BERAU TERKINI — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau menggelar lomba Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sebagai upaya pembinaan terhadap pengelola desa wisata pada 2026.

Kegiatan yang berlangsung pada 5-6 Mei di Hotel Grand Parama ini merupakan agenda tahunan yang bertujuan untuk menyeleksi perwakilan terbaik yang akan dikirim ke tingkat provinsi hingga nasional.

Pemenang di tingkat provinsi nantinya akan diverifikasi secara lapangan untuk melihat kesesuaian antara presentasi dengan kondisi nyata di desa tersebut.

“Nanti hasilnya itu akan berlomba di tingkat pusat, yaitu Kemenpar ya, ada namanya WIA (Wonderful Indonesia Awards),” ungkap Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, kepada Berauterkini, Rabu (6/5/2026).

Persyaratan untuk menuju ajang nasional tersebut cukup ketat, di mana hanya desa wisata yang telah terdaftar dalam situs jejaring desa wisata Kementerian Pariwisata yang diperbolehkan berpartisipasi.

Hal inilah yang menyebabkan jumlah peserta di Berau masih terbatas.

Dari total 37 Pokdarwis, tahun ini hanya 5 kelompok yang memenuhi kriteria.

Selain harus terdaftar di jejaring nasional, setiap desa wajib memiliki Surat Keterangan (SK) Desa Wisata.

Sejauh ini, SK Dewa Wisata baru dimiliki oleh 19 kampung di Berau, sementara sisanya masih dalam tahap pengusulan.

Samsiah juga menjelaskan, desa yang sudah pernah meraih juara di tahun sebelumnya, seperti Pulau Derawan dan Kampung Payung-payung, tidak diperbolehkan ikut kembali demi memberikan kesempatan bagi desa lain untuk berkembang.

Penilaian lomba ini tidak hanya menitikberatkan pada potensi alam, tetapi juga mencakup konsistensi pengelola, kerja sama dengan pemangku kepentingan seperti akademisi dan BUMK, serta dampak nyata terhadap ekonomi lokal.

“Jadi ini bukan hanya ajang untuk berlomba terkait potensi, tapi juga konsistensi. Kemudian mereka juga harus memenuhi persyaratan juknis yang sudah dibuat oleh provinsi,” jelas Samsiah.

Disbudpar Berau menegaskan, pemberian SK Desa Wisata tidak dilakukan secara sembarangan.

Pihaknya terus memantau bagaimana pengelola mempromosikan desa mereka, menjual paket wisata, hingga sejauh mana daya tarik wisata tersebut memengaruhi kesejahteraan masyarakat setempat.

“Jadi kita bukan mengejar prestasi desa wisata Berau terbanyak bukan, tapi lebih kepada melatih mereka untuk tetap berjuang dan konsisten untuk tetap menghidupkan pokdarwisnya,” tegasnya.

Dalam rangkaian acara tersebut, para peserta juga mendapatkan materi edukasi dari narasumber Pemimpin Redaksi Berauterkini, Robithoh Johan Palupi, mengenai pentingnya membedakan media resmi dan non-resmi serta dasar-dasar jurnalistik.

Kemampuan menyusun narasi pendek dinilai sangat penting agar Pokdarwis dapat memperkenalkan objek wisata mereka secara menarik di media sosial, sehingga memudahkan dalam mendatangkan wisatawan.

“Tujuannya informasi dari tiap objek wisata itu akan semakin lengkap, menarik. Jadi wisatawan yang datang itu enggak bingung lah melihat itu,” ujar Robi.

Meskipun orientasi utamanya bukan untuk mencetak penulis profesional, pembekalan ini diharapkan menjadi nilai tambah bagi pengelola dalam menguasai dunia digitalisasi. 

Dengan narasi yang baik dan penggunaan media sosial yang optimal, Pokdarwis diharapkan mampu menjual potensi desa mereka secara lebih luas.

“Biar mereka lebih bisa menjual objek wisatanya, mendatangkan wisatawan lebih banyak,” pungkasnya. (*)