BERAU TERKINI – Musim kemarau ekstrem yang melanda Kabupaten Berau meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Guna mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Berau telah mengupayakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat penabur garam untuk memicu hujan.
Upaya tersebut melengkapi kerja keras petugas Damkar, BPBD, TNI, Polri, dan perusahaan swasta di lapangan.
Namun, Bupati Berau, Sri Juniarsih, menegaskan, keberhasilan penanganan karhutla sangat bergantung pada kepedulian masyarakat.
“Jangan sampai upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan lintas sektor itu berakhir sia-sia karena masyarakat tidak patuh, karena saat ini cuaca kita sangat ekstrem sekali,” ungkapnya, Rabu (26/8/2026).
Penurunan signifikan titik panas dari 281 menjadi 51 titik menjadi bukti nyata mulai meningkatnya kesadaran warga serta solidnya kerja sama lintas sektor.
Meski begitu, kewaspadaan tidak boleh kendur, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara membakar.
“Segera laporkan apabila menemukan titik api dan bersama-sama kita jaga lingkungan serta wilayah kita aman dari ancaman kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
Mengingat cuaca panas ekstrem diproyeksikan berlanjut hingga Januari 2027, Sri Juniarsih meminta seluruh elemen, termasuk masyarakat di 100 kampung dan 10 kelurahan, untuk terus bersinergi menjaga wilayah Berau tetap aman dan kondusif.
“Termasuk masyarakat yang ada di 100 kampung 10 kelurahan juga untuk dapat melakukan hal yang sama dalam meminimalisasi kebakaran hutan dan lahan ini,” tutupnya. (*)
