BERAU TERKINI – Tidak ada api. Tidak ada pembukaan lahan baru. Tidak ada tanda-tanda pembalakan liar.
Bagi sebagian orang, mungkin tidak ada yang menarik dari sebuah patroli ketika tidak menemukan ancaman. Namun bagi Aris Gunawan, yang akrab dipanggil Igun, hasil seperti itulah yang ingin ia lihat dari udara.
Pagi itu, pemuda 21 tahun itu menerbangkan drone di atas kawasan Hutan Desa Dumaring. Di sampingnya, Samuel Tukar atau Iwel (27), mendampingi sebagai co-pilot.
Sementara di lapangan, Zakarias Mogge (30) mengoordinasikan kegiatan pemantauan bersama LPHD Pangalima Jerrung.
Drone perlahan meninggalkan tanah. Dari bawah, ukurannya semakin kecil hingga hanya menjadi titik di langit. Namun di layar pengendali, kawasan hutan mulai terbuka dalam perspektif yang berbeda: jalan akses, batas kawasan, areal terbuka, dan bagian-bagian hutan yang sebelumnya hanya dapat dilihat dari permukaan tanah.
Mereka sedang mencari sesuatu. Bukan untuk membuat sensasi, tetapi justru untuk memastikan sesuatu yang tidak diinginkan tidak sedang terjadi di dalam kawasan yang mereka jaga. Di sinilah cerita tentang patroli drone di Dumaring bermula.

Pemantauan hutan menggunakan drone merupakan bagian dari upaya Program Kolaborasi Konservasi Hutan dan Sungai Dumaring bersama LPHD Pangalima Jerrung untuk memperkuat perlindungan dan pengelolaan Hutan Desa Dumaring.
Pemantauan difokuskan pada lokasi-lokasi yang memiliki arti penting dalam sistem pengawasan kawasan: sepanjang jalan akses menuju hutan, batas hutan desa, areal terbuka di sekitar kawasan, serta lokasi-lokasi yang dipandang memiliki potensi atau riwayat gangguan.
Dari udara, tim berupaya mendapatkan gambaran terbaru mengenai kondisi kawasan sekaligus mendeteksi secara dini berbagai potensi ancaman, seperti titik api, pembukaan lahan, perambahan, pembalakan liar, maupun gangguan lainnya.
Tetapi tujuan patroli bukan semata-mata menemukan pelanggaran. Lebih jauh, kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kawasan secara aktual, memastikan batas tetap terjaga, memetakan lokasi yang perlu mendapatkan perhatian, serta menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk menentukan langkah pengamanan dan pengelolaan berikutnya.
Ada satu hal penting yang sering luput dari perhatian, yakni untuk mengetahui bahwa sebuah hutan aman, hutan tersebut harus terlebih dahulu dipantau.
Di Balik Drone Ada Anak Muda Dumaring
Yang membuat kegiatan ini berbeda adalah orang-orang yang berada di balik kendali drone tersebut. Igun bukanlah operator drone yang didatangkan dari luar kawasan.
Ia adalah pemuda lokal Dumaring yang sejak awal dipersiapkan untuk memiliki kemampuan menggunakan teknologi drone sebagai bagian dari upaya pemantauan kawasan.
Bersama Iwel, ia menjalankan tugas sebagai bagian dari tim pemantauan LPHD Pangalima Jerrung. Sementara, Zakarias Mogge bertindak sebagai koordinator tim, memastikan kegiatan pemantauan berjalan sesuai rencana dan hasilnya dapat dicatat serta ditindaklanjuti.
Kemampuan mereka dibangun melalui proses pelatihan dan penyegaran yang tidak hanya mengajarkan cara menerbangkan drone, tetapi juga bagaimana menggunakan drone untuk surveillance, deteksi dini ancaman, dan pemetaan.
Baik Igun, Iwel, maupun Mogge telah memiliki sertifikasi sebagai pilot drone dari Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI).
Sertifikat ini diperoleh setelah ketiga pemuda Dumaring tersebut melalui serangkaian pelatihan dan ujian yang dilaksanakan Pengurus APDI Pusat bekerja sama dengan Universitas Mulawarman atas dukungan pembiayaan dari Program Kolaborasi Konservasi Hutan dan Sungai Dumaring.
