BERAU TERKINI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau memastikan fenomena El Nino yang memicu suhu panas ekstrem belum sampai menimbulkan krisis air bersih maupun kekeringan di sektor pertanian.
Kepala BPBD Berau, Masyhadi Muhdi, menjelaskan, dampak El Nino biasanya diawali oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta gangguan kabut asap.
Kekeringan parah hingga gagal panen merupakan dampak turunan di tahap akhir.
“Dari sisi pertanian akan ada gagal panen. Tapi itu belum terjadi dan belum ada laporannya,” ungkap Masyhadi kepada Berauterkini.
Saat ini, fokus utama BPBD berada pada penanggulangan Karhutla. Sebab, ketersediaan air menjadi salah satu kendala vital dalam proses pemadaman di lapangan.
Masyhadi menyebut maraknya karhutla dominan dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan, di samping faktor kelalaian seperti puntung rokok dan pembakaran sampah yang tertiup angin kencang.
“Tapi tidak pernah kita tangkap. Kita tahunya menanggulangi kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
Mengingat Berau pernah melampaui krisis air bersih pada El Nino 2019, terutama di kawasan rawan seperti Paribau dan Kampung Maluang, Gunung Tabur, BPBD mengklaim telah berkoordinasi dengan Perumda Air Minum Batiwakkal untuk skenario pendistribusian air bersih jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
“Kita bisa mengambil ke PDAM langsung,” singkatnya.
Masyhadi pun meminta seluruh camat dan lurah di Berau tetap mengawasi potensi titik api tanpa terkecuali, meski lima kecamatan telah ditetapkan berstatus hotspot tertinggi.
“Kita tidak bisa memastikan atau menetapkan hanya kecamatan A yang rawan. Itu tergantung dengan tingkat cuaca yang setiap hari juga berubah-ubah,” pungkasnya. (*)
