BERAU TERKINI – Maraknya anak-anak di bawah umur yang berjualan keliling di sejumlah pusat keramaian Kabupaten Berau mendapat sorotan dari Wakil Bupati Gamalis.
Gamalis meminta instansi terkait segera mengambil langkah tegas dan humanis untuk menertibkan praktik tersebut karena dikhawatirkan mengarah pada eksploitasi anak.
Fenomena anak-anak yang menawarkan dagangan dari meja ke meja di warung makan, kafe, hingga ruang publik dinilai semakin sering terjadi.
Tidak hanya menjadi perhatian pemerintah, keberadaan mereka juga kerap dikeluhkan sebagian masyarakat karena dianggap mengganggu kenyamanan pengunjung.

Gamalis menegaskan kondisi ekonomi yang sedang sulit tidak bisa dijadikan alasan untuk membiarkan anak-anak turun ke jalan mencari penghasilan.
“Apapun alasannya, kita tidak bisa membenarkan anak-anak harus berjualan keliling. Mereka masih usia anak, bukan usia bekerja. Jangan sampai kondisi ini dianggap biasa,” kata Gamalis kepada Berauterkini, Jumat (19/6/2026).
Menurut Gamalis, dari pengamatannya di lapangan, sebagian anak yang berjualan terlihat sudah terbiasa menawarkan barang dagangan kepada masyarakat.
Bahkan, cara mereka menawarkan produk dinilai cukup terlatih, sehingga memunculkan dugaan adanya keterlibatan orang dewasa yang mengarahkan aktivitas tersebut.
“Kalau kita lihat, mereka sudah terbiasa menawarkan dagangan. Seolah-olah sudah dilatih dari rumah bagaimana menjual dan memasarkan barang. Ini yang perlu menjadi perhatian serius,” ujarnya.
Ia menilai, apabila dalam satu keluarga masih terdapat orang tua atau anggota keluarga yang lebih dewasa dan mampu bekerja, maka beban mencari penghasilan seharusnya tidak diserahkan kepada anak.
Karena itu, ia meminta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turun langsung melakukan pendataan, pembinaan, sekaligus pengawasan terhadap anak-anak yang masih berkeliaran menjual dagangan di tempat umum.
“Jangan sampai anak-anak kita kehilangan haknya untuk bermain, belajar, dan tumbuh dengan baik karena harus mencari uang di jalanan. Ini yang harus dicegah,” tegasnya.
Ia menegaskan penanganan harus dilakukan secara persuasif dan menyentuh akar persoalan, termasuk memberikan edukasi kepada orang tua agar tidak melibatkan anak dalam aktivitas ekonomi yang berpotensi mengganggu tumbuh kembang mereka.
“Kalau memang ditemukan praktik yang mengarah pada eksploitasi anak, tentu harus menjadi perhatian serius. Kita ingin anak-anak Berau berada di lingkungan yang aman dan fokus pada pendidikan, bukan berjualan di jalan atau mendatangi pengunjung dari satu tempat ke tempat lain,” pungkasnya. (*)
