BERAU TERKINI — DPRD Berau mendorong langkah mitigasi dini yang terintegrasi dalam menghadapi potensi musim kering ekstrem akibat fenomena alam El Nino. 

Fenomena global ini diperkirakan akan memicu peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana kekeringan yang signifikan di wilayah Bumi Batiwakkal.

Anggota Komisi I DPRD Berau, Frans Lewi, menegaskan, seluruh instansi terkait harus menaikkan status kesiapsiagaan mereka sejak sekarang.

Langkah cepat ini dinilai sangat krusial mengingat dampak El Nino diproyeksikan dapat berlangsung cukup panjang serta berpotensi mengganggu stabilitas berbagai sektor kehidupan masyarakat.

“Mitigasi dini ini sangat penting. Kita tidak bisa menunggu sampai dampaknya benar-benar terjadi. Harus ada langkah antisipasi sejak awal agar risikonya bisa ditekan,” ujar Frans.

Selain kesiapan dari sisi birokrasi, Frans juga mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam beraktivitas sehari-hari.

Ia mengimbau warga untuk menghindari tindakan-tindakan memicu api yang rentan lepas kendali di musim kemarau, seperti kebiasaan membuka lahan pertanian dengan cara membakar atau membersihkan pekarangan dengan membakar sampah tanpa adanya pengawasan ketat.

“Kesadaran masyarakat ini juga penting. Hal-hal sederhana seperti tidak membakar lahan bisa sangat membantu mencegah terjadinya karhutla,” katanya.

Di sisi lain, ia turut memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah taktis yang telah diambil oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau. 

Instansi tersebut dinilai bergerak cepat karena telah memetakan klaster wilayah rawan karhutla serta menyiagakan personel dan armada operasional di berbagai titik strategis.

“Kita memang harus menyiapkan langkah-langkah antisipatif termasuk mempersiapkan sarana dan prasarana itu sangat penting dalam hal penanggulangan,” tuturnya.

Frans memberikan catatan khusus mengenai ancaman kekeringan yang berpotensi melumpuhkan ketersediaan pasokan air bersih bagi kebutuhan domestik warga.

Tidak hanya itu, sektor-sektor produktif yang menjadi tumpuan ekonomi daerah, seperti sektor pertanian dan perikanan, juga diprediksi akan menerima dampak tekanan yang cukup berat akibat menyusutnya sumber air.

“Kita harus mulai menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi kekeringan itu, termasuk memastikan cadangan air bagi masyarakat dan sektor produktif,” tambah Frans.

Frans menilai kunci utama agar seluruh upaya mitigasi ini berjalan efektif terletak pada penguatan koordinasi lintas sektor secara berkala. 

Ia berharap dengan skema kerja sama yang rapi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, sektor swasta, dan masyarakat, efek buruk dari El Nino di Kabupaten Berau dapat ditekan seminimal mungkin.

“Semua harus terlibat dalam upaya pencegahan ini. Kalau kita siap lebih awal, tentu dampaknya tidak akan sebesar yang dikhawatirkan,” pungkasnya. (*/Adv)