BERAU TERKINI – Di balik Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur, terhampar kebun kopi liberika yang dirintis oleh Abdul Rahman Ismail alias Ari.
Pria asal Sulawesi Barat ini memutuskan beralih arah dari dunia pertambangan yang digelutinya sejak 2001 hingga 2019 demi berkontribusi pada sektor perkebunan Berau.
Didorong rasa prihatin dan semangat menyelamatkan varietas kopi lokal asal Talisayan yang mulai langka sejak 1989, Ari memanfaatkan uang pesangon tambangnya untuk mulai menanam liberika secara bertahap pada 2019.
“Pertamanya adalah penyelamatan kopi yang ada di Talisayan. Karena bentuk keprihatinan kita bagaimana melestarikan kopi yang ada di Talisayan itu tetap ada di Berau,” ungkap Ari kepada Berauterkini, Sabtu (25/7/2026).
Ari menilai liberika adalah jenis kopi yang tahan banting karena mampu tumbuh optimal di dataran rendah (0–750 mdpl) dan iklim panas khas Kalimantan.
“Kemudian yang ketiga kita bikin Berau punya kopi sendiri,” ujarnya.
Untuk memperkenalkan produknya, Ari membuka Kedai Kanne Kopi di dekat area kebun.
Kerap dijadikan cenderamata hingga dipasarkan via media sosial, kopi produksinya kini bahkan telah menembus jaringan perhotelan.
“Secara pasar lumayan bagus lah. Kemarin terakhir kita udah join Hotel Mercure,” tuturnya.
Meski begitu, ia mengaku masih membatasi ruang ekspor karena ingin memperkuat fondasi dan kuota produksi di tingkat lokal terlebih dahulu.
“Namanya ekspor kan dia ada kuota, Insya Allah kita akan bergerak dulu di bawah sebagai dasar,” jelas Ari.
Kini, dengan pendampingan dari Sekolah Tani Indonesia dan dukungan pemerintah, ia berharap gerakan gotong royong antarpetani bisa terus bergulir agar pengusaha kedai di Berau tak lagi bergantung pada pasokan luar daerah.
“Tentunya harapannya adalah ayo kita gotong royong, ayo kita bangun bersama supaya Berau ke depan punya kopi sendiri,” tutupnya. (*)
