BERAU TERKINI – Aroma cokelat kini tak hanya menjadi hasil panen di Kampung Labanan Makarti, Kecamatan Teluk Bayur.

Di tangan seorang pemuda bernama Dhea Nurwana Solihin, kakao yang tumbuh di kampung itu menjelma menjadi sumber penghasilan baru, sekaligus ruang pemberdayaan bagi para ibu rumah tangga.

Berawal dari kepedulian terhadap potensi lokal yang belum tergarap maksimal, Dhea memilih melangkah lebih jauh. 

Ia tidak hanya melihat kakao sebagai komoditas pertanian, tetapi juga peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui produk olahan bernilai tambah.

Perjalanan itu dimulai pada 2019 saat dirinya bergabung dalam Program Pejuang Sigap Sejahtera.

Kala itu, Kampung Labanan Makarti tengah mengembangkan sektor agribisnis kakao dengan dukungan bibit dari Pemerintah Kabupaten Berau. 

WhatsApp Image 2026 06 18 at 11.21.24 e1781757199170

Dari sana, muncul gagasan untuk mengolah kakao menjadi produk siap jual yang memiliki daya saing lebih tinggi.

Namun, yang membuat langkah Dhea berbeda adalah pilihannya melibatkan perempuan sebagai motor penggerak usaha.

Menurutnya, berbagai aktivitas pembangunan dan ekonomi di kampung masih banyak didominasi kaum laki-laki. 

Ia pun ingin membuka ruang agar para ibu rumah tangga memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi terhadap perekonomian keluarga.

“Kenapa perempuan? Karena saya melihat keterlibatan kegiatan di kampung masih banyak didominasi laki-laki. Saya ingin ibu-ibu juga memiliki kesempatan untuk berkembang. Dari situ akhirnya terbentuk nama Usaha Kulanta,” ujarnya.

Kelompok Usaha Kulanta itu dibentuk pada 2022. Awalnya, kelompok ini hanya menjadi tempat belajar bersama mengolah kakao. 

Namun, seiring waktu, Kulanta berkembang menjadi usaha yang memproduksi berbagai olahan cokelat khas Berau.

Perjalanan Kulanta semakin mendapatkan angin segar ketika memperoleh dukungan dari PT Berau Coal melalui program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat pada akhir 2022.

Dukungan itu tidak hanya berupa bantuan sarana produksi, tetapi juga peningkatan kapasitas sumber daya manusia, perbaikan kemasan, studi banding ke Bali dan Yogyakarta, hingga pendampingan pemasaran melalui Rumah Kemas Batiwakkal.

“Peningkatan kapasitas dari Berau Coal hampir setiap tahun kami dapatkan. Kami juga diberikan kesempatan melakukan studi banding ke Bali dan Yogyakarta untuk belajar tentang pengembangan usaha dan strategi pemasaran produk,” kata Dhea.

Meski kini mulai dikenal luas, perjalanan Kulanta tidak selalu mulus. Pada masa awal berdiri, omzet penjualan hanya berkisar Rp1 juta per bulan dan sempat bertahan di angka Rp3 juta selama enam bulan pertama.

Namun, ketekunan dan konsistensi membuahkan hasil. Berbekal peningkatan kualitas produk dan kemasan yang lebih menarik, pasar Kulanta perlahan meluas. 

WhatsApp Image 2026 06 18 at 11.21.22

Produk cokelat mereka kini telah masuk ke minimarket, hotel, hingga platform penjualan daring.

Tak hanya itu, Kulanta juga dipercaya tampil dalam berbagai pameran berskala nasional, termasuk Trade Expo Indonesia di Jakarta. 

Prestasi tersebut semakin lengkap setelah meraih penghargaan Tjipta UMKM Awards kategori Outstanding UMKM.

“Setelah mendapatkan pendampingan dari Berau Coal, terutama dalam perbaikan kemasan dan pemasaran, pasar kami semakin luas. Saat ini pendapatan dalam satu tahun hampir mencapai Rp150 juta,” kenangnya.

Bagi Dhea, pencapaian tersebut bukan sekadar soal angka penjualan. Lebih dari itu, ia melihat bagaimana para ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya beraktivitas di rumah, kini memiliki keterampilan baru, kepercayaan diri, dan tambahan penghasilan untuk keluarga.

Sementara itu, Community Development Manager PT Berau Coal, Reza Hermawan, menilai kisah Kulanta menjadi bukti, potensi lokal dapat berkembang menjadi usaha yang mampu menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat, terutama jika didukung inovasi dan pendampingan yang tepat.

“Kisah Mas Dhea dan Cokelat Kulanta ini menunjukkan, dengan semangat, inovasi, dan pendampingan yang tepat, potensi lokal seperti kakao dapat berkembang menjadi usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Reza, pendampingan yang diberikan perusahaan tidak hanya berfokus pada bantuan usaha, tetapi juga penguatan kapasitas kelompok agar mampu tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan. (*/Adv)