Dengan demikian, teknologi yang digunakan untuk melihat kawasan dari udara bukan sekadar teknologi yang datang dari luar. Kemampuan tersebut mulai tumbuh di tangan masyarakat lokal.
Ada perubahan penting di sini. Tiga orang pemuda lokal Dumaring yang sebelumnya melihat hutan dari bawah kini memiliki kemampuan untuk melihat bentang kawasan dari udara.
Ia tidak hanya belajar menerbangkan sebuah perangkat, tetapi juga belajar membaca wilayah yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dumaring.
Drone Memberikan Mata dari Langit
Dalam pelatihan yang diberikan, para operator tidak hanya dibekali kemampuan pengoperasian drone secara manual. Mereka belajar mengenai kalibrasi kompas dan IMU, take-off dan landing, navigasi visual, serta prinsip keselamatan penerbangan dan Visual Line of Sight (VLOS).
Untuk kebutuhan pemetaan, mereka juga diperkenalkan dengan penggunaan perangkat lunak, seperti DJI Flight App dan DroneDeploy, untuk menyusun rencana penerbangan berbasis grid, menentukan ketinggian dan pola penerbangan, serta menjalankan misi pemetaan secara otomatis.
Kemampuan tersebut membuat drone dapat digunakan bukan hanya untuk mengambil gambar, tetapi untuk memperoleh data yang dapat dibandingkan dan dimanfaatkan kembali.
Setelah penerbangan selesai, foto dan video udara disimpan dalam database pemantauan LPHD. Data tersebut selanjutnya dapat diproses menjadi informasi spasial menggunakan perangkat, seperti Agisoft Metashape, termasuk untuk menghasilkan orthomosaic, Digital Elevation Model, dan peta yang dapat membantu menggambarkan tutupan lahan, batas kawasan, bukaan lahan, sempadan sungai, maupun infrastruktur.
Dengan begitu, setiap penerbangan meninggalkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar rekaman video. Ia meninggalkan pengetahuan baru mengenai kondisi kawasan.
Apa yang Dilihat Igun dari Udara?
Dalam pemantauan kali ini, cuaca yang cerah mendukung proses pengambilan data visual. Igun dan Iwel menjalankan penerbangan pada area yang telah ditentukan, sementara Zakarias mengoordinasikan pemantauan dari lapangan.
Mereka mengamati kawasan sepanjang jalan akses, batas hutan desa, areal terbuka di sekitar hutan, serta lokasi yang dianggap perlu mendapatkan perhatian.
Dari udara, mereka mencari tanda-tanda yang mungkin menunjukkan adanya perubahan atau gangguan. Namun setelah seluruh pemantauan dilakukan, hasilnya justru cukup sederhana: tidak ditemukan titik api atau tanda-tanda pembakaran. Tidak ditemukan aktivitas pembalakan liar. Tidak ditemukan pembukaan atau perambahan baru. Batas hutan desa juga masih terlihat dalam kondisi utuh.
Beberapa areal terbuka yang sebelumnya merupakan ladang bahkan mulai menunjukkan proses regenerasi alami. Vegetasi perlahan tumbuh kembali. Tidak ada kejadian besar. Dan justru itulah kabar baiknya.
Dalam sistem pemantauan kawasan, tidak ditemukannya ancaman bukan berarti patroli tidak menghasilkan apa-apa. Sebaliknya, hasil tersebut memberikan informasi bahwa berdasarkan pengamatan pada saat kegiatan dilakukan, kawasan berada dalam kondisi relatif aman.
Hasil itu juga menjadi pembanding dengan pemantauan sebelumnya dan menjadi informasi terbaru yang dapat digunakan LPHD Pangalima Jerrung untuk menentukan langkah pengamanan selanjutnya.
Teknologi tidak menggantikan masyarakat. Di sinilah pentingnya memahami patroli drone sebagai pemantauan partisipatif.
Drone memang dapat melihat dari ketinggian. Kamera dapat merekam. Peta dapat menunjukkan perubahan. Tetapi teknologi tidak selalu dapat menjelaskan apa yang dilihatnya.
Sebuah areal terbuka, misalnya, belum tentu merupakan pembukaan baru. Bisa saja merupakan bekas ladang yang sedang mengalami regenerasi alami.
