Penulis: Setyawan, Program Doktor Ilmu Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang
BERAU TERKINI – Beras Porang (shirataki/konjac) telah bertransformasi dari bahan makanan alternatif yang asing menjadi salah satu komoditas pangan paling diperbincangkan di Indonesia bahkan sampai ke Kota Sanggam Kabupaten Berau.
Dibuat dari umbi porang (Amorphophallus muelleri), beras sintetis ini menawarkan daya tarik utama, karena rendah kalori, bebas gluten, dan tinggi serat glukomanan.
Namun, jika kita menilainya secara objektif dari sudut pandang kesehatan, ekonomi, dan ketahanan pangan, beras porang menyimpan dua sisi mata uang yang sangat menarik untuk dicermati.

Jawaban atas Tantangan Kesehatan Modern
Dari segi medis dan gaya hidup, hadirnya beras porang adalah angin segar:
Solusi bagi Penderita Diabetes dan Obesitas: Nasi putih konvensional memiliki indeks glikemik tinggi yang cepat menaikkan gula darah.
Beras porang, dengan kandungan serat glukomanan yang tinggi, memberikan rasa kenyang lebih lama tanpa memicu lonjakan gula darah (glycemic spike).
Diversifikasi Pangan Lokal di Kabupaten Berau kaya akan tanaman umbi-umbian. Optimalisasi porang membuktikan bahwa kita mampu berinovasi menciptakan beras berbahan non-padi yang secara tekstur sangat mendekati nasi putih.
Gagasan diversifikasi tersebut relevan dengan kondisi Kabupaten Berau. Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Pangan mendorong konsumsi pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) berbasis sumber daya lokal. Festival Pangan Lokal B2SA 2025 diikuti 11 Tim Penggerak PKK kecamatan dengan sajian nonberas dan nonterigu.
Pemerintah daerah menyatakan kegiatan itu diarahkan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada beras dan terigu (Pemerintah Kabupaten Berau, 2025a).
Tantangan Nyata di Lapangan
Di balik popularitasnya, ada beberapa catatan kritis yang tidak boleh diabaikan:
1. Hambatan Harga yang Sangat Tinggi: Saat ini beras porang dijual di kisaran Rp150.000 hingga Rp220.000 per kilogram—hampir 10 hingga 15 kali lipat dari harga beras premium biasa.
Dengan rentang harga ini, beras porang baru terjangkau sebagai makanan gaya hidup masyarakat kelas menengah ke atas, belum menjadi solusi makanan pokok rakyat luas.
2. Risiko Malnutrisi Jika Dikonsumsi Secara Salah: Karena kalori dan karbohidrat beras porang mendekati nol, mengonsumsinya sebagai pengganti nasi putih tanpa diimbangi asupan karbohidrat kompleks lain atau protein yang cukup dapat menyebabkan tubuh kekurangan energi. Beras porang adalah alat pembantu diet, bukan nutrisi tunggal yang lengkap.
3. Fluktuasi Industri Industri dan Petani Lokal: Di tingkat hulu, hilirisasi umbi porang di Indonesia masih menghadapi tantangan berupa pengolahan menjadi murni tepung glukomanan berkualitas tinggi yang sebagian besar masih bergantung pada teknologi ekspor/impor.
Hilirisasi Menjadi Kunci
Nilai ekonomi porang tidak berhenti pada umbi segar, pengolahan menjadi chips, tepung merupakan tahapan penting untuk meningkatkan nilai tambah bagi tanaman porang.
Jika dikembangkan di Berau, rantai nilai perlu mencakup kesesuaian lahan, benih, pendampingan petani, fasilitas pascapanen, teknologi pengolahan, standardisasi mutu, pemasaran, dan edukasi konsumen.
Konteks ketahanan pangan juga penting. Pada September 2026, Pemerintah Kabupaten Berau menyatakan cadangan pangan daerah masih aman hingga akhir tahun, tetapi juga melaporkan bahwa cuaca dan keterbatasan air berdampak terhadap sejumlah tanaman pangan, termasuk padi dan sayuran (Pemerintah Kabupaten Berau, 2026).
Diversifikasi karena itu bukan berarti meninggalkan beras, melainkan memperluas pilihan sumber pangan agar sistem pangan lebih beragam.
Kesimpulan
Beras porang adalah inovasi pangan luar biasa yang berpotensi besar, terutama dalam membantu penanganan masalah kesehatan modern seperti diabetes dan obesitas.
Namun, untuk menjadikannya pilar penopang ketahanan pangan Kabupaten Berau yang inklusif, pemerintah dan pelaku industri harus berfokus pada efisiensi teknologi pengolahan lokal agar harganya dapat ditekan secara signifikan.
Tanpa penurunan harga dan edukasi gizi yang benar, beras porang akan tetap terisolasi sebagai sekadar tren makanan diet yang mahal, bukan pengganti nasi yang sesungguhnya bagi masyarakat luas.
Bagi Kabupaten Berau, porang lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu pilihan diversifikasi pangan dan pengembangan komoditas pertanian, bukan sebagai pengganti beras secara menyeluruh. Arah tersebut sejalan dengan upaya daerah mendorong pangan B2SA dan pemanfaatan sumber pangan lokal (Pemerintah Kabupaten Berau, 2025a; 2025b).
Pada akhirnya, masa depan beras porang tidak ditentukan semata oleh popularitasnya sebagai makanan sehat. Yang lebih menentukan adalah kemampuan membangun sistem produksi dan pengolahan yang efisien, terjangkau, bergizi, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah kepada petani.
Bagi Berau, pertanyaannya bukan memilih beras atau porang, melainkan bagaimana memperluas pilihan pangan tanpa mengabaikan gizi masyarakat, keberlanjutan usaha tani, dan ketahanan pangan daerah.
