BERAU TERKINI – UEFA disebut mendukung tokoh oposisi jelang pemilihan Presiden FIFA mendatang.

Presiden FIFA Gianni Infantino dipastikan akan kembali mengikuti pemilihan Presiden FIFA pada 2027 mendatang.

Diketahui Gianni Infantino merupakan Presiden FIFA petahana yang sudah menjabat selama dua periode.

Aturan internal FIFA membolehkan jabatan Presiden FIFA dijabat selama tiga periode.

Laporan dari Eropa menyebut, UEFA kini tengah mempertimbangkan mendukung tokoh oposisi untuk melawan Gianni Infantino di pemilihan Presiden FIFA mendatang.

“UEFA mendukung kandidat oposisi untuk melawan Gianni Infantino di pemilihan presiden FIFA berikutnya,” tulis laporan jurnalis Ben Jacobs lewat akun X @JacobsBen

“Nama yang didukung bukanlah Presiden UEFA Aleksander Ceferin atau Nasser Al-Khelaifi, namun Dariusz Mioduski pemilik klub Legia Warsawa sekaligus Komite Eksekutif Persatuan Klub Sepakbola Eropa,” tambahnya.

Meski demikian, upaya UEFA untuk menggalang dukungan mengalahkan Gianni Infantino di pemilihan presiden mendatang bakal mendapat penolakan dari konfederasi sepak bola lainnya.

Sebab Gianni Infantino mendukung format Piala Dunia menjadi 64 tim yang akan menguntungkan bagi CAF, CONCACAF, hingga AFC.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin (uefa.com)
Presiden UEFA Aleksander Ceferin (uefa.com)

Sebelumnya diberitakan, kabar mengejutkan datang dari panggung sepak bola dunia. Presiden FIFA, Gianni Infantino, baru saja melempar wacana yang bikin geleng-geleng kepala.

Piala Dunia 2030 berpeluang mencetak sejarah baru. Bukan lagi 32 atau 48 tim, melainkan 64 tim peserta.

Wacana gila ini diungkapkan Infantino dalam wawancaranya bersama Blue Sport.

Menurutnya, keputusan resmi akan dianalisis dan dibahas oleh badan pengatur FIFA setelah gelaran Piala Dunia 2026 berakhir.

Ketika itu terjadi, tak menutup kemungkinan Timnas Indonesia memiliki peluang untuk tampil di piala dunia selanjutnya.

Gianni Infantino pasang badan terkait ide kontroversial ini. Ia menilai sepak bola harus inklusif untuk seluruh dunia.

“Banyak negara bermimpi tampil di Piala Dunia. Kualitas sepak bola global terus berkembang,” ujar Infantino.

Bagi pria asal Swiss tersebut, menutup pintu bagi negara-negara kecil sama saja dengan mematikan kesempatan mereka untuk berkembang.

Ide ekstrem ini sebenarnya bukan murni dari Gianni Infantino. Usulan awal datang dari Asosiasi Sepak Bola Uruguay pada Maret 2025. Gagasan itu kemudian diadopsi oleh Presiden Conmebol, Alejandro Domínguez.