BERAU TERKINI – Dinas Perkebunan Berau menilai kopi liberika memiliki potensi besar sebagai komoditas prospektif daerah.
Namun, peningkatan produktivitas serta penguatan branding menjadi syarat mutlak jika ingin menembus pasar domestik maupun global.
Sekretaris Dinas Perkebunan Berau, Mansur Tanca, mengungkapkan, saat ini Berau memiliki lima komoditas unggulan, yaitu kakao, sawit, karet, lada, dan kelapa.
Luasan kebun kopi di Berau saat ini masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan sawit yang telah mencapai sekitar 160 ribu hektare.
“Insya Allah kita nanti dorong untuk pengembangan kopi,” ujar Mansur.
Mansur menegaskan, kunci keberhasilan menembus pasar terletak pada identitas produk (branding) dan kepastian pasokan bahan baku.

Ia mencontohkan komoditas kakao Berau yang sempat terkendala pemasaran sebelum akhirnya dikenal luas berkat branding Indikasi Geografis (IG).
Meski begitu, kakao Berau masih menghadapi tantangan keterbatasan kuantitas.
Permintaan kakao Berau mencapai 6.000 ton per tahun, tetapi produksi yang ada baru mampu memenuhi sekitar 300 ton.
“Dan itu ekspornya hanya sekitar 10-50 ton saja per tahunnya baru bisa kita ekspor, padahal permintaan banyak,” jelasnya.
Pengalaman pada komoditas kakao tersebut menjadi pelajaran penting untuk pengembangan kopi liberika Berau.
Mansur mengingatkan agar perbaikan di sektor hulu (luas lahan dan kuantitas produksi) disiapkan secara matang seiring dengan strategi promosi.
“Kalau kita dorong liberika Berau, maka luasannya harus lebih diperbanyak supaya nanti produktivitasnya itu tinggi dan produksinya maksimal,” pesannya.
“Supaya nanti kuantitasnya itu mampu kita penuhi untuk pasar domestik maupun global,” tambahnya.
Jika pasokan sudah memadai, Disbun Berau siap memfasilitasi strategi branding liberika lokal, termasuk memanfaatkan Indikasi Geografis serta media sosial layaknya keberhasilan Kopi Gayo dan Kopi Aceh.
“Kalau memang kita mau pasar global, domestik, maka kita harus branding, salah satunya adalah Indikasi Geografis,” katanya. (*)
