BERAU TERKINI – Saluran drainase di wilayah perkotaan di Kabupaten Berau mendapatkan sorotan tajam dari publik menyusul sering terjadi genangan saat hujan deras mengguyur dalam waktu lama.

Yang terbaru terjadi pada Jumat (29/5/2026) malam di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Sei Bedungun, Tanjung Redeb. 

Akibat hujan deras yang mengguyur sejak sore hari, area jalan tersebut hingga depan kantor DPRD Berau terjadi genangan yang cukup dalam.

Kondisi ini bukan pertama kali terjadi karena jalanan akan tergenang setiap kali hujan deras mengguyur dalam durasi cukup lama.

WhatsApp Image 2026 05 29 at 22.41.00

Merespons kondisi tersebut, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Berau, Hendra Pranata, mengatakan, penyempitan saluran primer pembuang akibat pertumbuhan gulma menjadi salah satu hambatan utama dalam penanganan banjir di kawasan perkotaan Tanjung Redeb.

Kondisi tersebut menyebabkan aliran air menuju Sungai Segah tidak berjalan optimal saat curah hujan tinggi.

Hendra menyebut saluran di Jalan Gatot Subroto saat ini telah berfungsi dengan baik.

Namun, persoalan masih ditemukan pada saluran primer pembuang yang mengalami penyempitan.

“Kalau untuk fungsi saluran Jalan Gatsu (Gatot Subroto) sudah berfungsi dengan baik. Tinggal menormalisasi dan mengembalikan fungsi saluran primer pembuang ke Sungai Segah. Kalau saluran pembuangnya sudah plong, insya Allah banjir akan berkurang drastis,” ujarnya kepada Berauterkini, Sabtu (30/5/2026)

Menurut Hendra, penyempitan saluran disebabkan pertumbuhan gulma yang menutupi sebagian aliran. 

Kondisi tersebut umum terjadi pada saluran alam terbuka yang berada di sejumlah titik strategis.

Beberapa lokasi yang menjadi perhatian berada di kawasan samping kolam renang, samping Dapur Teras, hingga Sei Tarum. 

Ketiga titik tersebut merupakan bagian dari jalur saluran primer yang berfungsi mengalirkan air menuju Sungai Segah.

“Penyempitan akibat gulma ini memang masalah yang sering terjadi pada saluran alam terbuka,” katanya.

Ia memperkirakan panjang saluran primer yang terdampak gulma mencapai sekitar 700 meter yang tersebar di tiga saluran. 

Meski demikian, angka tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah setelah dilakukan pendataan lebih rinci.

Untuk penanganannya, pembersihan gulma sebelumnya telah dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), termasuk pada saluran di Jalan Gatot Subroto. 

Sementara normalisasi saluran primer saat ini masih dalam tahap perencanaan penganggaran.

Selain penyempitan saluran, Hendra juga menilai berkurangnya kawasan resapan air turut memperburuk kondisi banjir di wilayah perkotaan.

“Dulu tidak pernah banjir, padahal paritnya tidak sebagus sekarang. Karena dulu kawasan resapan yang bagus masih banyak. Sekarang sudah banyak yang dibuka, sehingga limpasan air semakin besar,” pungkasnya. (*)