BERAU TERKINI – Di balik tas-tas eksklusif bermerek Ashbrow yang kini menjadi salah satu produk unggulan UMKM Berau, tersimpan kisah panjang penuh air mata, perjuangan, dan keteguhan seorang perempuan bernama Hernani Astuti.
Tak banyak yang tahu, sebelum dikenal sebagai perajin dan pelaku UMKM kreatif, Hernani adalah sosok yang membangun nama besar Tuti Salon, salon pengantin legendaris di Berau yang telah merias ribuan pasangan selama hampir 30 tahun.
Perempuan kelahiran Gunung Tabur itu membuktikan kesuksesan tidak selalu lahir dari modal besar.
Justru, semua berawal dari keberaniannya menjual gelang dan kalung emas demi membeli perlengkapan salon sedikit demi sedikit.
Kini, di usia 60 tahun, semangat berkaryanya tak pernah surut.
Setelah pensiun dari dunia tata rias, ia justru membuka lembaran baru melalui dunia UMKM dengan menghasilkan berbagai produk khas Berau.

Salah satunya tas premium Ashbrow yang memadukan kulit batang pohon asli Berau dengan kulit sapi berkualitas.
Produk tersebut menjadi salah satu UMKM binaan Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau serta terus dipromosikan dalam berbagai pameran daerah maupun nasional.
Perjalanan Hernani membangun usaha tidak pernah mudah. Saat mulai merintis Tuti Salon pada akhir 1980-an, ia bahkan hanya memiliki sepeda motor bekas seharga Rp400 ribu yang dibelinya dari tetangga.
Motor itulah yang setiap hari membawanya mengantar perlengkapan dekorasi, gaun pengantin, hingga alat rias ke berbagai pelosok Berau.
“Bahkan barang dekor saya angkut sendiri. Saking banyaknya barang, yang kelihatan hanya kepala saya di atas motor,” kenangnya.
Namun, di balik tawa itu tersimpan kenangan yang membuatnya masih menitikkan air mata hingga kini.
Ia pernah harus menerobos hujan deras demi mengejar waktu merias pengantin. Dalam perjalanan, ia menangis sambil memanjatkan doa.
“Ya Allah, berikan hamba kenyamanan dalam perjalanan merias. Jangan kehujanan dan jangan kepanasan,” ucapnya.
Air mata bercampur hujan menjadi saksi perjuangan yang tak pernah diketahui orang.
Doa itu perlahan dijawab. Setelah bertahun-tahun menabung dari hasil merias, ia akhirnya mampu membeli mobil pikap bekas.
“Saya masih ingat kata tetangga saya, beli pikap dulu saja. Nanti pikap itu punya anak. Alhamdulillah benar. Dari pikap itu akhirnya saya bisa punya Avanza dan Jazz,” ujarnya.
Hasil kerja keras itu pula yang mengantarkan empat anaknya mengenyam pendidikan tinggi.
Perjalanan Hernani juga dipenuhi prestasi pada 2001 kala ia mengikuti Lomba Tata Rias Pengantin Eropa tingkat Kalimantan Timur.
Kala itu, ia nyaris mengurungkan niat karena tidak memiliki gaun pengantin mewah seperti peserta lain.
Ia akhirnya menjahit sendiri gaun sederhana dari kain putih seadanya.
Cobaan kembali datang tepat saat akan menata rambut modelnya, tiba-tiba listrik di rumah padam.
Tak menyerah, Hernani menyelesaikan sanggul di teras rumah hanya dengan cahaya bulan dan bantuan senter yang dipegang anaknya.
Mereka kemudian berangkat menuju lokasi lomba menggunakan motor tua. Sesampainya di lokasi, hampir seluruh peserta tampil dengan busana megah.
“Saya hanya bilang ke model saya, kita tetap percaya diri,” imbuhnya.
Ketika pengumuman berlangsung, Hernani bahkan sudah berdiri hendak pulang karena mengira tidak masuk nominasi.
Namun tiba-tiba terdengar nama Salon Tuti diumumkan sebagai Juara I. Ia langsung bersujud syukur di halaman GOR sambil menangis.
“Saya merasa Allah melihat semua perjuangan saya,” ujarnya.
Prestasi itu menjadi awal berbagai penghargaan lain yang berhasil diraihnya.
Ia tercatat pernah menjadi Juara I Tata Rias Pengantin se-Kalimantan Timur, Juara Busana Kartini, Ratu Kebaya Berau, juara lomba menyanyi pop dan dangdut, hingga mewakili Indonesia pada ajang budaya di Brunei Darussalam 2007 dengan mengenakan busana adat Berau Lungsuran Naga, setelah lolos seleksi nasional di Jakarta.
Sekitar 2017, Hernani mulai meninggalkan dunia tata rias dan beralih menjadi pengembang perumahan di Sambaliung.
Namun, pandemi Covid-19 membuat proyek tersebut terhenti.
Tak ingin menyerah, ia kembali memulai dari nol. Kali ini melalui UMKM.
Berbekal kreativitas yang diwarisi sang ayah, almarhum Haji Adji Pitro, pelukis kaca legendaris Berau, Hernani mulai membuat berbagai kerajinan.
Mulai dari tas rajut, tas rotan, jilbab lukis, kerajinan daur ulang, keripik tempe, hingga produk berbahan kulit batang pohon.
Melalui pembinaan Diskoperindag Berau, lahirlah Ashbrow, tas eksklusif yang memanfaatkan kulit batang pohon khas Berau dipadukan dengan kulit sapi berkualitas.
Produk ini tidak hanya menawarkan desain elegan, tetapi juga mengangkat nilai budaya dan kearifan lokal.
Setiap tas dibuat secara handmade oleh pengrajin lokal, sehingga memiliki karakter yang unik dan eksklusif.
Selain Ashbrow, Hernani juga dikenal lewat keripik tempe yang sempat viral di Berau hingga mendapat apresiasi dari Bupati Berau, Sri Juniarsih.
Ia bahkan pernah menerima pesanan hingga 60 kilogram keripik tempe menjelang Lebaran.
Meski telah meraih banyak prestasi, Hernani memilih terus berbagi ilmu.
Ia beberapa kali mengajar anak-anak sekolah membuat kerajinan dari barang bekas, melatih kelompok perempuan di kampung-kampung, mengajarkan melukis jilbab, membuat bunga dari sabun, hingga menjadi narasumber berbagai pelatihan UMKM.
“Saya percaya selama masih diberi kesehatan, saya harus tetap berkarya dan berbagi,” katanya.
Perjalanan Hernani Astuti menjadi bukti sebuah usaha besar bisa lahir dari langkah kecil, doa yang tak pernah putus, dan keberanian untuk terus bangkit setiap kali kehidupan memberi ujian.
Kini, melalui Ashbrow dan berbagai produk UMKM khas Berau, perempuan yang dahulu berjuang di bawah hujan dengan motor tua itu kembali membawa nama daerahnya dikenal lebih luas.
Karena bagi Hernani, kesuksesan bukan sekadar tentang hasil yang diraih, melainkan tentang seberapa banyak manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain. (*/Adv)
