BERAU TERKINI – Bagi masyarakat Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, menganyam bukan sekadar keterampilan mengolah bahan alam menjadi sebuah benda. 

Di balik setiap karya, tersimpan pengetahuan mendalam tentang hutan, ketelitian memilih rotan, kesabaran, hingga filosofi hubungan manusia dengan lingkungan.

Nilai inilah yang diusung dalam rangkaian Festival Rindu Dumaring (FRD) 2026 melalui program “Belajar dari Sang Maestro – Menganyam”. 

Kegiatan ini dirancang bukan sebatas mengajarkan teknik merangkai, melainkan mengenalkan perjalanan panjang pengetahuan lokal kepada generasi muda.

Kegiatan menganyam yang merupakan rangkaian Program Belajar dari Sang Maestro di Festival Rindu Dumaring (FRD) 2026.
Kegiatan menganyam yang merupakan rangkaian Program Belajar dari Sang Maestro di Festival Rindu Dumaring (FRD) 2026.

Proses edukasi dimulai sejak 22 Agustus 2026 melalui penjelajahan langsung di Hutan Adat Patiraja. 

Didampingi maestro menganyam, Mathius Ago atau yang akrab disapa Bang Tigor, sebanyak 11 peserta diajak mengenali bahan baku baku rotan di alam bebas. 

Proses dilanjutkan dengan tahapan persiapan seperti membelah, meraut, hingga mengeringkan bahan, sebuah alur krusial yang menentukan kualitas anyaman.

Edukasi berlanjut dalam sesi workshop di TSD pada 28 dan 29 Agustus 2026. 

Di tempat ini, para peserta dari kalangan anak-anak dan remaja dipacu untuk memegang bahan, bertanya, serta mempraktikkan langsung teknik anyaman tradisional.

Sebagai tolok ukur hasil pembelajaran, sebanyak 8 peserta kemudian menjajal kemampuannya dalam lomba menganyam pada 30 Agustus 2026. 

Berbeda dengan kompetisi desain modern, penilaian lomba berfokus pada ketepatan pola dan teknik tradisional sebesar 35 persen, kerapian 30 persen, bentuk akhir 20 persen, serta keunikan sebesar 15 persen.

Melalui penekanan penilaian tersebut, FRD ingin menegaskan bahwa menjaga keaslian teknik yang diwariskan para leluhur jauh lebih utama ketimbang sekadar mengejar tampilan modern.

Kegiatan ini membawa pesan penting bahwa pelestarian budaya tidak selalu dimulai dari langkah besar. 

Kesadaran menjaga identitas daerah dapat tumbuh dari jemari anak muda yang mau memegang rotan, berguru kepada maestro, dan bangga meneruskan warisan tradisi Dumaring. (*/Adv)