BERAU TERKINI – Berawal dari modal Rp500 ribu dan peralatan sederhana, Batik Mosho kini menjelma menjadi salah satu UMKM batik unggulan di Kabupaten Berau. 

Tak hanya berhasil meningkatkan kapasitas produksi dan omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan, usaha ini juga melahirkan puluhan pembatik baru melalui program pendampingan PT Berau Coal.

Pemilik Batik Mosho, Muhammad Shodiq, menceritakan perjalanan usahanya dimulai pada 2018 setelah meraih Juara II Lomba Cipta Motif Batik Kabupaten Berau. 

Lulusan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung itu kemudian memberanikan diri membangun usaha batik khas Berau dengan modal seadanya.

Salah satu karya andalannya adalah motif Penyu Pandurata yang mengangkat penyu sebagai ikon Berau dan anggrek hitam (Pandurata) sebagai flora khas Kalimantan Timur.

WhatsApp Image 2026 07 29 at 15.56.52 2

Perkembangan Batik Mosho mulai semakin pesat sejak mendapat pendampingan PT Berau Coal pada 2021.

Perusahaan tidak hanya memberikan bantuan alat cap batik dan bak pencelupan kain untuk mempercepat proses produksi, tetapi juga mendukung perluasan pemasaran melalui Rumah Kemas Batiwakkal serta memfasilitasi keikutsertaan dalam berbagai pameran.

“Setelah mendapatkan pendampingan, produksi kami menjadi lebih cepat dan penjualan terus meningkat. Kami juga sering diberi kesempatan mengikuti pameran sebagai salah satu cara mengenalkan batik khas Berau kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Shodiq.

Pendampingan tersebut kemudian berkembang menjadi program pelatihan membatik di kampung-kampung binaan PT Berau Coal.

Bersama Shodiq sebagai mitra pelatih, pelatihan telah dilaksanakan di enam kampung dan kelurahan, yakni Gunung Panjang, Rinding, Teluk Bayur, Maluang, Labanan Jaya, hingga Labanan Makarti.

Program ini tak sekadar mengajarkan keterampilan membatik, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Sejumlah peserta pelatihan kini menjadi pembatik yang terlibat dalam proses produksi Batik Mosho.

Saat ini, Batik Mosho mempekerjakan lima karyawan tetap dan mampu menyerap hingga 25 tenaga kerja borongan ketika permintaan meningkat.

Mayoritas merupakan pembatik hasil pelatihan di kampung-kampung binaan.

Community Development Manager PT Berau Coal, Reza Hermawan, mengatakan pengembangan UMKM menjadi salah satu komitmen perusahaan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Kami ingin UMKM di Kabupaten Berau tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang. Karena itu, pendampingan yang kami berikan tidak hanya berupa bantuan sarana, tetapi juga pelatihan, promosi, dan membuka peluang agar produknya semakin dikenal. Batik Mosho menjadi salah satu contoh UMKM yang berhasil berkembang melalui proses tersebut,” ujarnya.

Pendampingan yang dilakukan juga berbuah prestasi. Batik Mosho berhasil meraih Juara I Dekranasda Kalimantan Timur Award pada 2021, Juara III pada 2022, dan hingga 2024 konsisten menjadi salah satu pemenang.

Pada 2025, Batik Mosho kembali menorehkan prestasi dengan meraih Juara I Kategori Fashion pada ajang Tjipta UMKM.

Kini usaha tersebut mampu membukukan omzet antara Rp30-60 juta per bulan dengan kebutuhan modal produksi sekitar Rp15 juta setiap bulan.

Shodiq mengaku pencapaian tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, khususnya PT Berau Coal yang mendampinginya sejak awal mengembangkan usaha.

“Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung UMKM untuk terus berkembang, khususnya PT Berau Coal yang telah mendampingi kami sejak awal merintis usaha hingga batik kami semakin dikenal. Harapannya, pendampingan ini terus berlanjut agar kami bisa terus naik kelas dan semakin banyak masyarakat yang menggunakan batik khas Berau,” tutupnya. (*/Adv)