BERAU TERKINI – Riuhnya aktivitas warga di lingkungan RT 12 dan 63 Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, kini tumbuh menjadi ruang hidup yang aktif dan penuh kesadaran lingkungan. Pemandangan hijau dari instalasi hidroponik yang tertata rapi di salah satu sudut kawasan ini menjadi bukti nyata bagaimana lahan terbatas mampu dioptimalkan untuk menghasilkan pangan mandiri yang segar dan sehat.

Warga juga bergerak bersama mengelola sampah secara bijak, mulai dari memilah sampah organik untuk diolah kembali hingga mengoperasikan bank sampah secara konsisten. Gotong royong ini tidak hanya untuk menekan volume limbah rumah tangga, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi yang dirasakan langsung masyarakat.

Apa yang dilakukan warga di RT 12 dan 63 Kelurahan Baru Ilir ini merupakan replikasi dari keberhasilan program yang telah dijalankan di RT 50 dan 51 dengan bantuan dan pendampingan dari PT Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan. 

Melalui Program Kaliandra atau Kampung Baru Ilir Mandiri, Indah, dan Sejahtera, ini adalah program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Balikpapan yang diluncurkan untuk wilayah padat penduduk dan rawan bencana di Kelurahan Baru Ilir, khususnya di sekitar RT 50, 51, dan wilayah sekitarnya.

Ada beberapa inovasi dan kegiatan utama di RT 50 dan 51 Baru Ilir yang coba diaplikasikan di RT lain, khususnya RT 12 dan 63, salah satunya Drum Eco Shield. Pada inovasi ini, warga memanfaatkan drum bekas kilang minyak sebagai struktur penahan lereng guna memperkuat stabilitas tanah lempung dan pasir dari ancaman longsor.

Kelurahan Baru Ilir memang cukup rawan terhadap ancaman bencana longsor karena kontur wilayahnya yang berbukit dan ditambah padatnya permukiman. Peralihan musim dari kemarau ke hujan menjadi salah satu yang diwaspadai oleh pihak kelurahan dan masyarakat karena tanah gampang longsor.

Inovasi lainnya adalah pemanfaatan lorong-lorong pemukiman dengan sistem vertikal garden dan irigasi otomatis yang ditanami sayuran, seperti kangkung, pakcoy, bayam merah, serta tanaman obat keluarga atau TOGA seperti jahe, kunyit, daun bawang.

Lurah Baru Ilir, Junaidi, menyebut, berbagai program pemberdayaan mulai dari ketahanan pangan, pengelolaan bank sampah, hingga penanganan stunting digalakkan secara terpadu di kawasan pemukiman warga. 

Ia menjelaskan, kawasan RT 12 dan 63 kini telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung seperti hidroponik guna memperkuat ketahanan pangan warga. Selain itu, terdapat program bank sampah di RT 63 serta layanan kesehatan terpadu di Posyandu Mawar Harum yang disokong penuh CSR Pertamina RU V Balikpapan.

Berbagai kelompok binaan juga telah dibentuk di wilayah ini, mulai dari kelompok Katana (Kelurahan Tangguh Bencana), kelompok Wasiat (Warga Siaga Sehat di Sejahtera), hingga kelompok Program Kampung Iklim (ProKlim). Sinergi tersebut tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan dan penanggulangan bencana, tetapi juga merambah ke sektor pemberdayaan ekonomi UMKM dan kesehatan.

Junaidi mengungkapkan, kawasan ini tengah bersiap mengikuti berbagai ajang perlombaan tingkat Kota Balikpapan, seperti Lomba Cerdas Giat Hijau (CGH) Green and Clean serta Lomba Hatinya PKK yang dijadwalkan berlangsung pada bulan ini. Penilaian lomba tersebut mencakup berbagai indikator penting seperti pengelolaan sampah, ketahanan pangan, hingga penanganan stunting.

WhatsApp Image 2026 11 04 at 22.48.47 e1793804342446

Untung lewat Urban Farming

Tri Wahyuni, salah seorang kader penggerak hidroponik di RT 12 Baru Ilir, menjadi salah satu warga setempat yang aktif dan konsisten merawat tanaman di tengah keterbatasan lahan. Meski baru berjalan sekitar satu tahun program pertanian di wilayahnya terus menunjukkan hasil positif. 

Tri mengungkapkan bahwa kegiatan bercocok tanam ini dikelola secara bergiliran oleh kelompok warga yang merupakan gabungan dari beberapa RT, termasuk dari unsur Persit (Persatuan Istri Tentara) dan warga sipil.

