
Wahyuni menyebut, titik api berada sekitar 1,3 kilometer dari kandang Orangutan bernama Ambon yang masih menjalani proses rehabilitasi.
“Kami beruntung, angin tidak berhembus menuju pusat rehabilitasi. Kalau menuju ke sana tentu bisa memperparah kondisi,” katanya.
Proses pemadaman juga menghadapi sejumlah kendala. Untuk menangani kebakaran seluas sekitar satu hektare, tim membutuhkan waktu hingga lima jam karena akses menuju lokasi dan keterbatasan peralatan serta personel.
Pada saat yang sama, sebagian personel juga dikerahkan untuk menangani kebakaran di wilayah Tumbit Melayu.
Selain mengancam Orangutan liar, kekeringan turut memengaruhi kondisi habitat sekolah hutan tempat Ambon menjalani rehabilitasi.
Ketersediaan pakan alami di kawasan tersebut menurun, sementara vegetasi mulai mengering.
“Lokasi sekolah hutan menjadi sangat kering, minim buah-buahan, bunga hingga dedaunan yang dimakan pun menjadi layu serta kering,” jelas Wahyuni.

Menurutnya, kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dapat memperbesar risiko terhadap Orangutan.
Satwa yang tidak sempat menyelamatkan diri berpotensi mati, sedangkan Orangutan yang berhasil bertahan dapat mengalami luka bakar maupun gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Untuk mengantisipasi kemungkinan kebakaran kembali mendekati pusat rehabilitasi, COP tetap melakukan patroli meski titik api telah berhasil dipadamkan.
COP juga menyiapkan langkah evakuasi terhadap Ambon apabila api kembali mendekat atau kualitas udara di kawasan rehabilitasi menurun.
“Seperti mempersiapkan kandang angkut, medis dan personel untuk evakuasi,” katanya.
Sementara itu, penanganan karhutla di kawasan tersebut dilakukan bersama tim dan relawan yang disiagakan untuk patroli, pemadaman hingga proses pendinginan apabila kembali ditemukan titik api. (*)