Sebuah jalur yang terlihat dari udara belum tentu merupakan akses baru menuju kawasan. Bisa jadi itu adalah jalan lama yang sudah dikenal masyarakat.
Masyarakat memahami apa yang sedang dilihat oleh mata tersebut. Pengetahuan lokal menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pemantauan.
Itulah mengapa keterlibatan LPHD Pangalima Jerrung menjadi penting. Masyarakat bukan hanya menjadi objek yang menerima informasi mengenai kawasan, tetapi menjadi bagian dari sistem yang mengawasi, mencatat, memahami, dan melaporkan kondisi wilayahnya sendiri.
Setiap temuan dari udara pada akhirnya perlu kembali diperiksa di tapak. Apabila dari udara ditemukan indikasi perubahan atau ancaman, informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang perlu diverifikasi melalui patroli darat. Dari sana, tim dapat memastikan kondisi sebenarnya, mencatat temuan, dan menentukan tindak lanjut bersama.
Sistem ini membangun sebuah rangkaian sederhana namun penting: melihat dari udara, memahami dari tapak, mencatat, melaporkan, dan menindaklanjuti.
Dengan cara tersebut, patroli tidak berhenti pada kegiatan penerbangan drone. Ia menjadi bagian dari sistem pengelolaan kawasan.
Lebih dari Sekadar Menjaga Hutan
Bagi masyarakat Dumaring, manfaat pemantauan juga tidak berhenti pada kemampuan menemukan ancaman. Kehadiran patroli yang dilakukan secara berkala mengirimkan pesan bahwa Hutan Desa Dumaring merupakan kawasan perlindungan yang dijaga dan dimonitor secara aktif.
Hal tersebut diharapkan semakin memperkuat kesadaran masyarakat sekitar sekaligus membangun budaya lapor dini apabila warga menemukan indikasi gangguan terhadap kawasan.
Pada saat yang sama, kemampuan yang dimiliki Igun, Iwel, dan tim pemantauan menjadi aset baru bagi masyarakat. Ada pengetahuan tentang drone. Ada kemampuan pemetaan. Ada kemampuan membaca kondisi kawasan dari udara. Ada kemampuan mengolah data visual. Dan yang paling penting, ada orang-orang lokal yang mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menjaga wilayahnya sendiri.
Inilah salah satu wajah konservasi yang sedang tumbuh di Dumaring. Teknologi digunakan bukan untuk menjauhkan masyarakat dari hutannya, tetapi justru untuk mendekatkan masyarakat pada informasi mengenai kondisi hutannya sendiri.
Menjaga Sebelum Terlambat
Pemantauan tetap perlu dilakukan secara berkala. Kondisi kawasan dapat berubah, musim dapat memengaruhi tingkat risiko, dan ancaman yang tidak terlihat hari ini dapat muncul pada waktu yang berbeda.
Karena itu, hasil pemantauan yang relatif aman bukan alasan untuk menghentikan patroli. Justru sebaliknya. Hutan yang aman harus terus dipantau agar tetap aman.
Ke depan, peningkatan kemampuan operator dalam pengolahan data visual dan pemetaan perlu terus dilakukan. Koordinasi dengan KPH Berau Pantai, Pemerintah Kampung Dumaring, dan pihak terkait lainnya juga menjadi bagian penting untuk memperkuat dukungan teknis dan kelembagaan.
Sebab menjaga hutan bukan pekerjaan yang selesai setelah satu kali patroli. Ia adalah pekerjaan yang membutuhkan kehadiran berulang, perhatian yang terus menerus, dan kemampuan untuk melihat perubahan sebelum menjadi masalah.
Hari itu, Igun dan Iwel menerbangkan drone. Mogge mengoordinasikan pemantauan dari lapangan. Mereka tidak menemukan api. Tidak menemukan pembalakan liar. Tidak menemukan perambahan baru. Dan ketika drone akhirnya kembali turun ke tanah, mungkin tidak ada sesuatu yang spektakuler untuk dibawa pulang.
Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih penting. Sebuah kawasan yang telah diperiksa, sebuah kondisi yang telah diketahui, sebuah data yang telah tersimpan, dan sebuah pesan bahwa masyarakat Dumaring hadir untuk menjaga hutannya. Karena pada akhirnya, drone hanyalah mata dari langit. Penjaga sebenarnya tetap berada di tapak. (*/Adv)