“Kalau yang merawat tanaman setiap hari, kami biasanya berempat secara bergantian. Jadi siapa yang ada waktu saja datang merawat,” ujar Tri saat menceritakan aktivitas kelompoknya, Rabu (4/11/2026).

Kelompok hidroponik ini merupakan gabungan warga dari beberapa RT, khususnya RT 12 dan 63. Dengan jumlah anggota awal sekitar 16 orang, kini delapan orang kader tetap aktif mengelola kebun tersebut di tengah kesibukan harian mereka.

Program ini telah menghasilkan berbagai jenis sayuran serta tanaman hortikultura, seperti tomat, pakcoy, cabai, dan lainnya. Selain memenuhi kebutuhan konsumsi harian keluarga untuk menekan pengeluaran dapur, kelebihan hasil panen juga dipasarkan secara daring kepada warga sekitar.

“Alhamdulillah, ini sangat membantu menekan pengeluaran rumah tangga karena kita bisa memetik sayur sendiri. Kalau dijual, hasilnya juga bisa menambah pemasukan kami,” tambahnya.

Kader hidroponik lainnya, Sity Suryani, menuturkan, berlokasi di lingkungan asrama TNI Angkatan Darat yang kondusif dan tidak terlalu ketat, para warga bebas berkreasi memanfaatkan area sekitar. Jenis tanaman yang dibudidayakan pun sangat beragam, mulai dari sayuran hijau seperti sawi pakcoy, selada, dan bayam Brazil, hingga tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan seledri. Berbagai jenis instalasi hidroponik yang diterapkan mulai dari sistem NFT (Nutrient Film Technique), DFT (Deep Flow Technique), Tower, hingga sistem wick (sumbu) sederhana.

Ibu rumah tangga berusia 35 tahun ini juga merupakan sosok yang pertama kali mencetuskan ide pembuatan kebun hidroponik. Berawal dari keinginan untuk memanfaatkan peluang tempat dan melihat keberhasilan kerabatnya dalam berkebun modal air serta listrik, ia lantas mengajak ibu-ibu kader Posyandu serta tetangga sekitar untuk merintis kelompok tani perkotaan.

“Awalnya itu saya kan punya keluarga yang tempatnya agak jauh dan tidak punya lahan, mereka mau berkebun tapi tidak bisa. Kemudian saya lihat teman saya itu kok enak, dia punya kebun sendiri, modal air dan listrik saja. Jadi dari situ, mumpung kita ada tempat, kita pakai,” ungkap istri tenaga medis di RS Kesdam Dokter Hardianto itu.

Dalam perjalanannya, kelompok ini mendapat perhatian dan dukungan penuh dari PT Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan sejak Agustus 2026. Bantuan tersebut meliputi penyiapan sarana hidroponik, program kebersihan, hingga fasilitas kesehatan penunjang Posyandu Mawar Harum seperti alat ukur gula darah dari Dinas Kesehatan.

Sity menjelaskan, program ini dinilai tepat sasaran karena selain memperkuat ketahanan pangan, hasilnya juga diintegrasikan langsung dengan kegiatan Posyandu. Sayuran segar dari kebun dimanfaatkan untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi bayi dan balita, serta mendukung edukasi gizi bagi masyarakat.

Selain sayuran konsumsi, area kebun juga dikembangkan menjadi “Apotek Hidup” yang ditanami berbagai tanaman obat keluarga (toga) seperti kumis kucing, jahe, kunyit, hingga temulawak. Tujuannya agar warga dapat memanfaatkan bahan herbal alami untuk mengatasi keluhan kesehatan ringan, sehingga tidak selalu bergantung pada obat-obatan kimia medis.

Untuk urusan perawatan harian, para kader rutin mengecek ketersediaan air serta kadar nutrisi menggunakan larutan khusus secara sukarela pada pagi dan sore hari. Kendala utama yang kerap dihadapi di lapangan adalah masalah pemadaman listrik yang dapat mengganggu sirkulasi pompa air hidroponik. Meski demikian, para kader selalu sigap menyiasatinya.

Hasil panen dari kebun hidroponik ini dikelola secara transparan. Sebagian dikonsumsi sendiri, sementara kelebihannya dipasarkan secara langsung melalui grup WhatsApp warga maupun media sosial.

“Kalau untuk panen, kalau memang sudah siap panen kita posting ke media sosial ke lapak jual beli daerah, itu langsung ada yang pesan, sehingga enggak lama langsung habis karena jumlahnya sedikit. Tapi sebelum kita posting, kita kadang share dulu ke warga-warga di sini,” tutur Sity.

