BERAU TERKINI – Simak sejumlah destinasi wisata di Berau Kaltim untuk mengisi waktu libur panjang 17 Agustus.

Long Weekend atau libur panjang libur di depan mata. Diketahui libur panjang ini dimulai pada Sabtu hingga Senin yakni pada 15 sampai 17 Agustus.

Di mana 17 Agustus merupakan hari libur HUT ke-81 RI. Momen libur panjang atau long weekend ini paling tepat diisi dengan liburan.

Salah satu destinasi liburan adalah di Berau, Kaltim. Kabupaten yang berlokasi di ujung utara Kaltim ini menyimpan berbagai tujuan wisata.

Diketahui Berau terkenal dengan destinasi wisata pantai dan lautnya yang indah seperti Pulau Derawan, Pulau Maratua dan Pulau Kakaban.

Berau juga dikenal dengan wisata pesisir seperti Biduk-biduk, Labuan Cermin hingga Kaniungan.

Tetapi Berau juga memiliki destinasi wisata lainnya seperti wisata sejarah, wisata alam hutan hingga puncak bukit.

Dirangkum Berauterkini.co.id, berikut ini rekomendasi destinasi wisata di Berau:

Wisata Susur Sungai

Wisata Susur Sungai Kampung Batu-Batu menjadi salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Berau. Destinasi ini menawarkan pengalaman menyusuri sungai dengan perahu sembari menikmati keindahan alam yang asri.

Perjalanan menyusuri sungai menyuguhkan panorama hutan mangrove yang masih terjaga, dipadukan dengan suasana tenang yang menenangkan.

Pengunjung juga dapat mengamati langsung berbagai satwa liar khas Kalimantan, seperti bekantan yang kerap bergelantungan di pepohonan serta aneka burung air yang berkicau merdu di sepanjang aliran sungai.

Wisatawan yang menikmati wisata di Kampung Batubatu, Gunung Tabur. (facebook/Fitriani Murasaki)
Wisatawan yang menikmati wisata di Kampung Batubatu, Gunung Tabur. (facebook/Fitriani Murasaki)

Suasana tenang dan udara segar di sepanjang sungai menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun luar daerah yang ingin melepas penat dari rutinitas harian.

Salah satu momen yang paling dinantikan wisatawan adalah saat menjelang senja. Ribuan kelelawar terbang keluar dari kawasan Pulau Besing untuk mencari makan, menciptakan formasi memukau di angkasa. Atraksi alam terbilang langka ini menjadi daya pikat tersendiri, khususnya bagi pencinta fotografi.

Tak sekadar berekreasi, wisatawan juga diajak untuk memahami pentingnya kelestarian ekosistem mangrove. Keberadaan destinasi ekowisata ini turut memberi dampak positif bagi perekonomian masyarakat Kampung Batu-Batu.

Wisata Mendaki Bukit Mincau

Bagi pendaki maupun wisatawan yang hendak belajar mendaki dengan ketinggian gunung lumayan, Bukit Mincau, Kecamatan Segah dapat jadi pilihan.

Bukit Mincau memiliki ketinggian 386 meter di atas permukaan laut (mdpl). Cocok bagi pemula untuk belajar mendaki.

Bukit ini dikenal sebagai lokasi favorit bagi pencinta alam dan fotografi karena menyuguhkan panorama hijau yang memanjakan mata serta udara yang masih sangat sejuk dan alami.

Bukit Mincau menawarkan pengalaman trekking ringan menuju puncak yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.

Selama perjalanan, pengunjung akan melewati kawasan hutan yang masih asri dengan suara burung dan pepohonan rindang yang menciptakan suasana tenang.

Bagi yang ingin berkunjung ke Bukit Mincau, Anda dapat melakukan pemesanan melalui Kelompok Sadar Wisata alias Pokdarwis Alo Malau.

Aktivitas dan pengelolaan kawasan ini memang dikelola secara resmi oleh Pokdarwis Alo Malau. Jalur pendakian pun telah ditata dan diperkuat demi keamanan serta kenyamanan pengunjung.

Pendaki yang berhasil naik ke Bukit Mincau Segah. (instagram/@pokdarwis_alo_malau)
Pendaki yang berhasil naik ke Bukit Mincau Segah. (instagram/@pokdarwis_alo_malau)

Ada beberapa pilihan paket wisata yang disediakan oleh Pokdarwis Alo Malau: Jika ingin melakukan pemesanan paket, wisatawan dapat mengontak Pokdarwis Alo Malau di nomor WhatsApp +62 813-3333-6780.

