BERAU TERKINI – DPUPR Berau menyebut insiden turap Tepian Ahmad Yani disenggol kapal kargo sudah tiga kali terjadi.

Insiden kapal logistik yang diduga menyenggol turap di Jalan Ahmad Yani, Tanjung Redeb, Minggu (2/8/2026) pagi, diperkirakan menjadi yang ketiga kalinya.

Sebelumnya, di lokasi tersebut juga disenggol kapal logistik hingga dilakukan perbaikan dengan waktu beberapa minggu.

“Setahuku sudah tiga kali,” kata Kabid Sumber Daya Air DPUPR Berau, Hendra Pranata.

Ia juga mengatakan, titik senggolan kali ini, bahkan berada tidak jauh dari lokasi insiden-insiden sebelumnya. “Beda jaraknya hanya beberapa meter saja,” ujarnya.

Hendra menjelaskan, berdasarkan pengalaman dari kasus sebelumnya, tanggung jawab perbaikan turap dibebankan kepada perusahaan pemilik kapal yang menyebabkan kerusakan.

“Skemanya, mereka yang mengganti dengan melakukan perbaikan sampai kondisi turap kembali seperti semula,” jelasnya.

Meski demikian, DPUPR belum dapat memastikan tingkat kerusakan akibat insiden terbaru tersebut.

Namun, pihaknya masih melakukan investigasi lapangan, untuk mengetahui apakah benturan kapal menyebabkan kerusakan pada struktur turap atau hanya berdampak pada bagian luar.

Selain melakukan pemeriksaan, DPUPR Berau juga akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait, termasuk Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) selaku syahbandar, pengelola kepelabuhanan, serta pemilik kapal.

“Kami belum bisa mengambil kesimpulan. Pasti akan ada koordinasi lebih lanjut terkait hal ini. Untuk saat ini kami fokus pada investigasi lapangan terlebih dahulu, apakah ada kerusakan struktur atau tidak,” ujarnya.

Kondisi turap Tepian Ahmad Yani, Tanjung Redeb, Berau usai terserempet oleh kapal logistik (Ist)
Kondisi turap Tepian Ahmad Yani, Tanjung Redeb, Berau usai terserempet oleh kapal logistik (Ist)

Sebelumnya diberitakan, Kabid Sumber Daya Air DPUPR Berau, Hendra Pranata, mengatakan pihaknya menemukan sejumlah bagian turap mengalami kerusakan.

Di antaranya papan turap yang terlepas dan hancur, serta dinding beton yang pecah hingga memperlihatkan tulangan besi.

“Kondisinya sekarang ada juga papan turap yang lepas-lepas dan hancur. Apakah karena senggolan kapal itu, atau memang sudah seperti ini sebelum kejadian, masih kami dalami,” ujarnya.

Berdasarkan pengamatan sementara, kerusakan pada dinding beton diduga disebabkan benturan badan kapal saat insiden terjadi. Meski demikian, DPUPR belum dapat memastikan sejauh mana dampak benturan terhadap kekuatan struktur turap.

Untuk mendukung proses pemeriksaan, tim juga melakukan pengambilan dokumentasi menggunakan drone. Selanjutnya, investigasi akan dilakukan bersama tim ahli guna memastikan tingkat kerusakan yang sebenarnya.

“Mungkin sudah kena tulangannya. Tadi kami juga ambil gambar pakai drone. Nanti akan investigasi lagi bersama tim ahli, apakah dampak benturan itu parah atau bagaimana,” jelas Hendra.

Ia menegaskan, hingga saat ini DPUPR belum dapat menyimpulkan tingkat kerusakan karena masih menunggu hasil kajian teknis dari tim ahli.

Meski begitu, Hendra menilai kerusakan pada bagian keramik dan papan atas turap perlu segera diperbaiki agar tidak mengganggu estetika kawasan tepian.

“Kalau yang saya lihat, kerusakan strukturnya masih tergolong minor. Memang ada dinding beton yang lecet dan pecah, semoga tidak berdampak pada struktur bangunannya,” pungkasnya.