BERAU TERKINI – Berikut ini cerita para fotografer jalanan di Berau, bermula dari hobi kini menjadi ladang rezeki.

Fotografer jalanan yang memotret pelari kini banyak terlihat di Tanjung Redeb, Berau.

Mereka terlihat duduk dan mengarahkan keker kamera ke arah para pelari.

Salah satu lokasi favorit adalah di sekitar Masjid Agung Baitul Hikmah, Berau.

Fotografer jalanan di Tanjung Redeb, Berau (Adrikni/BT)
Fotografer jalanan di Tanjung Redeb, Berau (Adrikni/BT)

Para fotografer ini ada yang tergabung ke dalam komunitas seperti Komunitas Fotoyu.

Seperti halnya Rival yang sudah dua tahun terakhir aktif menjadi fotografer jalanan.

Menurut Rival, pekerjaan ini hanya dijadikan sebagai sampingan. Sehingga ia mengaku tak masalah jika hasil jepretannya tak dibeli oleh pelari.

“Ini sampingan aja kalau ada waktu luang,” ujar Rival.

“Dibawa happy aja, sekalian hobi juga jadi kalau misalnya nda ada yang beli pun nda jdi masalah,” katanya.

Fotografer jalanan di Tanjung Redeb, Berau (Adrikni/BT)
Fotografer jalanan di Tanjung Redeb, Berau (Adrikni/BT)

Senada dengan Rival, fotografer jalanan lainnya yakni Tri mengaku menjadi fotografer karena hobi.

Namun karena ada peluang untuk mendapatkan penghasilan, dirinya pun serius menjadi fotografer jalanan.

“Dibilang hobi awalnya hobi, tapi ke depannya suatu penghasilan pekerjaan ada pendapatan yang didapat,” kata Tri.

Semenjak menjadi fotografer jalanan di Berau, Tri menyampaikan sejumlah suka dan duka.

Dukanya adalah ketika cuaca sedang tak bersahabat sehingga tak ada pelari, atau ketika pelari tak membeli jasanya.

“Ibaratnya berdagang apa yang kita jual engga ada yang laku, itu sedihnya. Tapi sedihnya ya belum rejeki aja,” ujarnya.

Meski demikian, Tri mengaku tetap menjalani fotografer jalanan, sebab jika diseriusi, penghasilan yang didapat cukup menjanjikan.

“Kita hitungan bulanan UMK, tapi dengan konsistensi harian. Kita seperti berdagang, kita engga jualan ya engga dapat cuan,” ujarnya.

Fotografer jalanan di Tanjung Redeb, Berau (Adrikni/BT)
Fotografer jalanan di Tanjung Redeb, Berau (Adrikni/BT)

Adapun Atta menjadikan fotografi jalanan sebagai pekerjaannya. Sebelumnya ia juga menekuni sebagai fotografer pernikahan.

“Kalau di wedding lama tapi Fotoyu itu baru,” ungkapnya.

Penghasilan yang ia dapatkan dari memotret dalam satu hari dengan durasi 1,5 jam bisa menyentuh angka Rp 300 ribu.

“Kaya gini biasanya aku kan foto satu jam setengah bisa Rp 300 ribu,” ujarnya.

Menurutnya, fotografer jalanan sudah bukan hobi lagi, melainkan kegiatan yang menghasilkan uang karena menurutnya, menjalankan hobi itu tidak mengharapkan uang.

“Kalau hobi kan enggak mengharapkan uang,” tutupnya