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, disarankan datang pada pagi atau sore hari untuk menikmati pemandangan terbaik sekaligus menghindari teriknya matahari.

Pengunjung juga diimbau untuk menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan serta tetap mematuhi aturan yang berlaku demi kelestarian alam Bukit Mincau.

Dengan keindahan yang dimilikinya, Bukit Mincau menjadi bukti bahwa Berau tidak hanya kaya akan wisata laut, tetapi juga memiliki pesona alam perbukitan yang sangat layak untuk dijelajahi.

Wisata Sejarah Keraton Sambaliung

Berdiri kokoh di tepi aliran Sungai Kelay, Keraton Sambaliung sebagai salah satu warisan sejarah paling berharga di Kabupaten Berau.

Istana bersejarah ini menjadi saksi rekam jejak dinamika pemerintahan, perjuangan melawan kolonialisme, hingga kekayaan tradisi lokal yang bertahan melintasi zaman.

Kesultanan Sambaliung resmi berdiri pada tahun 1810 pasca-terjadinya pemecahan wilayah Kerajaan Berau menjadi dua entitas pemerintahan tersendiri, yakni Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.

Peristiwa bersejarah ini menjadi tonggak penting dalam peradaban masyarakat Bumi Batiwakkal.

Sultan pertama yang bertakhta di Kesultanan Sambaliung adalah Sultan Alimuddin, atau yang lebih dikenal luas oleh masyarakat dengan julukan Raja Alam.

Keraton Sambaliung (Ist)
Keraton Sambaliung (Ist)

Di bawah kepemimpinannya, Sambaliung berkembang pesat menjadi pusat pemerintahan sekaligus simpul perdagangan strategis di wilayah Berau.

Tidak hanya menggerakkan roda ekonomi dan pemerintahan, Kesultanan Sambaliung di era Raja Alam juga mengukir catatan sejarah panjang dalam mempertahankan kedaulatan wilayah dari tekanan serta campur tangan kekuatan kolonial Belanda.

Saat ini, Keraton Sambaliung yang berlokasi di Kecamatan Sambaliung masih terawat dengan sangat baik.

Bangunan bersejarah ini memadukan nilai estetik dan spiritual lewat 13 ruangan khas berdinding warna kuning dan hijau dua warna simbolis yang melambangkan keagungan serta kejayaan dalam tradisi Melayu Islam.

Di dalam kompleks keraton, tersimpan beragam koleksi benda bersejarah yang bernilai tinggi, seperti singgasana sultan, perlengkapan dan senjata tradisional, naskah kuno, galeri, hingga satwa kuno yang ikonik.

Hingga hari ini, Keraton Sambaliung masih difungsikan secara aktif sebagai pusat pelestarian budaya.

Berbagai ritual adat, prosesi penyambutan tamu kehormatan daerah, hingga helatan festival budaya tahunan rutin dipusatkan di kawasan ini.

Wisata Kampung Merabu

Kampung Merabu, Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menjadi destinasi alam yang menarik di kunjungi. Namun sebelum berangkat, ada hal penting yang perlu dipahami wisatawan terkait akses menuju ke merabu.

Bagi wisatawan yang ingin berangkat dari Tanjung Redeb, perjalanan menuju kampung merabu harus ditempuh melalui jalur darat kurang lebih 173 kilometer, dengan waktu tempuh 4 hingga 5 jam.

Waktu tempuh tersebut tergantung dari jenis kendaraan yang digunakan, biasanya roda 2 dan roda 4.

Sebagian besar akses jalan utama sudah beraspal mulus, namun ada juga bagian masih tanah sehingga perjalanan terasa sedikit menantang.

Perlu dipahami, belum tersedia layanan transportasi umum reguler maupun jasa penjemputan tetap menuju Kampung Merabu dari Tanjung Redeb atau sebaliknya.

Danau Nyadeng di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay. (IST)
Danau Nyadeng di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay. (IST)

Wisatawan disarankan menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa jasa travel. Sesampainya di Kampung Merabu, terdapat beberapa objek wisata yang bisa dikunjungi.

Yang paling utama yaitu Danau Nyadeng Forest, danau berair jernih berwarna hijau toska yang dikelilingi hutan lebat. Selain Danau Nyadeng, di Merabu juga terdapat Goa Bloyot yang menyimpan lukisan purba di dinding batu kapur.

