BERAU TERKINI – Manajemen PT Prima Sarana Gemilang (PSG) memberikan penjelasan resmi terkait insiden kecelakaan kerja yang melibatkan salah satu unit alat berat di wilayah operasional korporasi.

Peristiwa tersebut dikonfirmasi terjadi di kawasan operasional tambang PT PSG Site Sambarata.

Safety, Health, and Environment (SHE) Supervisor PT PSG, Saparni, menyatakan, peristiwa tersebut menimpa sebuah unit Heavy Dump (HD) kelas 465 berkapasitas muatan 50 ton.

Peristiwa itu terdata terjadi pada Senin (13/7/2026) malam tepatnya pukul 20.12 WITA di area pit Puri.

Meskipun melibatkan kerusakan pada fasilitas kerja atau unit operasional, Saparni menegaskan aspek keselamatan kru operasional tetap terjaga. 

SHE Supervisor PT PSG, Saparni.
SHE Supervisor PT PSG, Saparni.

Sesaat setelah insiden dilaporkan, tim tanggap darurat internal langsung diterjunkan menuju titik lokasi kejadian.

“Untuk kondisi orangnya, alhamdulillah aman. 100 persen aman. Kebetulan tim paramedik dan tim rescue kami tadi malam langsung melakukan evakuasi serta pemeriksaan pada korban. Dinyatakan dari hasil pemeriksaan tersebut 100 persen korban tidak mengalami cedera, luka-luka, dan lain-lain,” ungkap Saparni, Selasa (14/7/2026).

Saparni juga menyangkal dugaan awal adanya indikasi kelalaian manusia akibat kelelahan ataupun kantuk yang dialami pekerja. 

Berdasarkan pemeriksaan berkala dan pantauan visual awal, kru operasional atau operator yang bertugas pada regu malam tersebut dipastikan memulai tugas dalam keadaan bugar. 

“Yang bersangkutan secara umum kondisi jasmaninya masih aman dan sehat,” jelasnya.

Hingga saat ini, pihak departemen SHE PT PSG masih mendalami latar belakang utama yang memicu terjadinya kecelakaan kerja tersebut. 

Tim investigasi internal dilaporkan terus berada di lokasi kejadian untuk menghimpun data teknis lapangan. 

Manajemen menyatakan belum dapat mengambil kesimpulan final sebelum hasil kajian komparatif selesai dirumuskan.

“Kami dan tim yang ada di site masih melakukan analisa di lokasi kejadian. Saat ini kami belum bisa memberikan hasil rangkuman kesimpulan apakah ini mutlak kesalahan manusia, faktor lokasi, ataupun kendala pada peralatan teknis. Semua masih melalui tahapan proses investigasi,” urai Saparni.

Langkah pendalaman kasus ini sengaja diambil secara menyeluruh sebagai bagian dari komitmen penegakan regulasi K3 di lingkungan internal perusahaan. 

Pihak manajemen menargetkan perolehan data primer yang valid agar proses perbaikan standardisasi kerja ke depan dapat diimplementasikan dengan tepat.

“Tim kami sedang mengolah data dan fakta di TKP, supaya dalam proses investigasi ini kami betul-betul mendapatkan hasil yang menyentuh akar dari permasalahan. Tujuannya tentu jelas, supaya ke depannya kejadian serupa tidak terulang kembali di area kerja kami,” pungkasnya. (*)