BERAU TERKINI – Kebijakan Belajar dari Rumah (BDR) yang diterapkan di tengah kondisi kabut asap di Kabupaten Berau dinilai menjadi langkah yang tepat untuk melindungi anak dari paparan asap.

Namun, pelaksanaannya juga menimbulkan sejumlah tantangan bagi orang tua, terutama mereka yang harus tetap bekerja.

Salah seorang orang tua siswa, Andini, mengatakan dirinya memahami kebijakan BDR yang diterapkan pemerintah.

Menurutnya, kondisi kabut asap membuat kesehatan anak perlu menjadi perhatian, terlebih anak-anak cukup rentan terhadap gangguan pernapasan.

“Kalau untuk kebijakannya saya rasa sudah tepat, karena anak-anak memang rawan terkena dampak asap dan ISPA,” ujar Andini.

Kondisi langit Tanjung Redeb, Berau, yang diselimuti kabut asap pekat, Senin (5/10/2026). (AIDIL/BT)
Kondisi langit Tanjung Redeb, Berau, yang diselimuti kabut asap pekat, Senin (5/10/2026). (AIDIL/BT)

Meski demikian, penerapan BDR membuat orang tua harus menyesuaikan kembali jadwal aktivitas keluarga.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi orang tua yang memiliki pekerjaan dan tidak dapat selalu mendampingi anak selama proses pembelajaran.

Andini juga menyoroti metode pembelajaran secara daring yang menggunakan aplikasi Zoom.

Menurutnya, metode tersebut tidak selalu mudah diterapkan, terutama bagi anak usia dini yang belum terbiasa mengikuti pembelajaran melalui perangkat digital.

“Agak kurang suka karena harus mengatur ulang jadwal anak, sementara emaknya juga bekerja. Terus harus lewat Zoom, anak juga belum familiar sama Zoom,” katanya.

Sementara itu, orang tua siswa lainnya, Isnaniah, mengatakan orang tua tetap menginginkan anak mendapatkan pembelajaran yang maksimal meskipun dilakukan dari rumah.

Menurutnya, keberadaan guru tetap penting karena guru memiliki pengalaman dalam mengajar dan memahami bagaimana menyampaikan materi kepada anak sesuai dengan usianya.

“Orang tua pasti ingin anaknya diajari oleh guru yang punya pengalaman mengajar, apalagi orang tua yang sibuk bekerja,” tuturnya.

Meski begitu, Isnaniah memahami, pembelajaran tatap muka tidak dapat dipaksakan ketika kondisi udara masih berisiko bagi kesehatan anak.

Menurutnya, yang perlu menjadi perhatian adalah adanya langkah penanganan yang cepat agar kondisi kabut asap tidak berlangsung berkepanjangan dan BDR tidak menjadi solusi yang terus diterapkan.

“Tidak bisa juga memaksakan anak untuk sekolah kalau memang kondisinya berisiko. Tapi pengambil kebijakan harus cepat menangani kondisi ini. Jangan sampai solusinya BDR terus, harus ada langkah lain supaya kondisi segera membaik dan anak-anak bisa kembali belajar normal,” pungkasnya. (*)