Serta puncak ketepu yang menawarkan pemandangan alam dari ketinggian dan menjadi lokasi terbaik untul menyaksikan matahari terbit dan terbenam dengan suasana seolah- olah berada di atas awan.

Keindahan dan ketenangan yang ditawarkan Kampung Merabu menjadi hadiah alam yang patut dijaga kelestariannya.

Wisata Anggrek Bukit Ruaban

Menjelajahi Bukit Ruaban dan melihat berbagai macam anggrek hutan, menjadi salah satu tempat healing asik di tengah hutan Kampung Tubaan, Kecamatan Tabalar, Berau.

Diketahui di hutan Kampung Tubaan banyak dengan mudah ditemukan anggrek hutan. Bunga anggrek yang banyak ditemukan di hutan itu, pertama kali ditemukan oleh penduduk Kampung Tubaan yakni Muhammad Najib.

Bahkan, salah satu anggrek di hutan itu dinamakan Trichoglottis Najibii karena ditemukan oleh Muhammad Najib.

Muhammad Najib sendiri merupakan seorang pecinta anggrek dan pecinta alam sekaligus Ketua Pokdarwis Kampung Tubaan.

Dia menjelaskan bahwa anggrek mempunyai banyak macam dengan ciri khas 5 kelompok, yakni daun tidak bertulang, dan mempunyai lidah di bunga tersebut.

Untuk anggrek jenis Trichoglottis Najibii memiliki ciri khas berwarna ungu dengan lima kelopak berukuran kecil, yang tumbuh banyak di satu akar.

“Ini tuh enggak bisa diubah, jadi sampai kapan pun nanti, namanya tetap Tricoglottis Najibii,” ujarnya saat memandu pengamatan jenis anggrek pada Minggu (14/6/2026).

Jenis-jenis anggrek yang ditemukan di dalam hutan Tubaan Minggu (14/6/2026) (Adrikni/BT)
Jenis-jenis anggrek yang ditemukan di dalam hutan Tubaan Minggu (14/6/2026) (Adrikni/BT)

Selain itu, bisa ditemukan juga jenis anggrek hitam, anggrek permata, hingga anggrek tikus yang merupakan tumbuhan yang dilindungi.

Setelah puas melihat berbagai macam anggrek hutan, kita dipersilakan untuk mengambil satu jenis anggrek untuk dibawa ke Bukit Ruaban.

Untuk menuju Bukit Ruaban cukup melakukan treking dengan jarak tempuh sekitar 30 menit hingga 1 jam. Bukit Ruaban sendiri terletak di ketinggian 171 mdpl, lokasi bukit itu tidak begitu tinggi dan bisa dilalui untuk pemula.

Area Bukit sangat sejuk dikarenakan hutannya yang masih rapat. Jalurnya juga tidak begitu ekstrem, sehingga aman bagi pendaki pemula.

Di atas bukit itu, bunga anggrek yang sebelumnya dibawa akan diikat ke pohon dan akan tumbuh di pohon tersebut.

Muhammad Najib menjelaskan alasan Pokdarwis Kampung Tubaan memilih wisata konservasi. Dia ingin, warga setempat dan juga para wisatawan yang datang bisa menjaga dan peduli pada kelestarian hutan.

“Jadi, kami dan teman-teman di Tubaan membangun hutan ini, menjaga dan membangun hutan ini untuk generasi ke depan.

Suasana di dalam Bukit Ruaban saat pendakian Minggu (14/6/2026) (Adrikni/BT)
Suasana di dalam Bukit Ruaban saat pendakian Minggu (14/6/2026) (Adrikni/BT)

Bagaimana generasi ke depan bisa tetap merasakan hutan gak terlalu jauh dari wilayah sekitar mereka,” jelasnya.

“Kita menyediakan trek hutan yang akan teman-teman mungkin jadi memori yang cukup berkesan,” ucapnya.

Bagi wisatawan yang hendak menikmati keindahan bunga anggrek serta alam dari hutan Kampung Tubaan maka bisa menghubungi pihak Pokdarwis Kampung Tubaan.

“Jadi jangan ragu-ragu teman-teman boleh berwisata ke sini. Dan saat teman-teman berwisata ke sini, teman-teman memberikan kesempatan kedua untuk anggrek itu hidup kembali ke habitat asalnya,” pesannya.