BERAU TERKINI – Wakil Bupati Berau, Gamalis, memantau langsung proses pengujian kualitas udara yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau di Halaman Kantor Bupati Berau, Jumat (18/9/2026) pukul 14.00 WITA.
Langkah ini diambil setelah pekatnya kabut asap kembali mendera wilayah perkotaan sepekan terakhir.
Gamalis mengungkapkan, kondisi udara yang sebelumnya sempat membaik kini mendadak memburuk dan menunjukkan tingkat kepekatan yang mengkhawatirkan.
“Seminggu yang lalu, kalau tidak salah kita masih oke-oke saja. Namun setelah beberapa hari ini pemantauan kawan-kawan DLHK, BPBD, ini kok semakin pekat,” ujarnya.

Hasil uji laboratorium maraton selama 24 jam ini dijadwalkan rampung dan diumumkan pada Sabtu (19/9/2026) paling lambat pukul 16.00 WITA.
Data tersebut akan menjadi acuan penting bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan lanjutan terkait aktivitas masyarakat maupun agenda publik.
Saat ini, alat ukur itu baru mewakili radius empat kilometer di sekitar Kecamatan Tanjung Redeb.
Kecamatan lain seperti Batu Putih juga telah meminta pemasangan perangkat serupa.
“Tadi ada permintaan dari Batu Putih minta agar alat ini juga dipasang di sana. Artinya kalau kita pasang di sini, hanya bisa memantau keterwakilan sampai 4 kilometer,” jelas Gamalis.
Pemerintah daerah mengimbau seluruh masyarakat untuk disiplin mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan serta mengurangi kegiatan non-esensial di luar rumah.
Warga di kawasan hulu juga diminta menghentikan segala bentuk aktivitas pembakaran, termasuk membakar sampah rumah tangga.
Gamalis secara khusus mengingatkan bahaya partikel debu halus PM2.5 yang ukurannya jauh lebih kecil dan berbahaya dibanding PM10, karena dapat langsung menembus saluran paru-paru hingga pembuluh darah.
“PM 2.5 yang kita khawatirkan hari ini, karena PM 2.5 itu di dalam ruangan, beberapa waktu yang lalu kita coba di Bugis dan Tanjung (Redeb) cukup tinggi, pekat,” tuturnya.
Ia menegaskan, seluruh kebijakan penanganan krisis polusi udara ini akan ditempuh secara terukur berdasarkan fakta empiris di lapangan.
“Karena bagaimanapun sesuatu solusi yang akan kita ambil harus by data. Data itulah kita hari ini lakukan,” pungkasnya. (*)
