BERAU TERKINI – Atmosfer menjelang kick-off Piala Dunia 2026 kian memanas. Sorotan tajam kini tertuju pada kapten sekaligus jenderal lapangan tengah Timnas Swiss, Granit Xhaka, yang baru saja melontarkan pernyataan mengejutkan.

Pemain berpengalaman berusia 33 tahun tersebut secara terbuka mengirimkan sinyal ancaman bagi negara-negara raksasa sepak bola.

Dalam wawancara eksklusif bersama FIFA jelang turnamen akbar di Amerika Utara tersebut, Xhaka menegaskan bahwa Swiss datang bukan sekadar sebagai pelengkap.

Dirinya membawa mentalitas juara yang ia asah sepanjang karier profesionalnya yang penuh risiko.

“Saya suka bermimpi, dan saya bermimpi besar. Saya tidak akan mengucapkan kata yang ada di pikiran saya saat ini. Namun, bermimpi itu boleh, Anda diizinkan untuk melakukannya, dan itu berdampak baik bagi tim,” ujar Granit Xhaka.

Berani Mengambil Risiko di Luar Batas
Bagi pencinta sepak bola dunia, karakter Xhaka yang keras dan pantang menyerah memang sudah tidak asing lagi.

Keputusannya yang sempat menghebohkan publik saat pindah dari klub raksasa Bayer Leverkusen ke tim promosi Sunderland pada Juli 2025 menjadi bukti nyata.

Banyak pihak yang meragukan langkah tersebut, tetapi sang kapten berhasil membungkam kritik dengan membawa Sunderland mengamankan tiket kompetisi Eropa.

Mentalitas nekat dan penuh perhitungan inilah yang kini ia tularkan ke ruang ganti tim berjuluk The Nati. Bersama generasi baru sepak bola Swiss, Xhaka mengemban misi besar untuk melangkah lebih jauh dari sekadar lolos fase grup.

Sebagai informasi, Swiss tergabung dalam Grup B Piala Dunia 2026 bersama tuan rumah Kanada, Qatar, dan Bosnia-Herzegovina. Di atas kertas, persaingan di grup ini diprediksi akan berlangsung sengit.

Ukir Rekor Fantastis Sepanjang Sejarah Swiss

Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi keempat bagi Xhaka setelah sebelumnya tampil di Brasil 2014, Rusia 2018, dan Qatar 2022.

Menariknya, ia memegang rekor fantastis sebagai pemain Swiss dengan penampilan terbanyak di putaran final Piala Dunia, yakni sebanyak 12 pertandingan.

Catatan ini tentu menjadi modal penting bagi Swiss yang ditangani oleh pelatih Murat Yakin. Xhaka bertindak bukan hanya sebagai kapten, melainkan juga mentor bagi para talenta muda Swiss yang siap meledak di turnamen kali ini.

Saat ditanya mengenai kemungkinan apakah ini akan menjadi “tarian terakhirnya” di kancah internasional, pemain bernomor punggung 10 ini menjawab dengan santai.

“Sejujurnya, saya rasa tidak. Selama saya masih memiliki rasa lapar, determinasi, dan kesehatan, saya ingin terus bermain selama mungkin,” pungkasnya.