BERAU TERKINI — Efek berantai turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS rupanya sudah berdampak nyata hingga ke sektor penjualan suku cadang motor di sejumlah bengkel di Berau.

Para pengusaha bengkel motor di Bumi Batiwakkal mengeluhkan meroketnya harga suku cadang untuk jenis ban dan oli.

Pemilik Bengkel AHASS Citra Jaya Motor di Jalan Pemuda, Jony, mengungkapkan, efek anjloknya rupiah sangat memukul harga jual ban dan oli di tokonya.

Menurutnya, tren kenaikan ini awalnya dipicu meletusnya perang Irak pada April lalu.

Khusus untuk oli, kenaikan harga pada April sebesar Rp3 ribu, lalu pada Mei Rp6 ribu, dan per 1 Juni kembali melonjak hingga Rp10 ribu, sehingga total kenaikannya telah menembus Rp19 ribu.

Bengkel AHASS Citra Jaya Motor, Jalan Pemuda, Tanjung Redeb. (Adrikni/BT)
Bengkel AHASS Citra Jaya Motor, Jalan Pemuda, Tanjung Redeb. (Adrikni/BT)

Produk ban motor juga mengalami kenaikan serupa, namun grafiknya tidak separah oli karena masih berada di kisaran angka Rp5-10 ribu.

“Ya pasti naik lah ngaruh sekali. Semua jenis oli, ban, ada kenaikan tapi enggak separah oli,” ujarnya kepada Berauterkini, Sabtu (6/6/2026).

Walaupun harus beroperasi di tengah hantaman kenaikan harga, Jony mengaku tokonya tetap berkomitmen menambah stok barang dagangan. 

Ia tidak menampik jumlah kunjungan pelanggan di tokonya perlahan menurun sebagai efek langsung dari mahalnya harga barang. 

Kenaikan harga terbaru ini diakuinya bukan lagi karena isu perang.

Namun, akibat kurs dolar yang kian perkasa, sehingga memaksa pemilik usaha ikut menyesuaikan harga di tingkat eceran.

“Stok ada saja, kita tetap menambah. Ini yang terakhir bukan karena perang sih, dolar. Mau enggak mau kita naikkan harga,” singkatnya.

Keluhan senada juga datang dari pemilik Bengkel Syifa Motor di Jalan Pembangunan I, Yanur.

Ia membeberkan, harga oli di tokonya bahkan sudah mengalami lonjakan signifikan hingga menyentuh angka Rp25 ribu. 

Penjualan ban motor di tempatnya ikut terkerek naik, meskipun kenaikannya tidak secepat oli.

Ia memberikan gambaran, jika harga oli naik pada tanggal 7, maka harga tersebut bisa kembali berubah naik pada tanggal 14 dan berpotensi semakin melambung tinggi pada tanggal 21.

“Kalau ban itu kan naik misalnya 10 ribu, lama baru naiknya. Kalau oli itu enggak tetap,” katanya.

Bengkel Syifa Motor di Jalan Pembangunan I, Tanjung Redeb. (Adrikni/BT)
Bengkel Syifa Motor di Jalan Pembangunan I, Tanjung Redeb. (Adrikni/BT)

Yanur memilih untuk tetap menyetok barang selama pasokan dari distributor tersedia.

Bahkan, ia rela membeli dalam jumlah banyak sebagai langkah spekulasi untuk persediaan ke depan. 

Menurutnya, kenaikan harga ini erat kaitannya dengan penguatan dolar yang memicu kenaikan harga solar. 

Dampaknya, biaya operasional ekspedisi logistik serta biaya produksi di pabrik ikut membengkak, sehingga memicu efek domino berupa kenaikan harga massal.

Yanur menambahkan, besaran kenaikan harga suku cadang ini juga bervariasi dan berbeda di setiap kecamatan. 

Sebagai contoh, harga eceran di wilayah perkotaan Tanjung Redeb dipastikan berbeda dengan harga di Kecamatan Teluk Bayur. 

Saat ini, harga oli di seputaran Tanjung Redeb berkisar Rp105-110 ribu dan sudah tidak ada lagi bengkel yang menjual di bawah angka Rp100 ribu. 

Perbedaan tarif ini murni terjadi akibat adanya beban ongkos pengiriman, sehingga standarisasi harga tidak bisa disamakan secara merata.

“Kalau arah ke Teluk lebih mahal lagi, pasti beda harga. Kalau ke Teluk apapun pasti beda,” urainya.

Sementara itu, pemilik bengkel lainnya, Syukron, membenarkan, harga suku cadang di tempat usahanya juga ikut terkerek naik. 

Hanya saja, ia mengaku tidak bisa memastikan apakah kenaikan tersebut murni karena pengaruh dolar atau tidak. 

Hal ini lantaran dirinya hanya memantau dan mengikuti pergerakan nota tagihan dari supplier. 

Jika harga dari distributor naik, maka ia secara otomatis akan ikut menyesuaikan harga jual ke konsumen. 

Ia menyebut kenaikan harga pada oli dan ban di tempatnya sudah mencapai angka puluhan ribu rupiah untuk semua jenis merek.

“Naik semua untuk semua ini, sekitar puluhan ribu kalau buat persisnya saya enggak ingat,” kata Syukron.

Soal mahalnya harga dengan tingkat keramaian bengkel, Syukron menilai hal tersebut kembali pada kebutuhan konsumen itu sendiri. 

Berapa pun nominal harga yang tertera di bengkel, jika kendaraan tersebut memang mendesak untuk diperbaiki, maka konsumen dipastikan akan tetap membayar sesuai dengan jumlah tagihan yang ditentukan. 

Sedangkan untuk urusan manajemen stok, hal itu dikembalikannya pada keputusan masing-masing pemilik bengkel dalam mengambil risiko di tengah ketidakpastian pasar.

“Sekarang itu tergantung dari customernya saja. Sama saja selayaknya pergi ke rumah sakit, biar harganya berapa itu harus tetap dibayar karena butuh. Untuk stok, itu tergantung kita aja mau ngambil apa enggak,” tandasnya. (*)