BERAU TERKINI – Keindahan alam Pulau Derawan dan Maratua, Kabupaten Berau, kini tidak hanya dapat dinikmati melalui panorama lautnya, tetapi juga dituangkan dalam karya seni dan budaya.
Ikatan Pencinta Batik Nusantara (IPBN) resmi meluncurkan tiga motif perdana Batik Derawan Maratua serta memperkenalkan kembali Tari Dalling dalam kemasan yang lebih modern sebagai upaya memperkuat identitas budaya pesisir Kabupaten Berau.
Peluncuran tersebut menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya yang memadukan tradisi, kreativitas, dan teknologi agar semakin dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.
Pada tahap awal, IPBN memperkenalkan tiga motif utama Batik Derawan Maratua yang masing-masing mengangkat kekayaan alam khas Kepulauan Derawan.

Motif pertama, Bokko’ Lumangi, terinspirasi dari Penyu Derawan yang menjadi simbol keseimbangan antara ambisi dan akar kehidupan.
Gerak sirip penyu dimaknai sebagai ketangguhan dalam menghadapi tantangan tanpa kehilangan arah, sekaligus mengajarkan pentingnya menjunjung nilai, adab, dan jati diri dalam meraih keberhasilan.
Motif kedua, Buung Embal Naban, mengangkat keunikan ubur-ubur tidak menyengat dari Pulau Kakaban.
Desain bergaya geometris dengan garis radial, ujung membulat, serta elemen berbentuk hati melambangkan kelembutan, harmoni, dan ekosistem yang aman bagi manusia.
Sentuhan warna keemasan mempertegas keunikan habitat langka yang menjadi kebanggaan Indonesia.
Sementara itu, Motif Goyak menggambarkan dinamika laut Derawan melalui susunan garis lengkung yang menyerupai gelombang.
Detail titik-titik kecil di dalamnya melambangkan buih air serta kekayaan biota bawah laut yang tersembunyi.
Dominasi warna biru dan putih menghadirkan kesan segar sekaligus menjadi simbol kesinambungan kehidupan laut tropis.
Selain memperkenalkan batik, IPBN juga meluncurkan kembali Tari Dalling, salah satu warisan budaya masyarakat Suku Bajau yang telah lama hidup dan berkembang di Kepulauan Derawan dan Maratua.
Dalam pengembangannya, Tari Dalling dihadirkan dengan pendekatan yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional.
Pembaruan dilakukan melalui penyempurnaan koreografi, aransemen musik yang lebih dinamis, tata busana yang tetap merepresentasikan identitas lokal, hingga pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi.
Berbagai aktivasi juga telah disiapkan, mulai dari Dalling TikTok Trends, pertunjukan budaya, hingga kegiatan edukasi.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkenalkan Tari Dalling kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus menjadikannya sebagai budaya yang dekat dengan generasi muda.
Ketua IPBN, Ayu Dyah Pasha, menegaskan, pelestarian budaya harus mampu mengikuti perkembangan zaman agar tetap relevan.
“Generasi muda harus menjadi pelaku utama pelestarian budaya. Karena itu, kami menggabungkan tradisi dengan kreativitas, teknologi digital, dan ekonomi kreatif agar budaya Derawan dan Maratua dapat dikenal lebih luas, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia,” ujarnya.
Senada dengan itu, Penasehat Project, Tuty Kusumawati, menilai pengembangan budaya perlu menjadi bagian dari pembangunan daerah seiring besarnya potensi pariwisata yang dimiliki Berau.
“Derawan dan Maratua telah dikenal sebagai salah satu surga bahari Indonesia. Kini saatnya kekayaan budaya masyarakatnya memperoleh panggung yang sama,” ujar Tuty.
“Melalui batik dan Tari Dalling, kami ingin menghadirkan identitas budaya yang kuat, membanggakan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal,” imbuhnya.
Melalui peluncuran ini, IPBN berharap Batik Derawan Maratua dan Tari Dalling tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya.
Tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, memperkuat citra budaya Kalimantan Timur, serta membawa nama Berau semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional. (*)
