BERAU TERKINI – Penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit mandiri belakangan ini, menjadi pukulan berat bagi petani sawit rakyat di Kabupaten Berau dan sejumlah wilayah di Kalimantan Timur.

Harga sawit yang terus merosot, dinilai mulai mengancam kondisi ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil perkebunan sawit.

Salah satu petani sawit rakyat, Akbar Patompo, mengungkapkan, saat ini harga TBS sawit mandiri hanya berada di kisaran Rp2.300 hingga Rp2.600 per kilogram.

Angka tersebut turun cukup jauh dibanding beberapa waktu lalu, yang sempat berada di kisaran Rp3.160 hingga Rp3.420 per kilogram.

Menurutnya, penurunan harga tersebut terjadi hampir merata di wilayah Kalimantan Timur, khususnya di Kabupaten Berau.

“Petani sawit rakyat hari ini berada pada posisi yang sangat sulit. Ketika harga TBS turun drastis, yang paling merasakan dampaknya adalah petani kecil,” jelasnya, Minggu (24/5/2026).

“Biaya pupuk, perawatan kebun, dan kebutuhan operasional terus meningkat, sementara harga jual hasil panen justru terjun bebas,” tambahnya.

Ketua DPD Pemuda Tani Indonesia Kaltim, Akbar Patompo.
Ketua DPD Pemuda Tani Indonesia Kaltim, Akbar Patompo.

Ia menilai, anjloknya harga sawit dipengaruhi berbagai faktor, baik dari kondisi pasar internasional maupun situasi dalam negeri. Dari sisi global, melemahnya harga Crude Palm Oil (CPO) dunia, ikut berdampak langsung terhadap harga TBS di tingkat petani.

Sementara di dalam negeri, lemahnya serapan pabrik kelapa sawit, tingginya biaya distribusi, hingga belum stabilnya arah kebijakan sektor sawit nasional disebut turut memperparah kondisi. “Ini yang terjadi sekarang,” katanya.

Akbar juga menyoroti, dinamika kebijakan nasional di masa transisi pemerintahan yang dinilai ikut memengaruhi iklim industri sawit.

Penyesuaian kebijakan terkait ekspor CPO, hilirisasi industri, hingga distribusi dalam negeri, membuat pasar bergerak fluktuatif dan berdampak langsung kepada petani.

“Ini tidak bisa dianggap sepele. Jika terus berlangsung, penurunan harga sawit dikhawatirkan berdampak terhadap produktivitas perkebunan rakyat ke depan,” jelas pria yang merupakan salah satu tokoh pemuda Kabupaten Berau ini.

Banyak petani, kata dia, mulai mengurangi biaya pemupukan dan perawatan kebun karena keterbatasan modal. Hal itu berpotensi menurunkan kualitas maupun hasil panen sawit dalam jangka panjang.

Selain persoalan harga, lemahnya posisi tawar petani mandiri juga menjadi masalah yang hingga kini belum terselesaikan. Bagunya, petani rakyat dinilai masih berada di posisi rentan dalam rantai perdagangan sawit.

“Karena tidak memiliki kekuatan menentukan harga yang adil di tingkat pabrik maupun pasar,” paparnya.

Akbar berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan, hingga seluruh pemangku kepentingan di sektor perkebunan dapat segera menghadirkan langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga TBS. Serta, memperkuat perlindungan terhadap petani sawit mandiri.

“Petani sawit rakyat jangan hanya dijadikan penyangga ekonomi ketika harga bagus, tetapi ditinggalkan ketika harga jatuh. Negara harus hadir memastikan petani tetap bisa bertahan dan hidup layak dari kebunnya sendiri,” pungkasnya.