BERAU TERKINI — Perumda Air Minum Batiwakkal menyatakan hingga saat ini belum bisa menjangkau wilayah Pulau Maratua.
Masalah ketiadaan infrastruktur dasar dan keterbatasan sumber daya menjadi tembok penghalang utama di lapangan.
Direktur Perumda Batiwakkal, Saipul Rahman, mengaku turut prihatin dengan kondisi krisis air bersih yang sedang melanda masyarakat Maratua saat ini.
Menurutnya, pemenuhan pasokan air bersih sejatinya merupakan kebutuhan mendasar manusia yang sifatnya mutlak dan tidak dapat digantikan oleh apa pun.

Ia menjelaskan, sebenarnya sudah pernah ada upaya nyata dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Namun, faktor keterbatasan anggaran daerah menjadi kendala besar, sehingga program pemenuhan air bersih di sana belum bisa segera dioptimalkan dengan baik.
“Karena dana yang dibutuhkan sangat besar, kami berharap juga agar ini menjadi perhatian pemerintah provinsi dan pusat agar bersama mengatasi permasalahan ini,” ungkapnya kepada Berauterkini, Rabu (20/5/2026).
Saipul menambahkan, alasan Perumda Batiwakkal belum masuk ke Maratua karena belum tersedianya fasilitas instalasi teknis yang mumpuni.
Kondisi jaringan pipa dan suplai di pulau terluar tersebut dinilai belum siap serta belum masuk dalam kategori layak secara hitungan bisnis bagi perusahaan daerah.
Perumda Batiwakkal sebenarnya sudah sering dilibatkan dan diminta pemerintah daerah untuk memberikan masukan teknis mengenai opsi-opsi pemenuhan air.
Namun, berdasarkan hasil kajian, hambatan terbesar yang selalu mengganjal rencana eksekusi di lapangan tetap bermuara pada kebutuhan pendanaan yang sangat besar.
“Saat ini, Perumda Batiwakkal belum masuk ke Maratua karena belum ada instalasi yang bisa kami kelola dan layak secara bisnis,” ungkapnya.
Saipul mengatakan, mengelola operasional distribusi air bersih di wilayah kepulauan tidak semudah yang dibayangkan kebanyakan orang awam.
Realitas teknis di lapangan sangat rumit dan penuh tantangan geografis, sehingga prosesnya tidak bisa disamakan dengan sistem penyedotan air tanah biasa pada umumnya.
“Mengelola air bersih tidak sesederhana yang diduga banyak orang awam. Sering kami dengar ungkapan “tinggal sedot saja kok susah”, padahal kenyataannya memang tidak semudah yang dibayangkan orang,” jelasnya.
Perumda Batiwakkal menyatakan sangat siap untuk segera masuk dan mengambil alih tata kelola air bersih di Maratua jika sudah mendapat perintah resmi.
Namun, ia mewanti-wanti, jika wilayah yang akan dikelola secara teknis memang belum siap, maka kendala operasional akan terus berdatangan tanpa henti.
“Kami insya Allah siap aja masuk mengelola jika diamanatkan. Tapi jika yang dikelola masih belum siap tentu kendala masih tetap ada,” katanya.
Ia mengakui, Pulau Maratua sendiri hingga detik ini belum memiliki fasilitas bangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang representatif.
Kondisi ketiadaan bangunan pengolahan tersebut pada akhirnya diperparah dengan sangat minimnya ketersediaan cadangan air baku alami di dalam pulau.
“Di Maratua kita masih kekurangan air baku. Ini masalah utamanya,” tandas Saipul. (*)