Ke depannya, kelompok tani ini berencana mengumpulkan dana swadaya dan berharap dukungan berkelanjutan dari Pertamina agar kebun mereka dapat ditingkatkan menjadi green house. Dengan demikian, hasil panen bisa lebih maksimal, mampu membantu perekonomian anggota, serta menjadikan RT 12 Kelurahan Baru Ilir sebagai percontohan wilayah mandiri pangan bagi kawasan lainnya.

Warga RT 12 Kelurahan Baru Ilir, Irsani, saat menjelaskan proses pembuatan pupuk organik cair dari limbah rumah tangga, Rabu (4/11/2026).
Warga RT 12 Kelurahan Baru Ilir, Irsani, saat menjelaskan proses pembuatan pupuk organik cair dari limbah rumah tangga, Rabu (4/11/2026).

Olah Limbah Jadi Pupuk Organik

Tak cuma menanam sayuran, warga juga memanfaatkan sampah atau limbah organik rumah tangga untuk dijadikan pupuk organik. Dengan bahan-bahan sederhana yang mudah didapat, pupuk cair hasil fermentasi mandiri ini menjadi solusi efektif untuk menyuburkan tanaman.

Israni, salah satu warga RT 12, menjelaskan, proses pembuatan pupuk organik cair ini menggunakan bahan baku utama berupa limbah ikan yang sudah busuk sekitar 1 kilogram yang dipadukan dengan satu genggam beras, gula merah cair, serta cairan mikroorganisme pengurai EM4 sebanyak enam tutup botol.

EM4 berperan penting untuk mempercepat proses pembusukan dan penguraian bahan organik. Sebelum dicampur, gula merah yang awalnya berbentuk padat dicairkan terlebih dahulu sebagai sumber energi bagi bakteri pengurai.

“Untuk bahan-bahannya kita pakai ikan 1 kg, beras satu genggam, gula merah seperempat, dan enam tutup EM4 untuk mempercepat pembusukan,” jelas Israni.

Setelah melalui proses fermentasi selama kurang lebih 10-15 hari hingga aromanya tidak lagi menyengat atau berbau busuk, cairan pupuk tersebut siap digunakan. Dalam aplikasinya, cairan hasil fermentasi ini harus melalui proses pengenceran terlebih dahulu agar tidak merusak tanaman. 

Satu botol ukuran gelas air mineral dicampur dengan sekitar 20 liter air sebelum disiramkan ke tanaman agar dosisnya pas dan aman dari risiko panas yang dapat membuat daun tanaman menjadi keriting.

Selain pupuk cair dari limbah ikan, Israni juga memanfaatkan kotoran ayam yang difermentasikan dengan formula serupa untuk dijadikan pupuk kompos padat. 

Ampas sisa penyaringan kompos padat tersebut nantinya dicampur dan ditimbun langsung ke dalam tanah untuk menyuburkan tanaman yang sudah ditanam di lahan.

Melalui pembuatan pupuk organik mandiri ini, ia berharap praktik ramah lingkungan tersebut dapat terus dikembangkan guna menciptakan pertanian yang lebih mandiri, hemat biaya, dan berkelanjutan.

Salah satu pengurus bank sampah di RT 63 Kelurahan Baru Ilir melakukan penataan sampah bernilai ekonomis di tempat penampungan pada Rabu (4/11/2026).
Salah satu pengurus bank sampah di RT 63 Kelurahan Baru Ilir melakukan penataan sampah bernilai ekonomis di tempat penampungan pada Rabu (4/11/2026).

Sampah Jadi Rupiah

Bagi warga RT 12 dan 63 Baru Ilir, sampah yang sering menjadi masalah di lingkungan mampu diubah menjadi rupiah yang menambah pendapatan rumah tangga.

Melalui kehadiran bank sampah yang didukung Pertamina, warga di kawasan Asrama Bukit kini dapat mengolah limbah rumah tangga menjadi tabungan bernilai ekonomis.

Helmi Suciati, selaku pengurus bank sampah, mengungkapkan, inisiatif pengelolaan sampah ini berawal dari perkenalan program pemilahan sampah bersama perusahaan. Sejak mulai aktif berjalan, kehadiran bank sampah memberikan dampak signifikan bagi penurunan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

“Dari segi lingkungan, kebersihan jadi lebih terjaga dan volume sampah yang dibuang ke TPS jadi berkurang karena sudah dipilah di sini. Dari sisi warga, mereka juga bisa mendapat tambahan pendapatan meski jumlahnya kecil dari hasil tabungan sampah mereka,” ujarnya.

