BERAU TERKINI – Peringatan HUT ke-81 RI di Kabupaten Berau menghadirkan dinamika tersendiri, khususnya terkait kepastian waktu pengibaran dan penurunan bendera pusaka pada 17 Agustus mendatang.
Berbeda dari regulasi pemerintah pusat yang biasanya menjadwalkan pengibaran pada pukul 10.00 WIB dan penurunan pukul 17.00 WIB, Pemkab Berau memilih mekanisme yang lebih adaptif.
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Berau menegaskan, penentuan jam pelaksanaan upacara tidak terikat kaku pada jadwal pusat.
Langkah tersebut akan diputuskan melalui rapat koordinasi serta kesepakatan bersama seluruh elemen pemerintah daerah.
“Biasa kita tidak terpaku juga sih ya. Biasanya ini kesepakatan dari pemerintah daerah saja,” ujar Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa Badan Kesbangpol Berau, Emy Lestari, kepada Berauterkini.

Pendekatan fleksibel ini telah menjadi tradisi yang berulang dari tahun ke tahun.
Pelaksanaan upacara disesuaikan dengan kebiasaan daerah tanpa mengabaikan kekhidmatan prosesi pendukung lainnya, seperti pembunyian sirene dan ziarah ke makam pahlawan.
Meskipun memiliki kelonggaran terkait waktu pelaksanaan, Kesbangpol Berau tetap patuh pada regulasi pusat dalam penentuan petugas inti upacara.
Penunjukan pembawa baki, pembentang bendera, penarik bendera, hingga komandan kelompok serta peleton dilakukan secara mendadak pada hari H.
Sistem ini menuntut seluruh anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) memiliki kesiapan merata di setiap posisi.
“Dalam keseharian mereka itu dites juga, diajarkan semua. Jadi semua harus bisa, dan pada saat nanti ditunjuk mereka sudah siap,” ungkap Emy.
Proses pemantapan formasi 17-8-45 juga melibatkan sinergi erat dengan personel TNI dan Polri.
Latihan gabungan tersebut dijadwalkan berlangsung intensif sejak 8-15 Agustus untuk mematangkan kesiapan seluruh pasukan.
“Kita juga seperti biasa melibatkan dari TNI, dari Polri untuk melengkapi pasukan,” tuturnya.
Di balik ketatnya porsi latihan, mentalitas menjadi tolok ukur utama bagi pelatih dalam menentukan kandidat penugas inti.
Kekuatan mental dianggap sebagai modal dasar mendasar agar para anggota mampu menyelesaikan tugas berisiko tinggi tersebut dengan sempurna, melengkapi penilaian dari segi kecakapan teknis dan postur tubuh.
Para anggota yang tersaring saat ini merupakan calon terbaik yang telah berhasil menyisihkan 227 pendaftar awal.
Dari total 35 peserta yang terdiri atas 18 putri dan 17 putra, pelatih akan melakukan seleksi akhir secara ketat.
“Dari 18 putri dan 17 putra mereka dilatih satu-satu, yang terbaik lah nanti yang menjadi pembaki. Begitu juga dengan pengibar dan penurun itu sama,” jelas Emy.
Penetapan figur terbaik di antara jajaran peserta yang sudah tangguh ini menjadi kunci utama kesuksesan pengibaran sang saka merah putih.
“Untuk petugas itu akan lebih dipilih lagi oleh pelatih,” pungkasnya. (*)
