BERAU TERKINI – Nasib prihatin melanda para guru honorer yang bertugas di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) Kabupaten Berau. 

Di tengah tingginya harga kebutuhan pokok dan lonjakan biaya transportasi imbas kenaikan BBM, Tambahan Penghasilan (Tamsil) yang menjadi penopang hidup mereka dilaporkan macet sejak Juni 2026.

Salah seorang guru honorer di wilayah pedalaman yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, gaji pokok sekitar Rp1 juta per bulan tidak lagi mencukupi untuk bertahan hidup. 

Besaran tamsil senilai Rp1,25 juta per bulan yang diandalkan pun kerap terlambat dibayarkan hingga berbulan-bulan.

“BBM naik, apa-apa semua mahal, sedangkan kami yang ngajar di pedalaman 3T ini bukan asli dari wilayah tersebut. Terus kayak apa kami mau makan, enggak ada sama sekali kami pendapatan,” keluhnya kepada Berauterkini, Selasa (11/8/2026).

Tingginya harga logistik di daerah pelosok kian mencekik. Untuk membeli sekaleng sarden saja harganya bisa mencapai Rp40 ribu, sementara mi instan dibanderol Rp5 ribu per bungkus. 

Jika harus berbelanja ke kawasan kota Tanjung Redeb, ongkos transportasi yang dikeluarkan justru membengkak.

Ia memertanyakan kejelasan konsep Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) yang sempat digagas Pemkab Berau sejak Januari lalu. 

Para tenaga pendidik berharap skema tersebut dapat segera diterapkan agar kesejahteraan guru di pedalaman meningkat setara Upah Minimum Kabupaten (UMK) Berau.

“Kasihannya itu kami yang di pedalaman atau pesisir memerlukan betul, kalau cuma sejuta aja kayak enggak ada nilainya. Sedangkan kalau kita kerja ini pasti mikir jenjang untuk karir dan juga untuk nabung pendapatan,” jelasnya.

“Enggak usah muluk-muluk lah misalnya dia bisa gaji kami UMR itu sudah bersyukur,” lanjutnya.

Ia mengingatkan, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan serius dari dinas terkait, dikhawatirkan akan timbul gelombang pengunduran diri tenaga pendidik di wilayah 3T. 

Hal tersebut tentu berdampak buruk bagi akses pendidikan anak-anak di pedalaman.

“Tamsil kadang lewat dua bulan, kadang sebulan itu pun telat. Ini dari Juni enggak keluar. Tamsil itu satu bulan dia dapat cuma Rp1,250 juta, enggak cukup sama sekali,” pungkasnya. (*)