Dalam praktiknya, warga yang datang membawa sampah akan melalui proses penimbangan. Petugas kemudian mencatat hasilnya ke dalam buku tabungan khusus milik masing-masing nasabah, menyerupai sistem perbankan pada umumnya.

Sampah yang dikumpulkan didominasi kardus, botol bekas, gelas plastik, kemasan renteng, plastik blowing, hingga kaleng. Barang-barang tersebut nantinya disetorkan kepada pengepul secara berkala setiap 2-3 bulan sekali. 

Untuk jenis botol plastik dan kardus, harga dari pengepul berkisar di angka Rp2.100 per kilogram dan mampu menghasilkan pemasukan kas sekitar Rp250.000 per periode penjualan.

Keuntungan dari penjualan tersebut kemudian dibagikan dengan skema bagi hasil yang transparan, yakni 70 persen untuk nasabah dan 30 persen untuk kas pengurus guna menunjang operasional bank sampah. Sebelum dijual ke pengepul, pengurus dan kader juga aktif memilah serta membersihkan sampah yang terkumpul agar memiliki kualitas jual yang baik.

Namun, mengelola bank sampah di lingkungan asrama tentara tentu memiliki tantangan tersendiri. Mobilitas warga yang silih berganti, seperti anggota TNI atau keluarga yang pensiun dan pindah, mengharuskan para kader untuk terus menerus melakukan edukasi ulang kepada warga serta nasabah baru.

Kendati demikian, jumlah nasabah aktif di wilayah RT tersebut kini telah mencapai sekitar 59 orang dengan didukung 10 orang kader pengelola. 

Dengan dukungan penuh dari Pertamina RU V Balikpapan yang baru berjalan sekitar enam bulan terakhir, para kader berharap program bank sampah ini dapat terus berkembang, mengedukasi masyarakat secara luas, dan memperkuat kemandirian lingkungan di Kelurahan Baru Ilir.

 

Bukan Janji Sukses Instan

Apa yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan di RT 12 dan 63 dengan mereplikasi program di RT 50 dan 51 Baru Ilir sejatinya bukan janji untuk bisa langsung meraih kesuksesan serupa. Sebab, program ini tidak hanya berorientasi pada ketahanan pangan di tengah keterbatasan lahan perkotaan, tetapi juga dirancang untuk melahirkan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan di tengah masyarakat.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU V Balikpapan, Dodi Yapsenang, menjelaskan, inisiatif ini bermula dari keberhasilan program serupa di wilayah RT 50/51 yang kemudian direplikasi ke lokasi-lokasi baru berdasarkan rekomendasi dari pihak kelurahan dan warga setempat. Menurutnya, keberhasilan replikasi ini sangat bergantung pada keaktifan kader lokal dan semangat warga dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada.

“Pertama, kita perlu melihat kesiapan lahan dan kesiapan kadernya. Beruntung, kader di sini lumayan aktif, banyak mengikuti perlombaan, dan memiliki semangat untuk mengupayakan hasil terbaik dengan sumber daya seadanya,” ujar Dodi.

Ia memaparkan, dukungan perusahaan dirancang agar tidak memicu ketergantungan jangka panjang. Bantuan modal awal disalurkan secara efisien guna memicu inisiatif warga dalam mengembangkan instalasi pertanian secara mandiri.

“Untuk modal awal, kita cukup mengeluarkan sekitar Rp10 juta, kecil banget sebenarnya. Dari Rp10 juta itu, mereka bisa mengembangkan satu set instalasi baru dan membeli bibit untuk pertanian di sekitarnya,” jelasnya.

Menghadapi tantangan jarak pemasaran yang relatif jauh dari pusat kota, kelompok warga didorong untuk memanfaatkan teknologi digital. Pemasaran hasil panen hidroponik dilakukan secara online melalui aplikasi pesan instan langsung kepada masyarakat di sekitar kawasan tempat tinggal mereka. 

Model bisnis dari warga untuk warga ini terbukti efektif memberikan tambahan pemasukan bagi para kader sekaligus memastikan ketersediaan sayur segar bagi lingkungan sekitar.

“Akhirnya cara itu jalan. Setiap mau panen, mereka posting di WhatsApp, lalu terjual habis. Seperti itu yang kami harapkan. Masyarakat dapat sayur segar, kader mendapat pemasukan, dan mereka juga bisa mengantar langsung pesanannya ke rumah warga,” tutur Dodi.

