BERAU TERKINI – Keinginan untuk memiliki usaha sendiri sekaligus membantu perekonomian keluarga menjadi titik awal Asmawati mendirikan Ekasya Snack.
Baru berjalan sekitar satu tahun, usaha rumahan tersebut kini telah berkembang dengan berbagai legalitas usaha yang lengkap dan mendapat pendampingan dari Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau.
Asmawati mengaku, sejak awal dirinya ingin memiliki merek sendiri yang bisa menjadi identitas usahanya.
Selain menjadi ibu rumah tangga, ia juga ingin memiliki penghasilan tambahan untuk mendukung ekonomi keluarga.
“Awalnya saya memang ingin membuka usaha sendiri, punya brand sendiri, sekaligus membantu menambah penghasilan keluarga. Dari situ saya mulai membangun Ekasya Snack,” ujarnya.
Produk utama yang dipasarkan adalah emping singkong dengan tiga varian rasa, yakni original, balado, dan bawang.
Meski masih tergolong pelaku UMKM baru, Asmawati berupaya meningkatkan kualitas produknya agar mampu bersaing di pasaran.
Upaya tersebut mendapat dukungan melalui berbagai program pembinaan dari Diskoperindag Berau.
Menurutnya, pendampingan yang diberikan tidak hanya membantu dalam pengurusan legalitas, tetapi juga meningkatkan pemahaman mengenai pengembangan usaha.
“Banyak sekali manfaat yang saya dapatkan. Saya jadi tahu bagaimana membuat produk lebih baik dan lebih paten, mengurus berbagai perizinan, serta mengikuti pelatihan-pelatihan yang sangat bermanfaat untuk saya maupun produk saya,” katanya.
Kini, seluruh legalitas produknya telah dikantongi, mulai dari PIRT, izin edar, hingga sertifikat halal.
Kelengkapan tersebut menjadi modal untuk memperluas pemasaran sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produknya.
Di balik perkembangan usahanya, Asmawati masih menghadapi sejumlah tantangan.
Ketersediaan bahan baku singkong menjadi persoalan utama, terutama saat belum memasuki musim panen.
Kondisi tersebut membuat proses produksi kerap terhambat meski permintaan pasar tetap ada.
Selain itu, faktor cuaca juga sangat memengaruhi produksi karena proses pembuatan emping masih mengandalkan penjemuran alami.
Saat cuaca mendung atau hujan, produksi Ekasya Snack otomatis tertunda.
“Kendala lainnya adalah lahan penjemuran yang masih terbatas. Kami masih membutuhkan area yang lebih memadai, termasuk penambahan rak-rak penjemuran agar produksi bisa lebih maksimal,” ungkapnya.
Meski dihadapkan berbagai keterbatasan, Asmawati optimistis Ekasya Snack akan terus berkembang.
Ia berharap usahanya dapat semakin dikenal masyarakat dan menjadi salah satu produk olahan khas Berau yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas seiring dukungan pembinaan berkelanjutan dari pemerintah daerah. (*/Adv)
