BERAU TERKINI – Pemerintah Kabupaten Berau mulai menyiapkan langkah untuk memperkuat konektivitas transportasi perairan melalui penyusunan Rencana Induk Pelabuhan (RIP).
Sebanyak delapan pelabuhan dan dermaga strategis diusulkan masuk dalam dokumen tersebut.
Delapan titik yang menjadi fokus meliputi Pelabuhan Wika, Sidayang, Teratai, Sanggam, Talisayan, Batu Putih, Teluk Sulaiman, dan Sukan.
Kepala Dinas Perhubungan Berau, Rusnan Hefni, mengatakan, penyusunan RIP menjadi penting untuk menata fungsi masing-masing pelabuhan sekaligus mengintegrasikan transportasi perairan laut dan sungai di Bumi Batiwakkal.
“Bagian yang utama untuk dilakukan adalah analisis teknisnya. Kalau usulan sudah masuk ke Bapenda,” ujarnya pada berauterkini.

Menurutnya, analisis teknis terhadap delapan pelabuhan tersebut nantinya akan dilakukan melalui konsultan ahli.
Sebelum proses itu berjalan, Dishub melakukan pendataan dan inventarisasi terhadap seluruh aset serta fasilitas publik yang berkaitan dengan transportasi perairan.
Pendataan tersebut nantinya menjadi basis bagi konsultan dalam menyusun dokumen RIP sebelum diajukan kepada Kementerian Perhubungan.
Rusnan menyebut, keberadaan RIP juga diharapkan mampu menjawab persoalan pemanfaatan sejumlah dermaga yang selama ini belum optimal.
Melalui dokumen tersebut, setiap pelabuhan akan memiliki fungsi dan kapasitas yang lebih jelas.
“Di situ semua fungsi masing-masing dermaga atau pelabuhan akan masuk secara rinci, mulai dari manajemen kelautan hingga sistem operasionalnya,” jelasnya.
Dengan adanya pembagian fungsi tersebut, pemerintah berharap tidak terjadi tumpang tindih pemanfaatan antar pelabuhan maupun dermaga.
Penyusunan RIP ini ditargetkan mulai berjalan pada 2027. Jika nantinya dokumen tersebut mendapat persetujuan Kemenhub, Berau juga berpeluang memperoleh dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat untuk pembangunan fisik pelabuhan.
“Jadi ke depannya tidak ada lagi tumpang tindih, semua berjalan sesuai fungsi yang ditetapkan,” katanya.
Penataan pelabuhan ini diharapkan tidak hanya berdampak pada sektor transportasi.
Konektivitas antardaerah melalui jalur perairan juga berpotensi memperlancar distribusi kebutuhan pokok ke wilayah pesisir, mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, hingga memperkuat akses menuju sejumlah destinasi wisata bahari di Berau. (*)
