BERAU TERKINI — Upaya mempermudah akses permodalan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus digencarkan.
Melalui program Business Matching Pembiayaan serta Edukasi dan Literasi Keuangan UMKM (BIMA ETAM) seri ke-17 yang merupakan kerja sama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), para pengusaha kini mendapatkan kemudahan lewat sistem jemput bola, di mana perbankan mendatangi langsung para pelaku usaha.
Bank Indonesia sendiri memiliki jaringan mitra binaan UMKM yang cukup luas serta didukung sistem pencatatan keuangan yang baik.
Hal ini dinilai menjadi nilai tambah yang sangat membantu para pelaku usaha saat hendak mengajukan pinjaman pembiayaan.
Kepala Divisi Pengawasan Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Kaltim-Kaltara, Yulianta, menjelaskan, pihaknya hadir sebagai jembatan yang menghubungkan pelaku UMKM dengan berbagai lembaga keuangan formal, seperti perbankan, pegadaian, hingga lembaga jaminan sosial, agar masyarakat tidak lagi merasa canggung atau takut berurusan dengan bank.

Menurutnya, hambatan psikologis seperti rasa segan mendatangi kantor bank yang megah kerap menjadi kendala tersendiri bagi pelaku usaha kecil.
“Agar UMKM yang memang sudah layak untuk dibiayai, pembukuannya rapi, keuntungannya juga bagus, bisa langsung mengajukan pembiayaan hari ini juga,” ungkap Yulianta kepada Berauterkini, Jumat (2/10/2026).
Melalui mekanisme ini, pengusaha dapat langsung memproses pengajuan pembiayaan di tempat.
Persetujuan kredit umumnya akan diterbitkan beberapa hari berselang untuk kemudian dilaporkan kepada OJK dan Bank Indonesia.
Rangkaian program kolaboratif ini secara keseluruhan menargetkan sekitar 500 UMKM di wilayah Kalimantan Timur dengan proyeksi total penyaluran pembiayaan mencapai Rp27,83 miliar, yang diharapkan terus bergulir demi menjaga ketahanan ekonomi para pelaku usaha di tengah dinamika saat ini.
“Harapannya ini membantu UMKM dalam memperoleh permodalan. Jadi UMKM-nya enggak perlu datang ke bank, banknya datang ke UMKM,” lanjutnya.
Sementara itu, perwakilan Bank Indonesia, Pratama Wibawa, memaparkan, pada tahun sebelumnya, realisasi penyaluran dana pembiayaan telah menyentuh angka Rp25 miliar.
Target pencapaian pada tahun ini pun diproyeksikan untuk terus ditingkatkan.
Dukungan konkret dari Bank Indonesia difokuskan pada penguatan regulasi serta berbagai program pendampingan berkelanjutan.
Pasalnya, sektor UMKM selama ini dipandang sebagai salah satu tulang punggung perekonomian nasional yang mendapat perhatian khusus dalam hal pembiayaan.
Pelaksanaan kegiatan ini juga dirancang untuk mempertemukan langsung antara kebutuhan modal usaha dari pelaku UMKM dengan standar prinsip kehati-hatian yang wajib diterapkan perbankan.
“Tentu saja persyaratan yang diperlukan dari bank itu yang bisa kita temukan, sehingga pengusaha UMKM lebih bankable, secara bank bisa lebih dapat diterima untuk pengajuan permodalannya,” tutup Pratama. (*)
