BERAU TERKINI – Disdamkarmat Berau akui fasilitas hydrant di area belakang Pasar Sanggam Adji Dilayas tak berfungsi.

Kabid Pemadaman dan Penyelamatan, Disdamkarmat Berau, Nofian Hidayat membenarkan bahwa hydrant yang ada di belakang pasar Sanggam Adji Dilayas, tak bisa berfungsi saat terjadi kebakaran, beberapa hari lalu.

Fasilitas yang semestinya menjadi salah satu sumber pasokan air untuk pemadaman kebakaran, itu ternyata sudah lama tidak dapat digunakan.

“Sudah lama sekali tidak berfungsi,” ungkapnya, Minggu (8/11/2026).

Nofian mengatakan, persoalan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran di kawasan pusat pelayanan publik sebenarnya sudah berulang kali disampaikan.

Bahkan, pihaknya telah mengusulkan tiga kriteria penting yang semestinya dipenuhi untuk meminimalkan risiko dan dampak kebakaran.

Menurutnya, setiap pusat pelayanan publik idealnya dilengkapi sarana proteksi kebakaran yang memadai.

Mulai dari alat pemadam api ringan (APAR), alat pemadam api berat (APAB), hydrant, sprinkler, hingga smoke detector dan heat detector.

Kebakaran hanguskan 29 warung dan 2 rumah di area Pasar Sanggam Adji Dilayas Berau (Ist)
Kebakaran hanguskan 29 warung dan 2 rumah di area Pasar Sanggam Adji Dilayas Berau (Ist)

Selain itu, perlu tersedia perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) serta media edukasi kebencanaan bagi masyarakat.

Tidak hanya mengandalkan kelengkapan peralatan, kesiapan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi faktor penting. Nofian menilai perlu ada petugas internal yang memiliki kemampuan penanganan awal kebakaran dan mendapatkan pelatihan secara rutin setiap tiga bulan.

“Harus ada SDM internal yang terlatih dan dilakukan pelatihan rutin setiap tiga bulan,” jelasnya.

Dia juga menekankan pentingnya inspeksi berkala dari pihak eksternal.

Kegiatan tersebut perlu dibarengi dengan evaluasi serta simulasi penanganan kebakaran, yang melibatkan seluruh petugas internal dan masyarakat di sekitar lokasi.

“Sayangnya, itu belum mendapatkan perhatian sebagai kebutuhan prioritas,” jelasnya.

Padahal, menurut Nofian, keberadaan sarana proteksi kebakaran, petugas terlatih, serta simulasi penanganan darurat merupakan bagian penting dari upaya mitigasi.

Terlebih, ketika mulai muncul tanda-tanda atau potensi terjadinya kebakaran.

Kondisi hydrant yang tidak berfungsi di kawasan pasar, menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan respons petugas ketika api sudah membesar.

“Ketersediaan fasilitas dan sistem pencegahan yang berfungsi baik, justru harus dipastikan jauh sebelum kebakaran terjadi,” pungkasnya.