Dalam menjalankan program pendampingan ini, Dodi juga menekankan pentingnya membangun pola pikir yang tepat. Warga diingatkan agar tidak berorientasi secara instan pada hasil yang besar, melainkan fokus pada manfaat langsung yang dapat dirasakan, seperti pemenuhan kebutuhan dapur harian, penurunan pengeluaran rumah tangga, serta penguatan kebersamaan antarwarga.

Ke depan, Pertamina menargetkan agar setiap tahunnya minimal lahir satu kelembagaan atau kelompok kegiatan kolektif baru yang mandiri di tengah masyarakat. Dengan konsistensi penanaman, pendampingan teknis perbaikan fasilitas seperti sumur air, serta pelatihan standar produk olahan bernilai jual tinggi, program replikasi urban farming ini diharapkan terus hidup dan memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat sekitar.

Salah satu perwakilan Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan menjelaskan percontohan inovasi penahan longsor dari ban bekas di RT 12 Kelurahan Baru Ilir, Rabu (4/11/2026).
Salah satu perwakilan Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan menjelaskan percontohan inovasi penahan longsor dari ban bekas di RT 12 Kelurahan Baru Ilir, Rabu (4/11/2026).

Mencari Solusi dan Mitigasi Bencana

Solusi inovatif berupa Drum Eco Shield yang diterapkan di RT 50 dan 51 Baru Ilir juga mulai direplikasi di kawasan Asrama Bukit. Jika sebelumnya warga dan Pertamina memanfaatkan tangki minyak bekas sebagai penahan tanah yang rawan longsor, kini inovasi serupa diuji coba menggunakan ban bekas.

Inovasi penahan longsor menggunakan ban bekas ini diperkenalkan sebagai alternatif perkuatan tebing selain siring beton atau kawat bronjong besi. Berdasarkan pemantauan bersama tim Kelurahan Tangguh Bencana (Katana), banyak rumah di kawasan rawan mengalami penurunan fondasi akibat gerusan air hujan yang tidak tertampung dengan baik.

Meski demikian, pengenalan inovasi baru di tengah warga tentu membutuhkan pendekatan percontohan agar masyarakat yakin akan efektivitasnya.

“Kalau yang di sini karena masih percobaan, jadi nanti kita tambah secara perlahan dulu. Kalau yang sudah efisien itu di lokasi sebelumnya, yaitu yang pakai drum. Kita pasang 293 drum di sana,” ujar Dodi.

Dodi menjelaskan, konsep penahan longsor ini sebelumnya, Drum Eco Shield, telah terbukti sukses melindungi fasilitas umum seperti sekolah TK di wilayah RT 50 menggunakan sekitar 293 drum bekas kilang minyak. Sementara itu, untuk wilayah permukiman warga yang lebih mudah menjangkau material mandiri, penggunaan ban bekas dipilih karena material tersebut mudah ditemui warga sekitar.

Untuk tahap awal uji coba, tumpukan ban disusun sebanyak tiga hingga empat layer, yang nantinya akan diperkuat dengan penambahan besi pancang serta dirapatkan kembali guna menguji ketahanannya terhadap laju gerusan air saat puncak musim hujan tiba.

Selain inovasi penahan longsor seperti Drum EcoShield dan tumpukan ban, penguatan kapasitas masyarakat dan relawan juga menjadi fokus utama. Meskipun ancaman longsor menjadi salah satu perhatian besar akibat kondisi geografis perbukitan dan sistem drainase permukiman yang padat, mitigasi terhadap potensi bencana lain, seperti kebakaran akibat faktor kelalaian manusia juga rutin dilatih melalui simulasi berkala.

Perjalanan warga Kelurahan Baru Ilir, khususnya di RT 12 dan 63 kawasan Asrama Bukit, membuktikan, keterbatasan lahan dan kerentanan geografis bukanlah halangan untuk merajut kemandirian. Melalui sinergi yang kuat antara kesadaran masyarakat, ketelatenan para kader, dukungan pemerintah kelurahan, serta pendampingan berkelanjutan dari Pertamina lewat Program Kaliandra, sebuah perubahan besar berhasil diwujudkan dari hal-hal sederhana di lingkungan sekitar.

Dari lorong-lorong pemukiman yang disulap menjadi kebun hidroponik yang subur, pengolahan limbah organik dan bank sampah yang bernilai ekonomis, hingga mitigasi bencana mandiri melalui inovasi penahan longsor, warga Baru Ilir kini menjelma menjadi inspirasi nyata.

Keberhasilan ini mengingatkan bahwa ketahanan pangan, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial dapat tercapai secara berkelanjutan apabila tumbuh dari kebersamaan, proses yang konsisten, dan semangat gotong royong yang tak pernah padam. (*)