BERAU TERKINI – Kampung Labanan Jaya, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, memiliki potensi lahan sawah mencapai 336 hektare. 

Luasan tersebut terdiri dari 268 hektare lahan sawah yang telah tersedia dan tambahan 68 hektare melalui program cetak sawah baru.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini, mengatakan dari total luasan tersebut, sebanyak 118,7 hektare telah dibuka untuk penanaman padi pada musim gadu atau periode Juni-Agustus.

Dari luasan yang ditanami tersebut, sekitar 75 hektare berhasil dipanen. Sementara 11,5 hektare lainnya mengalami gagal panen atau puso akibat kekeringan.

“Dari 75 hektare yang dipanen, rata-rata produktivitasnya mencapai 3,19 ton. Produksi ini mengalami penurunan karena kemarau,” ujar Lita, Kamis (20/8/2026).

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini.

Salah satu varietas yang dipanen secara simbolis merupakan varietas Kolosebo. Menurut Lita, varietas tersebut tergolong padi premium dengan masa panen sekitar 95 hari dan memiliki potensi produksi cukup tinggi.

“Kalau potensinya bisa sampai 8 ton, tetapi karena kekeringan, mungkin sekitar 3,5 ton per hektare. Biasanya Labanan Jaya bisa mencapai 4,5 ton per hektare,” jelasnya.

Meski produksi menurun, Lita menyebut capaian tersebut tetap patut disyukuri mengingat berbagai keterbatasan yang dihadapi petani di Labanan Jaya.

Salah satu persoalan utama adalah semakin berkurangnya tenaga petani. Sebagian besar petani saat ini mulai berusia lanjut, sementara generasi muda dinilai masih minim minat untuk melanjutkan profesi sebagai petani.

“Kaum muda hampir tidak mau menjadi petani. Itu salah satu masalah kita,” katanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, DTPHP Berau mendorong keterlibatan masyarakat dari berbagai wilayah.

Tidak hanya petani Labanan Jaya, penyuluh pertanian, Babinsa, hingga pegawai DTPHP juga turut mengembangkan lahan sawah di kawasan tersebut.

Lita mengatakan masyarakat dari Labanan Jaya, Labanan Makmur, maupun wilayah Tanjung Redeb yang berminat mengembangkan usaha pertanian padi sawah dipersilakan memanfaatkan potensi lahan yang tersedia melalui kerja sama dengan pemerintah kampung.

Selain keterbatasan tenaga kerja, persoalan lain yang perlu segera dibenahi adalah sistem irigasi. 

Lita menyebut saluran primer, sekunder, hingga tersier di Labanan Jaya masih membutuhkan rehabilitasi karena belum mampu mengalirkan air secara optimal ke seluruh petak sawah.

“Masih ada petak-petak sawah tertentu yang tidak bisa dialiri air karena salurannya masih banyak yang perlu dibenahi. Kita berharap sampai petak paling ujung bisa teraliri air, sehingga tidak ada lagi gagal panen,” ujarnya.

Untuk mendukung produktivitas petani, sejumlah alat dan mesin pertanian juga telah tersedia, sebagian besar melalui bantuan Kementerian Pertanian. 

Namun, Lita menyebut Labanan Jaya masih kekurangan alat panen dan mesin pengering gabah.

Kondisi tersebut membuat proses panen masih dilakukan secara manual. Bahkan, keterbatasan tenaga panen berpotensi menyebabkan padi yang sudah matang terlambat dipanen dan akhirnya rontok di lahan.

“Kami sudah mengusulkan ke Kementerian Pertanian dan dijanjikan Kabupaten Berau mendapatkan dua unit combine harvester. Kalau terealisasi, kami berharap salah satunya bisa dialokasikan ke Labanan Jaya,” ungkapnya.

Selain alat panen, keberadaan mesin pengering juga dinilai penting untuk menjaga kualitas hasil produksi hingga menjadi beras.

Lita juga berharap hasil produksi petani Labanan Jaya nantinya dapat terserap secara optimal oleh Bulog dengan harga sesuai ketentuan pemerintah. 

Menurutnya, kepastian penyerapan menjadi bagian penting dalam mendorong petani agar terus meningkatkan produksi.

Sementara itu, menghadapi musim tanam rendengan yang biasanya dimulai September-Oktober, DTPHP Berau masih mempertimbangkan kondisi cuaca. 

Berdasarkan prediksi cuaca yang disampaikan, hujan diperkirakan baru mulai turun pada awal hingga pertengahan Oktober.

Karena itu, waktu tanam berpotensi mengalami penundaan untuk menghindari risiko kekeringan dan gagal panen kembali.

“Kita lihat kondisi di lapangan. Kita berharap tidak ada kegagalan panen lagi pada musim tanam berikutnya,” pungkas Lita. (*)