BERAU TERKINI – Simak hasil blusukan Bupati Berau Sri Juniarsih ke Pulau Maratua.
Bupati Berau Sri Juniarsih mengungjungi Pulau Maratua, pada Jumat (5/6/2026) lalu. Kunjungan itu dilakukan guna mengetahui berbagai persoalan yang ada di Pulau Maratua.
Diketahui, pulau favorit turis itu kerap dihadapkan pada sejumlah persoalan. Mulai dari ketersediaan air bersih, abrasi di Kampung Payung-payung hingga penyelesaian tempat pengolahan sampah yakni TPST.
Berikut ini rangkuman pemberitaan Berauterkini.co.id dari kunjungan Bupati Berau ke Pulau Maratua
Janjikan Distribusi Air Bersih
Terkait penyediaan air bersih, Bupati Sri Juniarsih sempat mengunjungi embung di Pulau Maratua.
Dalam peninjauan tersebut, Sri Juniarsih melakukan evaluasi terhadap rencana pengembangan sistem penyediaan air bersih yang akan memanfaatkan embung sebagai sumber utama.
Hasil kajian sementara, terdapat peluang efisiensi anggaran yang cukup signifikan dengan memindahkan lokasi mesin instalasi pengolahan air bersih ke area yang berada di sisi embung.
Langkah tersebut diperkirakan dapat menghemat kebutuhan anggaran hingga sekitar Rp10 miliar dibandingkan skema pembangunan sebelumnya.
Selain lebih efisien, lokasi yang direncanakan juga dinilai lebih memungkinkan untuk mendistribusikan air bersih secara langsung kepada masyarakat karena berada lebih dekat dengan sumber air.

“Kalau mesin pengolahan air bersih dipindahkan ke samping embung, kita bisa menghemat anggaran sekitar Rp10 miliar. Lahannya sudah tersedia dan lebih memudahkan penyaluran air bersih ke masyarakat,” ujar Sri Juniarsih.
Sri Juniarsih menjelaskan, target dalam dua bulan ke depan bukan untuk mengoperasikan sistem air bersih tersebut, melainkan menyelesaikan perencanaan dan pembangunan fondasi atau lokasi penempatan mesin instalasi pengolahan air bersih.
Sementara, untuk operasional dan pemanfaatan sistem air bersih secara penuh ditargetkan dapat dilakukan pada 2027 setelah mesin dipindahkan dan seluruh infrastruktur penunjang selesai dibangun.
“Dalam dua bulan ke depan mudah-mudahan bisa kita siapkan tempat dan pondasinya terlebih dahulu. Untuk fungsionalnya insya Allah ditargetkan pada 2027 setelah mesin pengolahan air bersih dipindahkan,” katanya.
Meski demikian, Sri Juniarsih mengakui kapasitas embung yang ada nantinya belum sepenuhnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan air bersih masyarakat Maratua. Terutama saat musim kemarau dan meningkatnya aktivitas pariwisata di pulau tersebut.
Karena itu, pemerintah daerah terus mengkaji berbagai alternatif untuk memperkuat pasokan air bersih, termasuk opsi pembangunan fasilitas desalinasi air laut.
Namun, untuk teknologi desalinasi tersebut masih memerlukan pertimbangan yang matang dari berbagai aspek.
“Untuk desalinasi masih perlu banyak kajian dan pertimbangan. Selain teknologi yang digunakan, biaya investasi dan operasionalnya juga tidak murah,” ujarnya.
Percepat Penyelesaian TPST
Sri Juniarsih mengatakan, secara umum bangunan TPST telah berdiri dan hanya memerlukan penyelesaian beberapa bagian, termasuk penambahan atap sebelum dapat difungsikan secara optimal.
“Untuk TPST itu bangunannya sudah ada, tinggal menambah atapnya dan bisa difungsikan. Kita berharap semua bisa digunakan secepatnya, meskipun belum selesai seluruhnya, karena memang saat ini kondisi anggaran masih terbatas,” ujarnya.
Dalam pembahasan bersama perangkat daerah terkait, ditemukan skema penyelesaian yang dinilai lebih efisien. Langkah tersebut diperkirakan mampu menghemat anggaran hingga sekitar Rp700 juta.
“Setelah berdiskusi tadi, ada beberapa penyesuaian yang bisa dilakukan sehingga dapat menghemat sekitar Rp700 juta,” katanya.
Terkait pengelolaan operasional TPST ke depan, Sri Juniarsih membuka peluang kerja sama dengan pihak lain agar pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif.

Namun, pembahasan mengenai mekanisme kerja sama tersebut masih akan didiskusikan lebih lanjut.
“Kalau untuk operasional nantinya memang lebih bagus jika bisa bekerja sama, tetapi sejauh ini kami belum mendiskusikannya lebih lanjut,” jelasnya.
“Karena Maratua adalah destinasi wisata, memang tidak ada lagi tempat yang memungkinkan selain di lokasi ini. Makanya kita bangun TPST agar sampah bisa diolah dengan baik, dipisahkan antara organik dan non-organik, bahkan nantinya bisa menjadi tambahan penghasilan bagi masyarakat,” ujarnya.
Penanganan Abrasi Payung-payung
Terkait penanganan abrasi di Kampung Payung-payung, Bupati Sri Juniarsih mengaku kondisi bronjong di garis pantai sudah cukup tua.
Dia menyebut perlunya pembaharuan dan penanganan intensif agar abrasi bisa diatasi. Meski demikian, Sri menjelaskan, penanganan abrasi di kawasan tersebut bukan sepenuhnya menjadi kewenangan Pemkab Berau.
Karena itu, pihaknya harus berkoordinasi dengan instansi terkait sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
“Daerah Payung-Payung ini sangat penting untuk kita perhatikan. Kondisi abrasinya sudah sangat mengkhawatirkan dan bronjong yang ada juga sudah cukup tua karena dibangun sejak 2006,” ujarnya.

“Oleh karena itu kami perlu mengomunikasikan hal ini dengan pihak terkait. Karena untuk penanganannya bukan menjadi kewenangan pemerintah daerah, sehingga jika ingin mengambil tindakan tentu harus mendapatkan izin terlebih dahulu,” katanya.
Ia berharap koordinasi yang dilakukan dapat segera menghasilkan solusi, sehingga pembaruan bronjong dan penanganan abrasi di kawasan Payung-Payung dapat direalisasikan dalam waktu dekat.
“Memang kondisinya sudah harus diperbaharui. Mudah-mudahan komunikasi yang dilakukan dapat mempercepat penanganan sehingga kawasan pesisir di Payung-Payung bisa lebih terlindungi,” katanya.
