BERAU TERKINI — Kondisi cuaca di Berau mulai menunjukkan tanda-tanda peralihan signifikan menuju musim kemarau.

Perubahan siklus alam ini secara otomatis memicu alarm kewaspadaan terhadap potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karhutla kerap melanda saat suhu udara meningkat dan intensitas curah hujan mulai menurun drastis.

Anggota Komisi I DPRD Berau, Thamrin, mengimbau seluruh lapisan masyarakat meningkatkan kehati-hatian selama musim kemarau berlangsung.

Salah satu poin krusialnya adalah larangan keras bagi para pembuka lahan pertanian atau perkebunan menggunakan metode pembakaran konvensional yang rentan meluas tanpa kendali.

“Berdasarkan laporan BMKG, wilayah Berau sudah mulai memasuki musim kemarau. Kami minta masyarakat, terutama yang tinggal di daerah rawan kebakaran, agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” ujarnya.

Menurut Thamrin, segala bentuk langkah pencegahan dan mitigasi bencana wajib diakselerasi sejak dini demi menghindari terulangnya petaka karhutla hebat yang pernah terjadi pada masa lalu.

Ia menggarisbawahi dampak negatif dari kepulan asap akibat kebakaran lahan tidak sekadar merusak ekosistem lingkungan hidup.

Namun juga berujung pada kelumpuhan lini aktivitas harian serta penurunan derajat kesehatan warga secara masif.

“Kita tidak ingin kejadian tahun-tahun sebelumnya terulang, di mana asap akibat pembakaran lahan mengganggu aktivitas warga bahkan sampai ke sektor kesehatan,” katanya.

Thamrin meminta pemerintah daerah melalui untuk segera memperkuat barisan dan merumuskan langkah antisipatif yang matang.

Intervensi kebijakan ini dinilai sangat mendesak, terutama untuk diprioritaskan pada klaster-klaster wilayah hulu atau pelosok yang memiliki indeks kerawanan tinggi terhadap potensi kebakaran lahan.

Ia mendorong instansi vertikal untuk mengintensifkan jadwal patroli rutin di lapangan, memperluas cakupan sosialisasi bahaya api ke tingkat kampung, hingga memperbarui peta koordinat daerah rawan karhutla.

Dengan kesiapan data tersebut, upaya pemadaman dan lokalisasi area dapat dieksekusi secara lebih cepat dan responsif begitu ditemukan adanya kemunculan titik api baru.

Thamrin juga menaruh perhatian serius pada ancaman kelangkaan pasokan air bersih bagi kebutuhan domestik warga selama masa kekeringan.

Kawasan pedalaman yang mengandalkan aliran sungai serta wilayah pesisir diproyeksikan menjadi dua zona yang paling rentan terdampak akibat adanya penyusutan debit sumber air baku.

“Distribusi air bersih harus jadi perhatian. Jangan sampai musim kemarau justru menimbulkan krisis air bagi warga,” tuturnya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bahu-membahu menjaga kelestarian lingkungan sekitar sepanjang musim kemarau ini.

Pelibatan aktif dari struktur tokoh adat, gerakan pemuda, hingga komunitas pencinta alam di tingkat lokal dinilai memegang peranan kunci dalam mengontrol dan mencegah aktivitas ceroboh yang memicu percikan api.

Ia berharap grafik kesadaran publik terhadap bahaya laten karhutla terus merangkak naik.

Sehingga dampak buruk dari siklus tahunan musim kemarau di Berau dapat diredam seminimal mungkin sejak awal. 

“Pencegahan harus dilakukan bersama. Kalau semua pihak peduli, risiko kebakaran bisa ditekan,” tandasnya. (*/Adv)