BERAU TERKINI — Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Berau menjelaskan penyebab belum teraksesnya jaringan internet di beberapa destinasi wisata di Bumi Batiwakkal.
Meski pembenahan digitalisasi terus berjalan, sejumlah titik wisata di Berau diakui masih menghadapi tantangan infrastruktur yang cukup berat.
Sejauh ini, beberapa objek wisata populer seperti Labuan Cermin, Pulau Maratua, dan Pulau Derawan sudah memiliki infrastruktur jaringan internet sendiri.
Sementara itu, destinasi seperti Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki juga telah mendapatkan pancaran sinyal, meskipun terkadang masih sedikit tersendat.
Sebaliknya, wilayah yang hingga kini sama sekali belum terjangkau jaringan internet terkonsentrasi pada tiga titik wisata.
Lokasi-lokasi tersebut meliputi objek wisata Air Terjun Tembalang di Kecamatan Segah, Air Terjun di Kampung Teluk Sumbang, serta salah satu destinasi goa yang berada di Kecamatan Kelay.
Kepala Diskominfo Berau, Didi Rahmadi, menjelaskan, ketiga lokasi tersebut belum bisa terjangkau sinyal internet karena aksesnya yang sulit dan diperparah belum adanya listrik dari PLN.
Secara teknis, opsi pemasangan perangkat pemancar internet sebenarnya bisa menyiasati kendala itu dengan memanfaatkan sumber energi panel surya (solar cell).
Namun, karena lokasi-lokasi wisata tersebut belum memiliki penduduk yang menetap, pemerintah daerah khawatir aset tersebut rawan rusak jika dibiarkan tanpa pengawasan.
“Kita khawatirkan nanti karena tidak ada perawatan akan cepat terjadi kerusakan, makanya dari sisi teknis belum dapat kita pasang jaringan internet,” ungkap Didi kepada Berauterkini, Rabu (10/6/2026).
Terkait keluhan masyarakat dan pelancong soal buruknya jaringan di wilayah pesisir, Didi menjelaskan ketersediaan jaringan sebenarnya masih sangat memadai jika merujuk pada hasil verifikasi tim Telkomsel.
Kapasitas internet yang terpasang di area pesisir dilaporkan baru terpakai sekitar 76 persen dari total daya tampung.
Masalah utamanya terletak pada faktor eksternal, di mana ketika kondisi cuaca sedang kurang bersahabat, sinyal seluler sering kali mendadak hilang.
Sebagai contoh, kestabilan sinyal di Pulau Maratua sejauh ini sangat bergantung pada pasokan pancaran gelombang mikro dari Pulau Derawan.
Kondisi ini membuat jaringan internet di Pulau Maratua otomatis ikut terhambat apabila cuaca di tengah laut sekitar Pulau Derawan sedang memburuk, meskipun langit di atas Pulau Maratua terpantau sedang cerah.
“Sinyal itu ngambil dari Derawan, kalau misalnya di Maratua cerah tapi di Derawan di tengah lautnya itu tidak bagus cuacanya, jaringan juga akan sering menjadi terhambat,” jelasnya.
Performa internet di Pulau Derawan sendiri ternyata juga sangat bergantung pada stabilitas arus energi di Kampung Tanjung Batu.
Ketika pasokan listrik di Tanjung Batu mengalami pemadaman, sistem pemancar internet ke pulau-pulau wisata di sekitarnya dipastikan akan ikut terganggu.
Didi menambahkan, kapasitas bandwidth untuk pesisir saat ini memang belum terlalu kuat karena baru menyentuh angka sekitar 30 Mbps.
Namun, pihaknya menegaskan, di luar tiga titik blank spot yang telah disebutkan sebelumnya, seluruh destinasi wisata lain di Berau sudah menerima jaringan internet dengan baik.
Sebagai langkah perluasan jangkauan ke depan, wilayah baru yang masuk dalam daftar antrean pemasangan infrastruktur internet adalah objek wisata hutan mangrove yang terletak di Kampung Teluk Semanting.
Proses integrasi digital di lokasi ekowisata tersebut diklaim sudah memasuki tahap akhir dan tinggal menunggu penyambungan instalasi listrik.
“Kalau yang tempat lain Alhamdulillah sudah. Kalau misalnya kemarin yang di Semanting itu yang di Mangrove tinggal memasang listrik saja,” pungkas Didi. (*)
